FF Sacrifice

Cast: Park Hyun Rae (OC, Irene Bernadeth Situmorang)
Shin Hyun Rin (OC, Deena Rosalina a.k.a author *bangga*)
Super Junior member: Donghae, Eunhyuk. Siwon, Yesung, dan Kyuhyun
Serta tokoh tambahan lain sebagai penyedap rasa *ehh~*
Genre: Fantasy, Teen
Rating: Remaja
P.S: POV ini pakai sudut pandang Park Hyun Rae ^^

Pengorbanan.
Semua orang tahu, hidup adalah pengorbanan.
Saat aku lahir, kedua orangtuaku tahu. Akulah yang dipilih. Akulah yang dikorbankan.
Saat aku beranjak dewasa, aku mulai memahami kata ‘sacrifice’ yang sering diucapkan oleh kedua orangtuaku. Tapi, aku tidak tahu kenapa mereka terus-terusan mengucapkannya sambil menatapku dengan tatapan… kasihan.
Dan sekarang, di usiaku sekarang ini. Aku paham. Aku sangat paham. Aku akan mengorbankan diriku untuk kedua orangtuaku, keluargaku, dan juga semua orang di tempatku.
Tidak ada pilihan lain.
Tentu saja, apa aku punya pilihan?
Kugelengkan kepalaku. Tentu saja aku tidak punya. Hanya ada satu kewajiban dan aku harus mematuhinya.
Tapi sekalipun begitu, aku selalu berharap. Di dalam hatiku ini selalu ada pengharapan. Bahwa nantinya akan ada seseorang yang muncul dihadapanku sebelum aku menjadi korban. Seseorang yang akan menahanku, mencegahku, dan bahkan melawan semua orang yang akan memaksaku menjadi persembahan. Benar. Korban untuk dijadikan persembahan. Itulah aku.
Dan untuk itulah, aku lahir.

Aku lahir di sebuah kota bernama Arctania. Kota kecil di sebuah pulau kecil dengan nama yang sama. Bahkan ibukotanya pun bernama sama. Arctania hanyalah perkampungan kecil. Penduduknya pun dapat dihitung dengan jari. Hanya ada 50 kepala keluarga di sini dan total penduduknya hanya ada 137 jiwa. Kasarnya, hanya ada beberapa keluarga yang memiliki anak lebih dari satu. Sebagian besar penduduknya hanya memiliki satu orang anak dan mereka semua sangat protektif terhadap anaknya.
Kota Arctania tidak punya banyak hasil pertanian. Kami lebih banyak mengandalkan sektor hewaniah dan beberapa jenis tumbuhan. Setiap ayah memiliki tugas berburu dan ibu memiliki tugas untuk memasak dan melakukan kegiatan rumah tangga. Begitu terus, selama bertahun-tahun. Apa boleh buat, kami tidak punya cara lain untuk bertahan hidup. Kami bahkan tidak tahu apakah di luar pulau kami ini terdapat wilayah lain yang lebih makmur, sehingga kami bisa melakukan barter atau apalah. Jujur saja, aku bosan makan dengan menu yang itu-itu saja. Hanya ada satu pulau yang terhubung dengan Arctania dan pulau itu jauh lebih parah dari Arctania.
Pulau itu bernama Neoarctania. Dinamakan begitu karena pulau itu lebih kecil dibandingkan Arctania. Pulau itu bukan apa-apa dibanding Arctania, percaya deh. Hanya ada hutan bakau dan satu kastil besar. Itu saja. Yah, itulah yang dikatakan para tetua. Aku tidak pernah diizinkan untuk pergi ke sana. Tidak satu wanita pun yang diizinkan untuk pergi ke sana. Para pria hanya pergi ke sana sebentar. Ada mungkin saat matahari meninggi dan matahari akan terbenam. Tidak pernah lama, dan tidak akan pernah bisa. Sebab menurut cerita-cerita kuno, apabila kau ke sana dan tidak pulang hingga malam menjelang, kau akan terjebak selamanya di sana. Sebab begitu malam menjelang, air laut mulai pasang dan menggenangi pulau itu. Mengakibatkan pulau itu benar-benar terisolasi dengan Arctania. Kau akan ketakutan di sana, tidak ada yang bisa menolongmu. Dan saat orang sadar bahwa kau hilang, saat itu kau ditemukan tidak bernyawa. Dengan mata melotot tanda ketakutan dan suara habis karena terlalu banyak berteriak.
Hanya saja, di Arctania ini sering ada ritual aneh. Pada hari menjelang bulan purnama (bulannya berwarna merah, seperti darah), setelah terdengar bunyi lonceng sebanyak tujuh kali dari kastil di Neoarctania, saat itulah sang tetua mulai memanggil seorang gadis. Gadis muda yang seumuran denganku yang sekarang. Gadis yang memakai pakaian yang sangat indah, namun raut wajahnya tidak menampakkan kebahagiaan. Gadis itu menangis, memohon kepada orangtuanya. Dia tidak ingin pergi, aku yakin itu. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Kedua orangtuanya hanya menatapnya sendu, seperti merasa tidak rela juga untuk melepas anak gadisnya. Tapi apa daya? Tangan-tangan pria yang lain, yang lebih kuat, menarik gadis itu memasuki sebuah kereta yang indah dan ditarik dengan kuda. Memaksanya masuk, kemudian mengunci semua jeritan gadis itu agar tidak terdengar hingga keluar kereta. Kemudian sang tetua mengangguk dan kereta itu berjalan lurus, meninggalkan garis pantai Arctania menuju pulau Neoarctania.
Itu kisah saat aku berusia lima tahun. Dan entah kenapa terus terkenang dalam pikiranku, bahkan muncul dalam mimpi-mimpiku. Tapi bedanya, dalam mimpiku, yang menjadi gadis itu adalah aku. Dan aku jadi paranoid sendiri, apa aku akan mati? Apa aku akan dikirim untuk mati ke Neoarctania? Aku sudah merasa tidak enak sejak orangtuaku mulai sering bisik-bisik dibelakangku saat usiaku 13 tahun. Aku yakin sekali bahwa mereka sedang membicarakan aku. Bagaimana tidak? Mereka kan membahas soal tato di bahuku! Tato aneh yang tidak bisa hilang, kata orangtuaku sih itu tanda lahir. Tapi mana ada coba tanda lahir berbentuk uliran-uliran aneh bin rumit begitu? Aku sendiri tidak paham seperti apa bentuknya. Seperti simetris namun juga indah. Berbentuk segi tujuh dan ditengahnya ada segitiga dengan bunga mawar yang menjadi pusatnya. Sudahlah, aku malas membahas soal tato itu.
Aku kembali menatap Neoarctania. Kastil yang hanya ada satu. Entah kenapa kastil itu ada dan dibangun. Aku heran, memangnya ada yang tinggal di sana? Sendirian? Ya ampun, mengerikan banget tinggal sendiri di tempat seperti itu. Kalau aku, biar diberi uang Recche sebanyak apapun, sekalipun itu bisa buat beli baju bagus atau mata panah yang baru, aku tidak akan sudi menjejakkan kakiku ke sana.
Ah, hampir lupa. Ngomong-ngomong soal kastil itu, tiba-tiba aku teringat pada seseorang yang tinggal di sana. Ya, aku pernah melihat penghuninya dan aku tidak pernah memberitahukannya kepada siapapun. Jadi ceritanya, Park In Ha, sahabatku memberiku 300 koin Recche (banyak banget tau untuk ukuran anak usia 7 tahun!) asal aku mau menemaninya main hide and seek di pulau itu. Percayalah, untuk ukuran anak usia 7 tahun, In Ha itu keterlaluan banget rasa ingin tahunya. Semakin dilarang, dia malahan semakin penasaran. Dan saat aku bersembunyi di balik pepohonan, tiba-tiba aku melihatnya. Aku melihat seorang pemuda, pemuda tampan dengan jas hitam dan kemeja putih. Wajahnya putih pucat, seputih kertas dan dia mengamatiku. Beneran lho, dia liatin aku dari atas ke bawah. Tapi dia nggak bergerak, nggak ngomong, bahkan nggak menggerakkan anggota tubuhnya. Dia hanya diam, seperti patung. Dan awalnya aku mengira dia patung, sampai saat aku mengalihkan pandanganku begitu mendengar suara In Ha, tiba-tiba dia sudah tidak ada di tempat awalnya! Bulu kudukku meremang, kemudian begitu In Ha muncul, aku langsung memohon-mohon padanya untuk meninggalkan tempat itu. Dan saat meninggalkan Neoarctania, aku merasakan hawa dingin dibelakangku. Seperti ada sepasang mata tajam yang mengawasiku. Dan saat pelan-pelan kuputar kepalaku, aku melihat pemuda itu lagi! Dia berdiri di samping pohon akasia dan masih menatapku. Dan saat itu juga, aku memalingkan pandanganku. Aku diawasi… ya ampun, jangan lihat aku. Tatapan itu menakutiku…
“Park Hyun Rae!” panggil salah seorang cowok bernama Eunhyuk. Dia adalah anak tetua yang amat dihormati dan aku lumayan dekat dengannya. Dia tipe cowok yang lumayan cakep. Dengan rambut pirang yang bercahaya bagai sinar bulan, mata besar, dan senyum-gusinya yang memesona. Oh ya, juga dengan kemampuan menarinya yang hebat banget. Banyak banget cewek yang diam-diam mengidolakannya. Tapi Eunhyuk lebih banyak mengabaikannya. Entah kenapa.
“Apa?” tanyaku. Eunhyuk berjalan mendekatiku dan aku melihat rupanya semakin jelas. Sekarang dia berkulit putih pucat, padahal biasanya agak kecokelatan—efek dari main di pantai mulu sih. Rasanya aku cuman nggak bertemu dia untuk beberapa waktu, tapi… kok kelihatannya dia tambah tinggi ya?
“Kau sudah dengar kabar? Tentang… Dae Young Jin?”
Aku menggeleng. Aku hanya pernah mendengar nama itu. Nama yang sangat terkenal. Tentu saja, sebab dialah gadis yang dibawa ke Neoarctania waktu aku kecil. “Kenapa dengannya?”
“Ayah bilang dia meninggal.”
Aku membelalakkan mataku. “Bagaimana bisa?” dia masih sangat muda! Kalau kuhitung-hitung, dia mungkin masih berusia 30an! “Apa… dia terserang penyakit?”
“Mungkin.”
“’Mungkin?’” ulangku. Aku tidak paham dengan ucapannya barusan. Angin laut kembali menerbangkan rambutku dan aku menyelipkan sedikit ke balik telingaku. “Bisa nggak kamu jelasin dengan bahasa yang sederhana saja?”
Eunhyuk terdiam, dia terus diam sambil menatap laut. Entah apa yang dipikirkannya…

Dan pada malam harinya, apa yang selalu kupertanyakan akhirnya terjawab. Pada tengah malam, terdengar suara dari Neoarctania. Lalu semuanya terjadi dengan begitu cepat, aku sendiri sampai bingung kenapa semua orang berlarian cepat ke arah rumah Eunhyuk. Bahkan ayah dan ibuku juga. Ketika aku hendak menanyai mereka, they answer… nothing. Sehingga aku hanya berada di dalam rumah dengan perasaan gelisah hebat yang melanda tubuhku seketika. Ada yang tidak beres, instingku mengatakan seperti itu. Tapi apa tepatnya, aku tidak dapat menjelaskannya. Ada perasaan kuat bahwa… ini berhubungan denganku. Tapi apa? Ada apa?
Begitu menjelang tengah malam, ayah dan ibu kembali. Ayah membuka pintu rumah dengan kasar. Aku yang menunggu mereka hanya berdiri mematung melihat kedatangan mereka yang begitu terburu-buru. Bahkan aku tidak sempat menanyakan apa-apa, karena keduanya langsung masuk kamar dan menguncinya. Tapi kurasa mereka tidak tidur, karena aku mendengar keduanya berdebat cukup keras. Aku hanya dapat menangkap sedikit pembicaraan mereka.
“… masuk akal! Dia… dia…” suara ayahku yang berat ini terdengar menakutkan. Aku menempelkan daun telingaku ke pintu untuk mendengar lebih jelas.
“Bagaimana mungkin… Hyun Rae…” suara ibuku terdengar sengau. Apa dia menangis?
Tapi… kenapa namaku disebut-sebut?
“We have to do something!” dengan tegas ayahku berkata. “Apa dia gila atau apa? Mengorbankan… Hyun Rae? Apa dengan putri keluarga Dae masih belum cukup? Cukup. Tidak ada pengorbanan lagi! Aku sudah muak dengan segala tradisi gila ini.”
“Tapi kita bisa apa, Sayang? Bangsawan Lee menginginkan gadis yang lahir pada bulan purnama 17 tahun lalu. Dan kalau tidak… penduduk akan―”
“Kau ingin membuang Hyun Rae?! Begitu maumu?!”
“Kau tahu aku tidak begitu!”
“Lantas apa?! Ucapanmu jelas-jelas tersirat bahwa kau bersedia mengirim Hyun Rae untuk si bangsawan keparat itu!”
Plaak! Terdengar suara tamparan yang cukup keras. Aku tersentak dan berjalan mundur, menjauhi pintu dan buru-buru memasuki kamarku. Takut salah satu orangtuaku akan keluar dan ketahuan aku menguping pembicaraan mereka.
Setelah menutup pintu, aku segera bergelung di dalam selimut. Tubuhku gemetaran. Hanya ada satu hal yang dapat kutangkap. Aku akan dikorbankan. Ya, ada sesuatu yang terjadi di sini dan aku harus dikorbankan, entah untuk siapa. Bangsawan Lee… siapa dia? Aku tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya. Siapa dia? Apa dia orang yang berkuasa di Arctania? Tunggu, apa itu berarti aku akan dijual kepada bangsawan itu? Kepalaku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Sangat memusingkan dan aku terus bertanya-tanya hingga mataku tertutup. Entah apa yang akan terjadi besok…

The next day…
Bau parfum… membuatku tersadar. Perlahan aku membuka mata dan… tercengang melihat apa yang terjadi kepadaku. Ada begitu banyak wanita disekelilingku. Merias wajahku? Mengoleskan entah apa, cairan berwarna putih yang setahuku hanya dipakai oleh wanita yang akan menikah? Cairan putih dengan bau harum itu dioleskan ke sekujur tubuhku oleh seorang wanita paruh baya dengan baju hijau. Sementara yang lainnya, ada yang mengecat kuku tangan dan kakiku, merias rambutku sehingga berubah ikal kecokelatan, serta memakaikan begitu banyak riasan diwajahku. Aku kebingungan melihat semua ini.
“Apa yang kalian lakukan?” tanyaku ngeri. Dihadapanku, aku melihat pantulan diriku. Diriku yang biasanya berwajah polos, kini terlihat sangat berbeda. Putih cerah berkilauan ditimpa sinar matahari. Aku mengenakan gaun panjang berwarna pink lembut dengan renda-renda tipis berwarna ungu muda di sekitar dada. Ini… ini pakaian pernikahan.
“Tunggu, aku… kalian ingin menikahkanku?” tanyaku panik. Aku baru 17 tahun!
“Park Hyun Rae, sudahlah, kau diam saja.” kata wanita berbaju hijau yang tengah me-make up wajahku ini. “Lakukan saja semua dengan baik dan kamu akan baik-baik saja. Arra?”
“Tapi aku tidak mengerti!” aku menyuarakan isi hatiku yang panik. “Kenapa kalian melakukan ini kepadaku?!”
“Alasannya akan kamu ketahui, nanti.” Jawab wanita yang lainnya yang tengah memakaikan sebuah sepatu indah, indah sekali. Berwarna keperakan dengan permata berkilauan disekitarnya. Aku membuka mulutku, takjub, sampai lupa kukatupkan. Seumur-umur, ini pertama kalinya aku memakai sepatu seindah ini. Sehari-hari aku hanya memakai sepatu butut jelek. Harganya pasti mahal sekali.
Setelah selesai didandani, aku keluar dari ruangan dengan dipapah oleh dua orang wanita yang lebih muda dariku. Begitu keluar, aku disambut oleh taburan confetti berwarna-warni serta kelopak bunga mawar. Hiruk pikuk warga yang datang ke sini membuatku ngeri. Ini berlebihan, sungguh. Aku akan menikah. Tapi dengan siapa?!
Kedua orangtuaku muncul dari kerumunan, wajah mereka terlihat kusut.
“Umma!” seruku keras. Wajah ibuku terlihat agak pucat dan juga lelah. Beliau menghampiriku dan air mata mulai muncul dari matanya. “Hyun Rae-ku…”
“Umma, appa… jelaskan, apa yang terjadi. Ini semua…” aku tidak mampu menggambarkan semua kehebohan ini. Tapi aku dapat menangkap satu hal. “Aku akan menikah, kan? Kenapa begitu? Kenapa kalian setega ini kepadaku?”
Appa mengusap puncak kepalaku yang ditutupi dengan mahkota dan renda putih panjang. “Kami juga tidak menginginkannya, sayang. Sungguh, kami tidak punya pilihan.”
“Pasti ada!” seruku tidak terima. “Ayah, jelaskan! Aku tidak mau!” tiba-tiba ada orang-orang yang berusaha menarikku, menaiki kereta kuda kecil. “Tidak! Umma, appa! Aku tidak mau pergi!!!” jeritku ngeri. “Kalian akan membuangku? Ke mana?!”
Ibuku menutup mulutnya, menahan tangis. “Maaf sayang… sungguh…”
“Tidak, umma! Appaaaaa!!!” jeritku keras begitu kereta kuda itu bergerak, tangan ibuku yang menggenggamku erat itu perlahan lepas dari genggamanku. Aku tidak bisa keluar dari sini, pintunya dikunci dan hanya ada jendela kecil seukuran kepalaku, sehingga hanya kepalaku yang bisa keluar dari kereta itu. Aku ngeri saat menyadari akan dibawa kemana sekarang aku.
Pulau kecil itu, Neoarctania.

Jgrek!
Sampai-sampai di Neoarctania, hari sudah malam dan pasang sudah meninggi. Aku terus menangis di dalam kereta. Pulau ini mengerikan, aku takut. Seumur-umur, bahkan saat aku bermain ke tempat ini, aku tidak pernah merasa setakut ini. Tapi ini berbeda, perasaan dingin entah kenapa menjalari tubuhku. Bulu kudukku merinding.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka paksa, aku menghentikan tangisku dan menjauhi pintu. Kenop pintu kereta bergerak-gerak, seperti ada yang menggerakkannya dari balik sana. Aku tidak berani mengintip. Namun kemudian pintu itu terbuka dan cahaya dari pancaran sinar bulan memasuki ruangan di dalam kereta. Kemudian sebuah wajah yang tidak kukenal terlihat dari balik pintu itu.
Wajah seorang pria yang tampan. Tubuhnya tinggi, tegap sempurna. Dia memakai semacam jas panjang beludru. Alisnya tebal, matanya sipit, dan bibirnya tipis. Wajahnya agak oval dan rambutnya berwarna hitam pekat. Aku terus memperhatikan pria itu.
“Nona Park Hyun Rae?” dia memanggil namaku dengan suara baritonnya yang sehalus bulu. Agak serak namun tetap terdengar indah. Kuperhatikan dia memiliki mata berwarna biru, seperti batu safir. Warna yang aneh, karena semua penduduk Arctania memiliki warna mata cokelat, meski ada sedikit yang berwarna cokelat keemasan. Apa dia bukan penduduk Arctania? Lalu dari mana asalnya?
“Park Hyun Rae?” ia memanggilku lagi dan aku tersadar. “Be-benar…” jawabku gugup. “Bagaimana kau tahu namaku? Siapa kau?”
“Kim Jong Woon imnida. Saya adalah pengawal tuan Lee dan diperintahkan untuk menjemput nona ke sana,” ia melambaikan tangannya yang putih, putih pucat, ke arah kastil yang ada di tengah pulau. Ia bersuara namun terdengar seperti lantunan nyanyian. Suara yang asing. Indah tentu saja, tapi tetap saja asing. Tidak pernah kulihat orang, pria, berbicara seperti itu.
Dia mengulurkan tangannya kepadaku dan aku hanya melihatnya tanpa menyambutnya.
“Jangan takut, nona. Ayo.” ajaknya sopan.
“Apa yang kalian rencanakan kepadaku?” tanyaku curiga.
“Pernikahan nona dan tuan Lee, tentu saja.”
“Siapa Lee itu sebenarnya?! Apa yang kalian rencanakan?! Bagaimana mungkin aku menikahi seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya!?!”
“Nona pernah bertemu dengan beliau,” kata Kim Jong Woon sabar.
“Apa?” tanyaku sambil mengernyitkan alis. “Kapan? Di mana? Bagaimana?”
Kim Jong Woon kembali tersenyum, “Makanya nona ikut saya dulu. Mungkin jika nona bertemu langsung dengannya, nona akan mengingat wajahnya.”
Sial! Aku terjebak oleh ucapanku sendiri. Dalam hati aku ingin sekali menendang diriku yang bodoh ini. Tidak ada pilihan lain, dengan segan, aku menyambut uluran tangan pria tampan namun asing itu dan dia membawaku menyusuri hutan belantara ini menuju kastil.
Beberapa saat kemudian, kami berdua berdiri di sebuah kastil tua. Atapnya runcing dan ada begitu banyak ornamen hewan-hewan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Kastil itu terbuat dari batu granit. Berwarna hitam dan kokoh, namun terlihat agak… angkuh. Seketika aku kembali merinding, instingku mengatakan bahwa aku harus pergi. Kastil ini sudah jelas menunjukkan, atau mungkin mengatakan, bahwa aku tidak diterima masuk ke dalam bangunan megah nan kuno ini. Tapi tangan Kim Jong Woon ini mengerat, seolah menyemangatiku.
“Inilah, nona. Kastil Velasquêr, tempat tinggal bangsawan Lee.” Kim Jong Woon menyebutkan nama kastil itu dengan takzim, penuh hormat. Vel… vel apa? Nama yang aneh. Bangunan dari mana ini? Sudah angkuh, namanya susah dibaca, terpencil di pulau seperti ini lagi! Aku hanya mengangguk, kemudian Kim Jong Woon melangkah maju mendekati kastil itu dan terdengar bunyi derit aneh, oh… rupanya pintu gerbang kastil itu terbuka. Perlahan-lahan namun pasti, gerbang hitam dan tinggi itu terbuka, sehingga aku dan Kim Jong Woon dapat memasuki kastil ini. Setelah kami masuk, pintu gerbang itu menutup dengan cepat.
Kami melangkah memasuki kastil itu dan menaiki tiga belas anak tangga dan begitu sampai di puncaknya, pintu kastil terbuka. Menampakkan sosok pria tampan lainnya. Pria yang lebih tinggi dari Kim Jong Woon, wajahnya sangat tampan. Rahangnya kokoh, alisnya juga tebal, matanya bundar dan lagi-lagi sama, warna matanya biru safir. Kulitnya agak kecokelatan, namun sangat bersih dan saat aku memperhatikan lengannya, lengan itu terlihat otot bisepnya bertonjolan dan aku berspekulasi, pria ini mungkin seseorang yang sering berkelahi, sejenis dengan… seorang pengawal. Di sampingnya ada pria lain, pria yang tidak jauh tingginya dengan si cowok cokelat. Saat Kim Jong Woon dan mereka berdua berhadapan, terlihat kontras perbedaan keduanya. Si cowok kedua memiliki rambut kemerahan, dahi yang bagus, alis yang agak lebar, mata besar berwarna sama dengan yang lainnya, rahangnya persegi, dan kulitnya putih pucat. Kedua pria itu memakai jas hitam panjang yang sama, bedanya hanya pada modelnya saja. Model baju si cowok cokelat seperti menampakkan tubuhnya yang berotot itu, sementara si cowok putih itu memakai baju yang agak tebal, mungkin untuk menutupi tubuh kurusnya. Aku bisa melihat tangannya yang kurus itu dari balik lengan jasnya.
“Kim Jong Woon! You’ve bring her?” tanya si cowok cokelat dengan riang, namun si cowok putih hanya menatap kosong.
Kim Jong Woon mengangguk, “That’s her…” ujarnya sambil melambaikan tangannya kearahku. Aku menundukkan kepalaku.
Terdengar suara terkesiap, lalu sebuah tangan cokelat menyentuh daguku dan aku melihat mata biru si cokelat ini terlihat dekat dengan wajahku. Wajah si cokelat terlihat tertarik.
“Such a beautiful lady! He must be so happy.” pujinya.
“Jangan katakan kau menyukainya, Choi Siwon.” kata si cowok putih yang sekarang bersedekap.
Cowok cokelat yang ternyata bernama Choi Siwon itu membelalakkan matanya, seolah ngeri dengan pemikiran si cowok putih. “Mana mungkin! Apa aku terlihat setega itu merebut calon istri terbaru si Hae? Of course not!”
Terbaru?
“Good point.” kata si cowok putih dingin. Kemudian dia berbalik masuk. Jasnya berkibar saat ia memutar tubuhnya. Setelah cowok itu pergi, entah bagaimana, sudah muncul seorang gadis. Gadis cantik dengan rambut hitam ikal panjang berkilau. Gadis itu mengenakan gaun panjang berwarna keperakan yang terlihat sangat cantik di tubuhnya yang mungil. Kulitnya putih cerah, namun agak kepucatan juga. Mata biru terang, besar, dan mempunyai double eyelid. Bibirnya merah merekah, seperti warna mawar. Pipinya agak kemerahan, seperti kelopak mawar. Gadis itu mengulurkan tangannya kepadaku.
“Selamat datang di kediaman keluarga Lee, Park Hyun Rae-ssi.” sambut gadis itu ramah. “Namaku Shin Hyun Rin, kau bisa memanggilku Rin saja.”
“Tapi nama sebenarnya AngeRin―Rin si pemarah. Be careful with her.” Cowok kekar itu nyengir dengan wajah bersahabat. Kemudian gadis itu tertawa dan meninju bahunya pelan, “It is just Rin!” serunya dengan nada tidak terima. “Ayo, Park Hyun Rae-ssi. Ah! Kau lebih suka kupanggil apa? Kurasa memanggil nama lengkap itu tidak menarik, iya kan?”
Aku merasa agak canggung mendengar suaranya yang bersahabat itu. “Hyun Rae saja…”
Gadis itu mengibaskan tangannya, “Jangan secanggung itu!” tegurnya. “We’ll be a family! Sebentar lagi kau akan menjadi istri kakakku, berbahagialah!” serunya kemudian.
Apa dia bisa membaca pikiranku? Bagaimana dia tahu kalau aku sangat canggung saat ini. Tapi tetap saja, aku tidak dapat bersikap santai dalam situasi seperti ini. Kemudian sesuatu hal menggangguku dan aku tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya.
“Maaf, tapi bolehkah aku bertanya?”
Gadis itu menatapku, “Tentu saja! Apa yang ingin kau ketahui?”
“Kau bilang… aku akan… me-menikah…” aku tidak dapat mengucapkan kata menakutkan itu dalam satu kata. “dengan kakakmu? Margamu Shin, bukan? Dan… bukankah aku akan menikah dengan seseorang bermarga Lee?” aku yakin gadis itu bernama Shin Hyun Rin, bukan Lee Hyun Rin. Kalau dia mau mengelak dengan mengatakan bahwa ia sudah menikah, itu salah besar. Dia ini pasti orang Arctania, dan gadis Arctania tidak akan mengikuti marga suaminya meski sudah menikah.
Senyum gadis itu memudar untuk beberapa saat, namun senyum itu kembali terpajang dibibirnya. “Situasi kami bisa dibilang… berbeda. Nanti kau juga tau!”
“Tahu apa?”
Gadis itu tersenyum misterius, “Yang sebenarnya.”
Tanpa sadar, aku sudah merinding mendengar ucapannya.
Gadis bernama Rin itu membawaku menaiki tangga berputar di ujung ruangan besar di kastil itu. Ruangan itu diterangi dengan cahaya lilin dan sangat… kuno. Aku menyingsingkan ujung gaunku saat menaiki tangga agar tidak terserimpet. Kemudian gadis itu membuka satu pintu, pintu sebelah kanan. Kemudian ia membungkukkan tubuhnya sedikit begitu pintunya terbuka. “Aku sudah membawanya,” ucapnya dengan nada santun.
Dari dalam ruangan itu, aku mendengar suara seorang laki-laki menjawab dengan suara berat. “Bawa dia masuk.” perintahnya. Shin Hyun Rin mengangguk patuh, kemudian ia menyilakan aku masuk dengan tangannya.
Perlahan, aku mendekati ruangan itu. Ketika aku masuk, pintunya tertutup dan terkunci. Kemudian aku mengangkat kepalaku dan menatap ruangan besar yang ada dihadapanku.
Bukan hanya sebuah ruangan, tapi lebih menyerupai sebuah kamar utama. Di sebelah kirinya terdapat tempat tidur dengan kelambu berwarna keemasan dan tepat dihadapanku terdapat meja dan kursi lebar. Kursi itu tidak menghadapku, jadi aku tidak bisa melihat siapa yang duduk disana. Beberapa saat kemudian, kursi itu berputar perlahan dan menampakkan sosok pria.
Aku dan pria itu saling bersitatap. Dia pria yang cukup menarik, aku akui itu. Kulitnya putih, rambutnya hitam legam agak panjang menyentuh rahangnya. Matanya besar, hidungnya mancung lurus, dan bibirnya tipis. Ia memiliki bentuk rahang yang kokoh dan tulang lehernya terlihat cukup mengesankan. Dia mengenakan semacam bahan kaus yang berbentuk V yang memamerkan bentuk tulang lehernya. Kaus itu dilapisi dengan jubah panjang berwarna hitam mengilap. Dia menopang dagunya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain memegang sebuah gelas berisi cairan berwarna gelap.
“Akhirnya kau sampai…” gumam pria itu. Awalnya kupikir suaranya itu bariton, tapi sepertinya aku salah. Tadi itu suaranya berat, tapi sekarang suaranya terdengar halus dan lembut. Agak membingungkan, tapi mungkin saja itu caranya untuk menunjukkan sikap sopan.
Dia bangkit dari duduknya. Bahkan saat ia berdiri pun, ia terlihat sangat… sangat bangsawan. Dia berjalan dengan langkah tegap dan pasti. Dia mendekatiku dan berhenti sepuluh senti dari hadapanku.
“Kau tahu siapa aku?” tanyanya sambil menatapku tajam.
Aku merasa agak risih diperhatikan seperti itu olehnya, jadi aku pun menundukkan kepalaku saat menjawab. “Tidak.”
“Tataplah aku…” perintahnya.
Awalnya aku enggan untuk melakukannya, aku berniat menggelengkan kepalaku, sampai ia menyentuh ujung jemariku. Ketika ia menyentuhnya, tiba-tiba saja aku merasakan seperti seseorang mengangkat kepalaku dengan paksa dan akhirnya aku melihat wajah pria itu dengan jelas.
APA? Tidak, ini tidak mungkin…

Aku mengerjapkan mataku, bingung. Dan juga linglung. Aku tidak sedang bermimpi kan? Apa aku ada di dimensi waktu lain? Tapi… wajah pucat ini dan… tatapan ini… mana mungkin aku melupakannya?
Seseorang yang tanpa sengaja aku temui saat aku bermain petak umpet di pulau ini. Pemuda yang berdiri di samping pohon akasia! Tanpa satu perbedaan sedikit pun! Maksudku, saat itu aku tujuh tahun dan sudah satu dekade berlalu sejak saat itu, namun raut wajah ini dan semuanya dari pria ini tidak ada yang berubah! Apa… apa dia ini awet muda atau apa?
“Kau… tidak, tidak mungkin!” mati-matian aku berusaha menyangkal kenyataan dihadapanku ini. Apa ada hal seperti ini di dunia? Awet muda? Keabadian? Apa itu kenyataan?
“Apa yang kau maksud?” tanya pria itu.
“Kau tidak berbeda! Maksudku, kau tidak terlihat bertambah tua dari waktu itu. Apa memang kau yang muncul sepuluh tahun yang lalu? Kau… kau muncul dari balik pohon dan hanya menatapku. Tapi…” ucapanku terdengar sangat cepat. Itu karena aku sangat bingung dan tidak mengerti. “siapa kau?”
“Aku Lee Donghae,”
“Dan… kau… calon suamiku?” mataku menyipit saat mendengar marganya. Jadi inikah Bangsawan Lee itu?
“If you said so.”
Aku memandangnya skeptis. “Kenapa aku? Memangnya kau kenal aku sampai berani membeliku dari orang tuaku?”
“Pada dasarnya, aku tidak begitu mengenalmu. Tapi aku tahu kau.”
Aku mengernyitkan alisku, “Kau tahu aku? Dari mana?”
“Masa depan.”
Aku mendengus, “Manusia tidak bisa mengetahui masa depan.”
“Manusia biasa, ya.”
“Jadi maksudmu, kau ini manusia luar biasa?” tanyaku sarkatis.
“Maaf, tapi sayangnya aku bukan manusia.”
“Apa? Jelas-jelas kau manusia! Apanya yang bukan manusia?”
Ia tidak menjawab pertanyaanku, malahan dengan cepat meraih tanganku. Aku tersentak saat merasakan tangannya yang sedingin es menyentuh tanganku yang hangat. Aku menatapnya ngeri, “Siapa kau? Dan… apa maumu?”
“Kau sudah terpilih untuk menjadi pasanganku.”
“Terpilih… apa? Tidak!” bantahku cepat.
“Bulan purnama merah, red fullmoon. Bukankah pada malam itu kau lahir? Dan malam ini saat kau dibawa ketempatku?”
Aku tidak pernah mendengar istilah red fullmoon. Tapi sepertinya itu ungkapan untuk bulan merah. Dari balik jendela yang tidak tertutupi gorden, cahaya kemerahan dari sinar bulan malam ini memenuhi kamar ini. Cahayanya semakin terang saat pria itu menyebut istilah red fullmoon. Jadi kupikir ini benar.
“Aku tidak pernah tahu di malam apa aku lahir,” ucapku jujur. “Memang apa hubungannya?” lanjutku bertanya, mencoba bersikap setenang mungkin.
“Di malam saat bulan purnama berwarna merah darah, akan lahir seorang anak perempuan yang akan menjadi pasangan takdir dari keluarga Lee yang terakhir. Kemudian 17 purnama yang berikutnya muncul, maka perempuan itu sudah ditakdirkan untuk menjadi pembawa kehidupan dari keluarga Lee.”
Apa yang barusan dia katakan? Kedengarannya seperti sedang bersajak. Sungguh, aku bingung dengan kata-katanya. “Bisa katakan lebih sederhana?”
Dengan wajah tanpa ekspresi, dia berkata padaku. “Kau harus menjadi perantara kehidupan keluarga Lee yang berikutnya?”
“Perantara?”
“Itu artinya, kau harus mengandung penerus keluarga Lee yang berikutnya.”
Mataku terbelalak, “APA?!”
********
Aku memelototinya, “KAU SUDAH GILA!” seruku panik. “Kau pikir aku bersedia datang ke sini untuk tidur denganmu?! Kau gila jika berpikir seperti itu!”
“Memangnya ada alasan lain? Kau pikir kenapa kau dibawa ke sini?”
“Menikah…?” tanyaku tidak yakin.
“Kau tidak tahu menikah itu artinya apa?”
Dengan wajah nelangsa, aku menggeleng.
Pria itu menghela napas, “Menikah… berarti meneruskan kehidupan. Kehidupan yang lama, akan berakhir. Digantikan dengan kehidupan baru, seperti itulah.”
“Seperti itu?” tanyaku ngeri. “Lalu… bagaimana dengan gadis sebelum aku? Kau… kau sudah memanggil wanita lain sebelum aku! Apa kau ini punya hobi mengoleksi istri atau apa?”
Dia mendengus, “Sudah mati.”
Bahkan dia tidak menggunakan bahasa yang lebih sopan. “Baiklah, aku menolak. Aku menolak untuk menikah dengan pria arogan dan tidak berperasaan sepertimu.” Aku membalikkan badan. Namun pria itu berkata, “Kau pikir semudah itu?”
Langkahku terhenti, kutolehkan sedikit kepalaku. Pria itu melanjutkan ucapannya, “Begitu kau masuk ke kastilku, maka tidak ada jalan keluar selain menikah denganku. Bahkan sekalipun kematian adalah jalan yang kau pilih.”
Aku memutar tubuhku, kaget mendengar perkataannya, “TAPI, ini bukan pilihanku! Kenapa kau memaksaku?! Aku tidak pernah ingin pergi ke sini!” jeritku tidak terima. “Aku tidak ingin menjalani hidup seperti ini!”
“Lalu apa yang kau inginkan? Apa kamu pikir, dengan menjadi orang biasa, kau bisa hidup normal? Asal kamu tahu saja, sejak kamu lahir, kau sudah istimewa. Tidakkah kau pernah bertanya tentang keberadaan gambar suci di tubuhmu? Tidakkah kau penasaran kenapa orangtuamu memperlakukanmu dengan sangat menghormatimu? Tidakkah kau paham bagaimana perlakuan para tetua di tempatmu terhadap dirimu sendiri?” cecarnya.
Aku terdiam, berbagai ingatan muncul di kepalaku. Ibuku selalu menyanjungku, menyanggupi apapun yang kuminta, aku tidak melakukan hal apapun yang biasanya dilakukan oleh anak-anak lain. Saat aku keluar rumah, entah kenapa orang-orang tua berambut putih berjubah abu-abu (Eun Hyuk bilang itulah para tetua) selalu menundukkan kepala dan mencucurkan air mata saat melihatku. Serta… gambar suci? Gambar suci apa?
“Gambar suci, apa maksudmu?”
Tanpa berkata apa-apa, pria itu menyentakkan gaun yang melekat dibahuku. Sebelum aku berteriak, dia sudah menyentuh tato aneh yang ada dibahuku. “Gambar suci dari dewa…” gumamnya.
Plak! Sambil menutupi bahuku yang terbuka, dengan tangan lain aku menampar wajahnya. “Apa yang kau lakukan?!” teriakku. “Pria macam apa kau memperlakukan wanita seperti ini? Cukup! Sudah cukup semua yang kuketahui!” aku berlari mendekati, pintu dan berusaha membukanya, namun pintu itu tidak membuka.
“Aku sudah bilang, kau tidak bisa pergi dari sini.” pria itu berkata pelan dibalik tubuhku. Aku tersentak kaget melihat kemunculannya didekatku yang begitu tiba-tiba. Kutatap pipinya yang baru saja kutampar, namun tidak ada bekas kemerahan di wajah itu. Sebaliknya, aku merasakan rasa nyeri pada telapak tanganku dan saat kulihat, telapak tanganku menjadi kemerah-merahan, seperti habis menampar batu. Aku menatapnya nanar.
“Kumohon…” pintaku dengan pilu, “aku tidak ingin seperti ini, aku ingin bersama orangtuaku.”
Pria itu menatapku tanpa belas kasihan, tak ada satupun ekspresi tergambar diwajahnya. “Kalaupun aku melakukannya, apa orangtuamu akan menerimamu?”
“Apa maksudmu? Tentu saja mereka akan menerimaku. Aku… aku putri mereka!”
“Kau bukan putri mereka,” katanya. “Bahkan kau bukan orang Arctania.”
“Apa?”
“Shin Hyun Rin!” tiba-tiba dia memanggil nama gadis yang mengantarku dan dari balik tubuhku, sudah muncul gadis itu. Bahkan aku tidak merasakan keberadaannya dibelakangku, atau suara kunci yang terbuka. Tempat ini benar-benar aneh.
Gadis itu menatap Lee Donghae kesal, “Tidak usah berteriak-teriak begitu, bisa kan? Kedengarannya kau seperti memanggil pelayan, bukan adik.” gerutu gadis itu.
Pria itu tidak menjawab gerutuan Shin Hyun Rin, dia malah berkata, “Beritahu segalanya pada calon istriku ini. Semuanya, kau tahu? All of its.”
Gadis itu mendengus, “Aku tahu, aku tahu. Kau kira aku ini bodoh atau apa?” kemudian dia tersenyum kearahnya, “Ayo, akan kutunjukkan sesuatu yang menarik padamu, Hyun Rae!” ia menarik tanganku meninggalkan ruangan itu.
Kami berjalan memasuki kastil itu lebih dalam lagi. Makin dalam, makin jarang cahaya yang aku lihat. Kemudian aku berhenti melangkah.
Shin Hyun Rin, gadis itu menyadari bahwa aku berhenti berjalan. Ia langsung menghampiriku, “Ada apa, Hyun Rae?” tanyanya lembut.
“Aku… aku tidak ingin ke sini, ini bukan mauku.” Aku menggenggam tangannya, “Kumohon, aku tahu kau orang baik. Jadi, keluarkan aku dari tempat ini, nona. Kumohon…”
Gadis itu menghela napas, ia memejamkan matanya dan bergumam, “Sudah kuduga.” Mendadak wajahnya menjadi kesal. “Apa yang sudah dilakukan kakakku padamu? Dia pasti berlaku sangat kasar padamu?” kemudian dia menyentuh bahuku, aku menyadari bahwa gaun itu robek pada saat pria brengsek itu menyentakkan gaunku. “Sudah kuduga…”
“Berhenti berkata ‘sudah kuduga’ berulang kali seperti itu!” seruku marah. Dia tersentak, namun aku tidak memedulikannya. Sudah cukup aku bersikap sopan pada manusia (atau makhluk, kalau mereka lebih suka begitu) yang ada ditempat ini. “Kalau kau sudah menduga hal seperti ini terjadi, mengapa kau tidak menghentikannya?”
“Kau ini tidak punya rasa sopan santun?” terdengar suara sinis seorang pria dan aku kaget melihat pria berambut kemerahan itu disamping Shin Hyun Rin dengan sikap protektif. “Ternyata masa depan tidak menjamin apa yang ada terjadi kemudian,”
Gadis itu tersenyum tenang. “Itu karena dia bingung, Kyuhyun. Kalau kau jadi dia, aku rasa kau juga akan bertindak sama.”
“Kau pikir begitu?”
Gadis itu mengangguk. “Ah, Hyun Rae. Maaf sudah membuatmu bingung…” dia langsung menatapku, mungkin dia tidak ingin mengacuhkanku karena kemunculan pria ini. “Tapi, percayalah padaku, ketika kau mengerti dengan semua kenyataan yang ada, kau akan senang berada di sini.”
“Kau terdengar sangat yakin, bagaimana jika tidak?” tantangku.
Dengan senyum manis, gadis itu menyanggupi tantanganku. “Kita lihat saja. Ayo.” kembali ia menyuruhku untuk mengikutinya. Kemudian setelah berjalan cukup lama, kami sampai di sebuah ruangan gelap. Ruangan itu bahkan lebih kuno dari ruangan lain yang kulihat sebelumnya. Ruangan itu paling besar, bahkan lebih besar dari kamar Lee Donghae. Pintunya berhiaskan begitu banyak pola uliran dan huruf-huruf asing yang tidak kupahami artinya. Karena gelap, aku tidak melihat jelas warna apa yang ada pada pintu itu. Namun, aku melihat sorot cahaya berkilauan dari pintu itu. Kemudian Shin Hyun Rin mengeluarkan sebuah batu, lalu ia mengayunkan batu itu pada cahaya berkilauan itu dan cahaya lain, berwarna pearl sapphire blue, langsung menyinari pintu itu. Kemudian pintu itu terbuka.
Begitu pintu itu terbuka, tampak sebuah ruangan yang indah dengan begitu banyak hiasan di dindingnya. Ada gambar dari banyak orang, semuanya bergerak-gerak dan aku kaget melihatnya. Gambar tidak bisa bergerak!
Kemudian gadis itu mengambil sebuah baskom berisi cairan keperakan. Ia kembali mengayunkan batu yang dimilikinya dan baskom itu melayang mendekatiku. Aku menatap baskom itu dengan bingung.
“Masukkan tanganmu ke dalam cairan itu, dan lihat apa yang terjadi.” perintah Shin Hyun Rin.
Aku menatapnya sangsi, “Apa ini?”
“Ini adalah Kolam Memori. Semua ingatan di masa lalu, ada di sini.”
Sedikit takut, aku pun memasukkan kedua tanganku ke dalam cairan itu. Rasanya dingin dan agak lengket, seperti memasuki lumpur hisap. Lalu… semuanya…
Aku mendapat begitu banyak kilasan-kilasan, gambar-gambar yang agak buram namun aku bisa melihat siapa yang ada dalam kilasan itu. Kemunculan kilasan-kilasan ini agak membuatku pusing, bahkan agak mual. Setelah beberapa detik yang memusingkan, aku melepas tanganku dari cairan tersebut.
Bahkan setelah aku terlepas dari cairan itu, aku masih mendapat begitu banyak kenangan. Ya, kilasan-kilasan itu adalah kenangan. Kenangan tentang… siapa aku.
Setelah kenangan itu masuk kedalam memoriku, aku mulai menyadari apa yang terjadi.
Siapa aku.
Dan apa takdirku.

Two months after…
Aku adalah seorang putri, putri penerus kerajaan di Krystava. Selain Arctania dan Neoarctania, ada satu kepulauan besar. Satu kepulauan yang bisa dibilang adalah pusat dari pemerintahan wilayah ini. Arctania dan Neoarctania adalah bagian dari kerajaan ini, Krystava. Setelah aku mengetahui jati diriku dua bulan lalu, kini aku mengunjungi tempat dimana aku dilahirkan. Sekarang tempat ini hampir mati, tidak ada satupun yang tersisa. Tidak ada makhluk hidup yang tinggal di tempat ini. Wilayah yang sangat berjaya di masa lalu ini sudah hancur. Aku berjongkok dan menyentuh pasir-pasirnya. Hanya ada sisa suatu kehidupan, suatu peradaban. Namun peradaban itu telah punah. Aku adalah satu-satunya keturunan keluarga Krystava yang tersisa. Dan untuk membangun tempat ini kembali, aku harus menikah dengan Lee Donghae. Bangsawan yang merupakan orang Krystava dan mengetahui cara untuk membangun peradaban ini lagi. Tidak ada pilihan lain, aku mengeratkan genggamanku pada lelaki disampingku yang ikut mengunjungi tempat ini. Angin musim gugur bertiup, dan tanah yang kering ini menerbangkan debunya ke segala tempat yang dicapainya.
Laki-laki itu bertanya, “Kau mencintaiku. Nyata atau tidak?”
Tanpa perlu menatapnya, dengan yakin aku menjawab.
“Nyata.”
THE END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s