FF You’re My Endless Love part. 5

Kerinduan
Kerinduan. Ya bener banget, itulah yang dirasakan oleh Rissa begitu melihat cowok berkacamata didepannya yang memakai baju turtleneck warna cokelat dengan celana panjang berwarna senada. Cowok itu tak kalah kagetnya begitu melihat Rissa berdiri didepannya. Keduanya membeku untuk beberapa saat.
Hingga kemudian… cowok itu melarikan diri dari hadapan Rissa.
Rissa mengejar cowok itu sembari memanggil namanya, “Dokter Kim Jong Woon!!!”
Donghae dan Kyu Hyun bersitatap tidak mengerti.

*ya ampun pake kejar-kejaran! Udah kayak kuch kuch hota hai, hehehehe*
Ini episode yang kata author sedih, jadi siapin tisu basah yee… author aja nangis lho waktu nulis episode yang ini *ga ada yang nanya tuh*
Rissa terus mengejar Yesung, tanpa memedulikan tatapan orang didepannya. Beruntung ia, karena meskipun bertubuh mungil, soal olahraga bukanlah masalah untuknya. Ia bisa lari 100 m dalam waktu 10 detik *gile, manusia macam apa itu?* sehingga dengan segera, ia dapat mengejar Yesung dan meraih lengannya.
“Dokter!” seru Rissa disela-sela napasnya yang ngos-ngosan sehabis berlari.
Yesung tidak menjawab seruan Rissa, ia malah menundukkan kepalanya.
Kemudian butir-butir air mata mulai mengalir dari mata Rissa, betapa ia merindukan orang itu. Yep, dokter Yesung adalah dokter mata yang merawat Rissa selama di rumah sakit. Dia pernah bilang suka ke Rissa, namun Rissa nggak jawab apa-apa *biasa, ga jelas si Rissa* hingga suatu hari saat Rissa bilang bahwa ia suka sama Yesung, Yesung bukannya senang, ia malah memindahkan Rissa ke dokter mata lain dan mengundurkan diri dari rumah sakit yang merawat Rissa.
“Kenapa?” Rissa bertanya dengan wajah sedih. “Kenapa dokter pergi?! Kenapa dokter seenaknya pergi begitu saja disaat aku sadar kalo aku suka sama dokter? Kenapa dokter nggak bilang apa-apa waktu itu? Kenapa dokter bilang suka, kalau sebenarnya dokter nggak suka aku?! Kenapa dokter?!” Rissa bertanya dengan perasaan menggebu-gebu. Betapa semua pertanyaan itu ia simpan didalam hatinya, namun Yesung nggak pernah memberitahukan jawabannya. “Dokter tau berapa lama aku nungguin dokter?! Tiga taun!! Tiga tahun yang sia-sia, konyol… karena aku masih mengharapkan dokter ada dan membalas perasaanku! Tiga tahun penuh penderitaan! Dokter nggak tau betapa aku merindukan dokter! Dokter… nggak tau apa-apa!!!” seru Rissa disela-sela tangisannya. Lalu ia terjatuh sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sambil tersedu sedan.
Yesung tidak berkata apa-apa. Dia hanya diam, membiarkan Rissa menumpahkan semua emosinya yang selama ini terpendam. Dia sendiri nggak tau kenapa dia meninggalkan Rissa. Dia hanya merasa bahwa tindakannya tiga tahun lalu itu tidak termaafkan, ia tidak pantas untuk Rissa. Rissa berhak untuk mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya, iya kan?
“Kenapa…? Kenapa…?” Rissa terus terisak-isak sembari terus menggumamkan kata itu. Yesung sendiri tidak menjawab, ia hanya diam karena…
Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
Begitu Rissa berhenti menangis, Yesung berbalik menatap Rissa yang matanya sembab, hidungnya ileran, namun jauh dari semua itu, ia masih ‘Rissa’ yang dulu, yang ceria, sok keras kepala, dan juga… manis. Sangat manis, tanpa kacamata botol susu yang dulu suka dipakainya. Entah kenapa Yesung merasa ingin memeluknya. Namun ia mengurungkan niatnya.
“Maaf…” ucap Yesung sembari menundukkan kepalanya. Kemudian ia menaiki bus yang muncul. Rissa tidak mengejarnya, hanya menatap bus itu pergi, semakin jauh. Ketika bus itu hilang dari pandangannya, ia berjalan lunglai menuju dorm SuJu.
Ternyata begitu ia muncul di tempat parkir apartemen itu, ia melihat Kyu, Hae, dan Siwon menunggunya dengan wajah cemas. Bahkan Kyu juga, baru Rissa sadari begitu ia mengangkat wajahnya. “Ada apa?” tanya mereka bertiga berbarengan, bernada menuntut, dan menghasilkan harmonisasi suara yang indah *jiaaah*
Rissa memaksakan seulas senyum tipis, “Aku nggak apa-apa kok.”
“Bener?” tanya Siwon.
“Sebenernya aku agak pusing, aku mau pulang.”
“Aku antar.” kata Kyu Hyun tiba-tiba, membuat Hae dan Siwon kaget. Kyu sendiri kaget lho dengan ucapannya barusan, tapi udah kepalang dikata, mau diapain lagi? Tanpa berkata apa-apa, Rissa mengangguk dan menaiki Hyundainya Kyu.

Kyu Hyun POV
Aku men-starter mobilku, kemudian mobil itu melaju dengan kencangnya. Ya iyalah, sape dulu yang punya, Kyu Hyun… hehehe *pembukaan yang gaje*
Hmm, kupikir aku sudah mendapatkan hal yang paling buruk di dunia ini. Yah, kalian tau sendiri kan? Me, Kyu Hyun yang guantengnya minta ampun ini harus menjalani pertunangan yang konyol dengan seorang gadis yang nggak pernah gue kenal bersama hyung gue sendiri, Donghae?! What the hell! Dunia bener-bener udah sakit! Tapi itu pemikiran gue sebelum ini, sebelum gue liat yeoja ini nangis karena Yesung hyung!
Well, gue nggak pernah mikir sebelumnya kalo yeoja ini pernah punya hubungan sama Yesung. Habisnya lo pada tau sendiri kan? Yesung itu aneh, weird… auk ah elap. Masih mendingan gue kemana-mana kan? Tapi kenapaaa??? Yeoja ini nangis hanya karena seorang Yesung???! Aish, kaga terima gue diperlakukan seperti ini!
“Hei,” kata gue padanya. Dia menoleh sedikit ke arah gue. “Ada hubungan apa lo sama Yesung hyung?” tanya gue tanpa basa-basi. Malay gue kalo mesti basa-basi dulu. Lagian, menurut gue, yeoja ini bukan tipe cewek yang enak diajak basa-basi.
“Bukan urusan lo.” jawabnya singkat.
Anjrrriiiiittt…! Kaga sopan bener nih cewek?! Sepertinya bener deh kata Siwon hyung kalo cewek bernama Rissa ini kuper. Liat aja tingkahnya sama gue, coba kalo fans gue alias sparKYU denger tingkahnya ini, wuaaahhh… langsung diarak ke laut Mati deh, hehehe…
“Walaupun ini bukan urusan gue, tapi lo ini tunangan gue. Jadi gue berhak untuk tau segala sesuatu tentang lo!” kata gue kasar.
Tapi sepertinya bukan sikap manis yang gue dapet (yaa, mungkin ucapan gue yang nggak bener juga kali ye? *udah tau nanya pula*) karena sikap Rissa mendadak sinis saat menjawab, “Jadi elo ngerasa berhak? Bukannya lo nggak pernah minat sama segala sesuatu soal perjodohan ini? Jangan sok perhatian deh!” lanjutnya dengan nada kasar, kemudian begitu sampai ke rumah gue dia berkata, “Jangan pernah menganggap kalo lo berhak atas gue!” kemudian dia membanting pintu mobil gue yang berharga.
“Hei!” seru gue sia-sia karena gadis itu keburu memasuki rumah gue. Aish, emangnya apa sih salah gue sampe dia ngomel-ngomel kayak nenek-nenek gitu? Emangnya salah apa kalo gue mencoba sedikit perhatian sama dia?
Kemudian gue masuk rumah, setelah mengucap salam, tiba-tiba sebuah tangan mendarat keras di ubun-ubun gue. “Aduh!” seru gue, lalu gue melihat siapa pelakunya dan rupanya noona gue sendiri biangnya?
“Noona apa-apaan sih? Kenapa aku dipukul?” seruku kesal.
“Harusnya aku yang ngomong gitu!” bentak Ahra noona. “Kamu ngapain Rissa sampe lemes gitu?”
“Jangan marah ke gue dong! Denger dulu penjelasan gue!” sergahku, kemudian menjelaskan semua yang aku tau.
“Ooh, jadi begitu ceritanya. Mian deh, saengku sayang… kepalamu nggak apa-apa kan?” kata Ahra noona berubah lembut.
“Sekarang sih kayaknya gitu.” gerutuku. Ahra noona tersenyum tipis, “Dari awal aku ketemu dia, aku juga emang ngerasa kalo dia menyembunyikan sesuatu.”
“Siapa? Rissa?”
“Siapa lagi emangnya, Kyu?” tanya Ahra noona dengan nada gemas. “Matanya… keliatan banget lagi menyembunyikan sesuatu, seakan-akan dia kesepian, merindukan sesuatu, dan kehilangan, entahlah… meskipun mungkin menurutnya ia sudah berakting seolah-olah semuanya baik-baik saja, tapi matanya tidak bisa berbohong.”
“Emangnya keliatan ya? Kok aku nggak ngerasa sih?” tanyaku polos.
“Kamu mah nggak peka, makanya nggak bakalan tau!” ejek Ahra noona sembari tertawa. Aku cemberut dikatain begitu.
“Terus, kamu udah nanya sama Rissa? Kenapa dia begitu?” tanya Ahra noona disela-sela tawanya.
“Udah, tapi abis itu dia jawabnya cuma ‘bukan urusanmu!’ gitu dengan nada sinis.”
“Wajar sih, kamu sih ngomongnya kayak gitu.”
“Kayak gitu gimana sih? Kan emang sifat guenya susah diubah!” protesku.
“Yee, makanya bersikap baik dong sama dia! Kayak Hae tuh!”
“Hae mulu, Hae mulu…” gerutuku sebel tiap kali nama Hae disebut. Tau deh yang prince charming di rumah, sedangkan kalo gue trouble maker. “Emangnya kenapa sih noona sayang banget ama ntu yeoja? Padahal kan dia bukan siapa-siapa!”
Ahra noona tersenyum, “Karena dia itu selalu menyembunyikan perasaannya. Dia itu unik, beda sama cewek lain. Dia seperti… teka-teki, semakin sulit ditebak, semakin menantang dan membuat kita ingin mengenali pribadinya lebih dalam.”
Heh? Jadi yeoja bernama Rissa itu punya pribadi unik? Baru tau gue. Tapi, dari cara noona gue menjelaskan perasaannya itu, keliatan banget kalo Rissa itu punya arti khusus baginya.
“Terus kalo gue, noona? Menurut lo gue gimana?” tanyaku jahil.
Ahra noona malah menyentil dahiku, sakit beud! “Kamu mah menyebalkan!” katanya singkat, kemudian ia meninggalkanku.
Kyu Hyun POV end

Rissa masuk ke kamarnya, lalu menguncinya. Entah mengapa, begitu ia denger Kyu menyebut nama ‘Yesung’ ia sadar kalau Yesung itu adalah dokter Kim Jong Woon dan segera, setelah dia masuk ke kamarnya, air matanya mengalir deras. Rissa merosot ke lantai sambil terus memegang dadanya. Sakit, sakit banget rasanya, sesak… entahlah, dia sendiri nggak paham kenapa sesakit ini perasaannya ketika bertemu lagi dengan dokter Kim itu. Mestinya perasaan sukanya itu udah hilang, karena sekarang dia sudah bertunangan dengan cowok lain. Tapi kenapa? Kenapa perasaan itu nggak ilang juga? Rissa terus bertanya-tanya, sementara ia menangis.
“Rissa?” panggil Ahra dari balik pintu. “Kamu nggak apa-apa?”
Rissa tidak menjawab, ia masih terus terisak-isak. Ahra yang denger isakannya (meski pelan) ngerasa nggak enak juga buat nanya lebih lanjut. Maka dia memutuskan untuk meninggalkan Rissa sendirian.

Di dorm SuJu…
Donghae memasuki kamar Yesung, masih berantakan kayak biasanya. Kemudian ia melirik meja yang berisi bertumpuk-tumpuk buku-buku kedokteran, nggak ada satupun tanda-tanda Rissa dikamar ini, pikirnya. Sampai ia melihat sebuah pigura yang letaknya agak tersembunyi dari balik tumpukan buku itu. Donghae perlu memicingkan matanya untuk menyadari siapa yang terpotret dalam pigura itu.
Ini…
“Ngapain kamu, Hae?” tanya Yesung tiba-tiba, Donghae berbalik kaget. Pigura ditangannya terjatuh saking kagetnya dia. Yesung menyadari apa yang dilakukan Donghae dikamarnya, “Keluar!” bentak Yesung.
“Tapi, hyung…” Hae ingin bertanya, namun Yesung terus membentaknya, “Keluar Hae!” dan Hae rada takut denger nada ancaman dalam suara Yesung hyung, sehingga ia memutuskan untuk menurut.
Yesung memunguti pecahan pigura itu, kemudian ia mengambil foto itu dan mendesah. Ini lebih dari sekedar gambar. Kemudian ia mengambil geretan dan dengan gemetar, ia membakar foto itu. Ia menatap foto yang terbakar itu hingga berubah menjadi abu…

Di rumah Kyu dan Hae…
Rissa keluar dari kamarnya, sebenernya dia rada males juga keluar kamar karena perasaannya masih nggak bagus. Tapi Ahra memanggilnya, katanya sih soal tunangan itu. Yah, meski nggak minat, tetep aja Rissa harus menjalaninya.
Semuanya udah berkumpul di ruang tamu, Rissa menyadari bahwa sejak ia muncul, Hae dan Kyu terus memandanginya dengan tatapan aneh, seolah-olah nantinya dia bakalan menjerit-jerit di ruang tamu itu kayak orang gila. Ahra menyambutnya sambil berkata, “Hai, Rissa!” dengan nada riang. Tapi ada sedikit rasa waswas dalam suaranya itu. “Hai juga… eonni…” jawab Rissa terbata-bata.
“Oke, karena semuanya udah muncul…” Ahra bertepuk tangan untuk menghilangkan aura muram yang menyelimuti ruangan itu. “Akan aku beritahu yang harus kalian lakukan selanjutnya, tugas untuk menjadi mempelai pria Rissa…” ia mengedipkan matanya.
“Tugas?” tanya Hae dan Kyu berbarengan.
“Yep, tugas.” kata Ahra dengan nada serius. “Karena untuk bisa menikah, tentu saja harus ada perasaan cinta yang tumbuh *asik dah Ahra bahasanyaaa* dan tentu saja, untuk menumbuhkan perasaan itu, kalian harus melakukan tugas ini. Dan diharapkan nantinya Rissa dan Kyu atau Hae bisa saling mencintai, begitu kurang lebihnya.”
“Intinya… tugas ini untuk menumbuhkan perasaan cinta antara dua orang kan? Nah, kalo misalnya ntar baik gue atau Kyu suka sama Rissa gimana?” tanya Hae.
“Nggak mungkin gue jatuh cinta sama si Rissa.” bantah Kyu sebal.
“Lho, kenapa nggak? Kalo kamu emang suka sama Rissa, masa kamu mau berbohong sama perasaan kamu sendiri?” tanya Hae sambil menatap saengnya itu yang berlagak sok nggak suka.
“Yah, kalo gitu tinggal suruh Rissa buat milih, laah…” kata Ahra santai. “Karena meskipun sedikit, pasti akan ada perasaan aneh yang muncul dalam hati Rissa.” *author mau deh jadi Rissa :p*
“Ih, keenakan Rissa dong! Ogah ah, gue nggak mau ikut-ikutan! Ntar kalo gue yang ditolak kan tengsin gue! Masa Cho Kyu Hyun ditolak sama seorang yeoja, sih? Kaga keren banget!”
“Kenapa sih kamu mikirnya yang jeleknya mulu?” tanya Ahra. “Jangan mikir apa yang akan orang lain katakan, pikirkan apa yang terbaik buat kamu!”
“Yang terbaik yaa…” Kyu mengulang ucapan Ahra dengan sinis.
Ahra memelototinya.
“Terus gue mesti ngapain si Rissa?” tanya Kyu sembari melirik sedikit kearah Rissa.
“Hmm, berpelukan.”
“Berpelukan?!” ulang Kyu, Rissa, dan Hae.
Suasana sunyi senyap, ngik ngok ngik ngok… *lu kata biola?*
“Yah, kalo cuma pelukan mah gampang!” kata Kyu, bersiap-siap untuk memeluk Rissa, sementara Rissa ambil ancang-ancang buat nonjok si magnae usil itu *yakinlah, Rissa pasti digetokin sparKYU*
“Eit, nggak bisa semudah itu!” ujar Ahra.
“Lho, kenapa noona?”
“Yang namanya cinta itu, harus dilakukan kalo ada waktunya, nah, kali ini tugas yang berikutnya dilakukan kalau memang harus melakukannya.”
“Noona muter-muter ih ngomongnya!” sungut Kyu, “Maksudnya apa sih?”
“Nggak.” jawab Rissa tiba-tiba.
“Apa?” Kyu dan Ahra menoleh kearah Rissa.
“Jangan lanjutkan ini…” kata Rissa terbata-bata, “Maaf!” katanya sembari berdiri dan menundukkan kepala. Krek… kemudian terdengar bunyi lampu gantung yang patah dan Rissa berada tepat dibawah lampu gantung itu, tanpa memedulikan keselamatannya… Donghae memeluk Rissa dan lampu gantung itu jatuh dan pecah di atas punggungnya…*semuanya teriak: tidaaaakkk!!!*

“Rissa…” panggil Donghae lemah. Rissa yang berada dibawahnya menjawab, “Wae… waeyo?” dengan suara pelan, ia terkejut banget dengan ‘aksi heroik’ yang dilakukan Donghae. Darah menetes-netes dari punggung Hae, tapi cowok itu masih saja tersenyum.
“Kamu… nggak apa-apa kan?” tanyanya disela-sela keributan, ada yang manggil 911, 110 *emangnya ada penjahat, apa?* segala macem dipanggil deh, sampe pawang ular juga *author gimana sih? Lagi episode sedih malah joking*
Rissa menggelengkan kepalanya. Hae tersenyum, “Syukurlah…” kemudian dia roboh.
-TBC-

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s