FF You’re My Endless Love part. 6

“Ini salahku!” seru Rissa di rumah sakit. Padahal kemarin dia nangis karena Yesung, sekarang dia nangis lagi karena Donghae. Apa tiap hari dia harus menangis untuk semua member SuJu??? *maksud lo apa sih Ris?* Tangan Rissa gemetaran bukan main, perasaannya pun kacau balau, bagaimana… bagaimana ini?
“Bukan, Rissa!” kata Ahra tegas. Dan ini yang ke-45 kalinya dia mengatakan hal itu. “Ini bukan salahmu!”
“Tapi, onni…” Rissa terbata-bata menjawab. “Bagaimana kalau Hae sampai…”
“Tidak! Tidak mungkin! Hae… dia kuat! Dia nggak akan meninggal semudah itu!” jawab Ahra, namun matanya tidak berkata demikian karena… ya Allah, bagaimana kalau orangtuanya tau kalau… ah, tidak! Dokter… dia tidak boleh memberitahu apa yang diderita oleh Hae. Hae sendiri yang memintanya begitu…
Lampu ‘sedang operasi’ itu mati, kemudian seorang dokter keluar. Keluarga Hae serta Rissa mengerumuninya, “Bagaimana dokter?”
“Operasinya sukses.” jawab dokter itu, “Syukurlah semua pecahan lampu bisa terambil.” semua yang berada di lorong itu menghela napas lega.
“Maaf, apakah orangtua Cho Donghae ada disini?” tanya dokter itu lagi setelah ia berdiam diri.
“Kami orangtuanya,” jawab ayah dan ibu Donghae berbarengan.
“Bisa bicara di ruangan saya?” tanya dokter itu dan keduanya mengangguk. Kemudian mengikuti dokter itu masuk ke ruangannya.
Ahra menelan ludah, ya Allah…
“Kondisi anak anda bisa dibilang cukup baik. Namun dari pemeriksaan tulang belakang, kami menemukan bahwa… Donghae… dia mengidap leukemia akut.”
Orangtua Donghae terkejut, “Mwoya? Tidak, tidak mungkin. Donghae selama ini baik-baik saja!” bantah mereka.
“Jadi apakah Donghae tidak pernah memberitahu anda? Padahal leukemianya ini sudah parah sekali, tidak banyak waktu yang dimilikinya!”
Ibu Donghae terkejut, ia menekap mulutnya dan merebut kertas pemeriksaan itu. Ya Allah, vonis dokter barusan membuat ia merasa seperti baru disambar petir. Donghae? Leukemia? Kenapa dia tidak pernah memberitahunya?
“Appa…” keluh ibu Donghae. Suaminya memeluknya sambil bertanya, “Apa benar tidak ada jalan keluar lagi?”
“Ani, mianhamnida.” jawab dokter itu lemah. “Leukemianya sudah parah sekali, saya tidak yakin apabila operasi pengangkatan sumsum tulang belakang dan menggantinya dengan sumsum donor yang RLA-nya sama bisa membantu.”
Seketika kedua orangtua Donghae lemas.

“Rissa, kamu tidak pulang?”
Ahra muncul disampingnya sambil membawa secangkir kopi Starbucks. Rissa tersenyum sedih dan menggeleng.
“Kyu Hyun… dimana dia?” tanya Rissa pelan sembari menghirup kopinya.
“Dia ada pekerjaan.” jawab Ahra, “Maklum lah, dia kan member SuJu, tidak mungkin dia mangkir dari kerjaannya.”
“Oh…”
Kemudian seorang suster keluar dari kamar Donghae dirawat sambil bertanya, “Nona Rissa? Adakah yang bernama nona Rissa?”
Rissa berdiri sembari menjawab, “Aku Rissa. Kenapa…?”
“Pasien memanggil anda.” jawabnya sambil menyilakan masuk.
Rissa memasuki kamar itu, kamar Hae dirawat sangat bagus *iyalah, VIP gitu loh* dan ada pengatur kelembaban suhu ruangan, kayaknya sih biar pasiennya kaga kering gitu (kalo pake AC kan bikin kulit kering gitu loh). Rissa miris banget ngeliat Hae harus tidur dengan berhati-hati, agar luka dipunggungnya tidak terbuka. Hae tersenyum.
“Oppa… jangan tersenyum, kumohon…” kata Rissa sedih. “Jangan bersikap bahwa kau baik-baik saja…”
“Kamu tuh ya, baru dateng bukannya nanya ‘oppa, apa kamu baik-baik saja’ gitu kek, ini malah ngomel dulu.”
Rissa tersenyum, “Bagaimana perasaan oppa?” tanya Rissa.
“Baik, sangat baik. Soalnya ada Rissa disini.” gombal Hae *jiaaah, sempet aja si Oppa ngegombal*
Rissa menundukkan kepalanya.
“Rissa, aku punya pertanyaan. Jawab sejujurnya, ya?”
Rissa mengangguk.
“Kamu suka padaku?”
Ah, sial si oppa. Kenapa dia malah bertanya tentang itu? pikir Rissa.
“Waktu aku menyelamatkanmu… itu adalah pelukan, kan? Seharusnya kau merasakan sesuatu, selain rasa penyesalan―tidak, kamu nggak boleh merasa menyesal. Itu adalah yang harus dilakukan olehku, karena hanya aku bisa.”
“Intinya, apa kamu merasakan sesuatu padaku?”
“Aku nggak akan berbohong pada oppa,” tiba-tiba Rissa berkata tegas. “Aku nggak akan jadi seseorang yang berbohong dan berkata ‘ya’ padahal tidak. Mianhae, oppa… aku tidak merasakan apa-apa padamu. Aku hanya merasa seperti… kau melindungiku karena aku seperti adikmu, itu saja.” *aiiih, kasian banget Hae ditolak Rissa*
Hae menghembuskan napas lega, “Syukurlah… karena apabila kamu jawab iya, keadaannya akan lebih rumit.”
“Maksud oppa apa?”
Hae menatap Rissa, “Kamu suka pada Kyu Hyun.”
Rissa terkejut mendengar pernyataan Hae, “Tidak!” bantahnya. Padahal itu tidak benar, mata dan pikiran Rissa tidak sikron dengan ucapannya.
“Tidak usah berbohong, Rissa. Aku tau kamu punya perasaan pada Kyu, terutama sejak dia memelukmu waktu itu…” (ada beberapa adegan Rissa ama Kyu yang nggak author masukin untuk menghemat halaman ^^)
“Jadi oppa lihat?” tanya Rissa ngeri.
Donghae menganggukkan kepalanya. “Kamu bisa menikah dengannya.”
“Apa?!”
“Menikahlah dengannya,”

Kyu memasuki kamar Hae. Aneh, kenapa Rissa kelihatan linglung begitu? pikir Kyu. Kemudian Hae berkata, “Menikahlah dengannya.”
“Waeyo?” protes Kyu, “Aku…”
“Jangan bohong, Kyu!” kata Hae tajam. “Kamu suka padanya, kan? Menikahlah dengan Rissa, gantikan aku. Waktuku tidak banyak, Kyu.”
“Kenapa tidak hyung saja?” tanya Kyu putus asa. “Bagaimanapun, hyung yang mencintainya sepenuh hati… aku… aku tidak bisa seperti hyung.”
“Kau tidak perlu menjadi seperti aku!” kata Hae, “Jadilah dirimu sendiri, karena itulah yang diinginkan Rissa.”
“Tidak!”
“Kyu, aku mohon. Seandainya aku punya lebih banyak waktu… seandainya itu terjadi, aku ingin sekali memiliki Rissa, dan bukannya menyerahkannya kepadamu. Tapi waktuku tidak banyak, Kyu. Aku sendiri tidak tahu apakah… nanti malam aku masih bisa hidup, entahlah… tapi aku tidak ingin menyakiti Rissa. Rissa hanya punya perasaan seorang adik kepadaku, tidak lebih! Dan aku tidak ingin memaksanya, seberapapun besarnya perasaan sukaku padanya. Dia hanya mencintaimu, Kyu.”
“Tapi, hyung…”
“Kumohon Kyu, biarkan kali ini perasaanmu yang bicara.”
Kyu terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
Malam harinya, kondisi Donghae menurun drastis. Dokter yang mengurusnya sudah berusaha sekuat tenaga, namun Tuhan berkehendak lain, Ia tetap ingin Donghae kembali kesisi-Nya. Donghae kembali kesisi-Nya tepat saat ia sedang dikelilingi orang-orang yang disayanginya *author nangis kejer*
Butuh waktu yang lama bagi ELF dan SuJu untuk bangkit dari kesedihan dari kepergian Hae. Banyak ELF yang memutuskan untuk bunuh diri, menyusul sang idola *amit-amit, jangan ampe kejadian deh* seperti pada waktu MJ meninggal.
10 tahun kemudian…
Rissa kembali ke Seoul setelah ia berhasil mengendalikan emosinya. Tau ga? Meski dia udah 31 tahun *gile! Tuir bener!* dia nggak pernah berpikir untuk mencari pendamping hidup. Setelah kepergian Donghae, beneran Rissa kayak kehilangan seseorang yang dicintainya. Tidak, ini bukan karena Rissa mencintai Donghae—iya, dia cinta, tapi bukan ’cinta’ yang seperti itu *paham ga?* Rissa… entahlah, dia merasa kosong tanpa Hae, aneh ya? Padahal baru berapa hari sih mereka ketemu, author nggak ngerti. Kemudian Rissa berhenti didepan rumah Hae, ia menundukkan kepalanya. Lebih baik mereka nggak tau kalo aku kesini… katanya dalam hati, lalu ia melanjutkan jalannya. Dia nggak tau mesti kemana.
”Rissa? Rissa, kan?” tanya seorang namja, Rissa menoleh, Dr. Kim Jong Woon?
”Dokter? Kenapa dokter disini?” tanya Rissa.
Yesung tersenyum, ”Nggak ngapain-ngapain, kok… cuma lagi jalan-jalan aja, ngusir suntuk.”
”Dokter bisa suntuk juga? Masa sih?” goda Rissa.
Yesung tersenyum mendengar pertanyaan Rissa. ”Coba sekarang usia dokter berapa? Mmm, 40 ya? Dokter udah punya anak belum?” *aih, author mau liat Yesung 14 tahun lagi, makin tua makin ahaaaiiii…wkwkwkwk*
Yesung tersenyum malu-malu, ”Ya udah lah, Ris. Itu… putriku,” ia menunjuk ke arah seorang gadis remaja yang manis dan berlari mendekati ayahnya. Wajahnya sama persis ama Yesung, kayak Yesung versi cewek deh, hehehe… anak cewek itu memiliki mata bulat, mungkin diwarisi dari ibunya dan tingginya sudah menyamai Rissa, padahal mungkin dia baru 9 tahun (Rissa aja 157 cm, sama kayak author :p)
”Anaknya… cantik banget, oppa.” kata Rissa. Aneh deh rasanya ngeliat cinta pertama kita sudah menikah dengan orang lain dan perasaan yang muncul dalam hati ini adalah kelegaan luar biasa, mungkin karena berhasil menghapus perasaan suka itu sendiri.
Yesung memandang putrinya dengan sayang, ”Iya… dia persis ibunya…” jawab Yesung. ”Ibunya… sangat cantik…”
”Oh ya? Mana?” tanya Rissa.
Pas banget abis Rissa nanya gitu, muncul seorang wanita yang usianya kira-kira tiga tahun dibawah Yesung, ia membawakan tiga minuman dingin *author ga masangin Yesung ama artis Korea yee… hehehe, takut sakit hati sendiri :p* ”Chagi, ini minumnya… lho? Ini Rissa ya?” tanya wanita itu. Yesung mengangguk.
”Annyeonghaseyo… ngg, kok tau namaku ya?” tanya Rissa heran.
”Yesung sering cerita tentang kamu. Terima kasih ya…”
”Terima kasih untuk apa?”
”Untuk segalanya.” kata wanita itu misterius dan ia tersenyum. ”Rissa, aku balik dulu ya? Harus ada yang dikerjakan lagi.” kata Yesung sembari menggandeng istri dan putrinya. Rissa menganggukkan kepalanya dan berjalan lagi.
Haaah, udah berjalan lamaaa banget dan sepanjang perjalanan Rissa bertemu dengan member SuJu yang udah pada merit semua *kalo diceritain semua, bakalan panjang* tapi… Rissa nggak bertemu dengan Kyuhyun.
Ketika Rissa berjalan ke Museum Teddy Bear, ponselnya bergetar. Rissa melihat nama pengirimnya.
Cho Donghae.
Deg! Donghae mengirim pesan kepadanya? Dengan tangan gemetar, Rissa membuka pesan tersebut.

TJUV QBUFOHHBOH
KBXB CBSBU
JOEPOFTJB

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s