[FF] JEWEL OF DESTINY CHAPTER 13

SHIN HYUN RIN POV

“Aku pulang!”

Aku bergerak terburu-buru untuk membuka pintu begitu mendengar suara itu. Itu Kyuhyun dan aku tau banget nada suaranya ini. Dia pasti capek. Tentu saja, soalnya dia memiliki banyak sekali jadwal hari ini dan baru sampai dini hari saat aku sedang membaca Qur’an. Kulepas mukenaku dan membuka pintu, kemudian tersenyum melihat sosok kusut didepanku.

“Ayo, cepat masuk!” ujarku menarik tangannya, aku tidak memperlihatkan wajahku dari balik pintu karena aku yakin sekali ada wartawan yang memperhatikan rumah ini. Untung saja halaman belakang ada rumah lain, jadi tidak dapat diawasi dengan bebas kecuali orang itu mau disangka maling. Oleh sebab itu untuk dapat bolak-balik ke sini, aku memilih untuk datang lewat halaman belakang.

Kutuang air dingin dari kulkas dan menyodorkannya pada cowok yang sedang menghempaskan dirinya di sofa. Benar kan dia capek banget, lihat saja wajahnya yang putih pucat seperti mayat, make-upnya masih menempel diwajahnya, pakaiannya rapi namun agak kusut―lalu dia meminum airnya sambil menarik dasi yang melingkari lehernya―serta lingkaran hitam yang mulai terlihat di bawah matanya itu.

“Sudah, kamu tidur saja sana.” kataku bernada kasihan dan menarik tangannya. Aku tersentak begitu menyadari betapa dinginnya tangan putih itu, lalu aku memperhatikan telapak tangannya, dia sangat kurus―tidak separah dulu sih. Itu dapat dilihat dari urat-urat ditangannya yang bertonjolan, lalu aku menelusuri garis-garis urat di telapak tangannya sambil bertanya-tanya, sudah berapa lama dia tidak makan?

Kyuhyun menggeleng, “Satu jam lagi aku ada jadwal…” katanya dengan nada pelan. Sepertinya dia sudah hampir ambruk, seandainya dia tidak langsung menjatuhkan dirinya ke sofa. Suaranya terdengar agak serak dan agak linglung.

“Tidak bisa ditinggalkan?”

Dia menggeleng.

Aku menghela napas, “Kalau begitu kau harus istirahat…” aku mengambil selimut yang sudah kupersiapkan dan membuat tubuhnya telentang di sofa panjang. Kyuhyun menghela napas panjang, seperti senang sekali bisa membaringkan tubuhnya. Lalu napasnya yang tidak beraturan berubah menjadi teratur dan ia terlelap sempurna.

Cepat sekali dia tidur, pikirku. Aku memandanginya sambil berpikir, sudah berapa kali aku mengagumi ketampanannya itu? Bahkan di saat dia tidur saja dia terlihat seperti malaikat, malaikat tampan. Kutatap matanya yang tertutup, lalu pelan-pelan kusentuh pipinya yang tirus, hidungnya yang mancung, dagunya yang panjang, dahinya yang lebar, serta rambutnya yang kecokelatan. Kusibakkan rambut yang menutupi dahinya dan menemukan sebuah bekas luka.

Aku mengernyit melihatnya, lalu dengan perlahan aku menelusuri luka itu. Masih baru, seperti… baru beberapa minggu mengering… lalu aku menghitung hari… saat pertama aku bertemu dengannya, sepertinya luka ini tidak pernah ada. Tapi… kenapa sekarang ada? Kutatap wajah tampan itu, apa dia mengalami kecelakaan lagi?

Paginya…

Aku duduk di depan TV sambil mengunyah kentang goreng yang baru aku masak. Kemudian tubuh yang ada di sofa panjang itu menggeliat dan wajahnya menyembul dari balik selimut. Ia membuka matanya malas dan melirik jam tangannya. Mata malasnya langsung terbuka lebar begitu melihat angka yang ditunjuk jam tersebut.

“Kenapa kau tidak membangunkanku?” seru Kyuhyun panik sambil bangkit dari sofa dan mendekatiku.

”Apa sih?” tanyaku tak sabar, kemudian Kyuhyun menghalangi pandanganku, ”Hei, minggir sana!” seruku sambil mendorong tubuhnya ke samping. Dengan gontai Kyuhyun duduk disampingku. ”Jawab aku!” bentaknya.

“Apa sih?” ulangku tanpa mengalihkan pandanganku dari TV. Iiih, ini kan adegan seru dimana sang profesor telah menemukan obat untuk mengatasi virus tapi kemudian ada seorang FBI yang ngambil sampel virus, terus―

“Kenapa kamu nggak bangunin aku?! Aku kan udah bilang sejam yang lalu kalau aku ada jadwal!”

“Ooh…” aku manggut-manggut. “Itu toh yang bikin kamu marah. Tenang aja sih, aku udah bilang sama Seunghwan oppa kalau hari ini kamu sakit. Terus dia ngijinin kamu buat istirahat deh.” kataku santai.

“APA?!” Kyuhyun terkejut mendengar jawaban sepeleku dan dia memutar tubuhku ”Apa-apaan kau?! Aku? Sakit? Yang mana?!”

Sambil menghela napas, aku mematikan TV dan menatapnya tajam, “Kamu tanya aku kamu sakit yang mana? Seharusnya kamu sadar sendiri!”

“Tapi aku nggak sakit, Shin Hyun Rin!” balas Kyuhyun tak kalah tajam.

“Oh ya?” tanyaku sinis, lalu aku menyibakkan rambut cokelatnya dan menunjuk koreng di dahinya, “Lalu itu apa? Bekas jahitan itu apa?! Jangan bohong sama aku kalau itu luka lama, karena itu omong kosong! Luka lama tidak akan berbentuk seperti itu! Itu luka pasti berumur sekitar beberapa minggu dan kau menyembunyikannya dariku! Sekarang jelaskan padaku itu apa, baru aku akan memutuskan kau sakit atau tidak!”

Kyuhyun menyentuh luka itu, lalu dia menatapku tanpa ekspresi. Dan selang beberapa waktu, senyum terulas dari bibirnya.

“Ngapain kamu nyengir-nyengir kayak kuda begitu?” tanyaku sebal. “Aku kan nanya bukan nyuruh kamu senyum, dasar aneh!”

Senyum Kyuhyun bertambah lebar dan dengan sengaja ia malah mendekatkan dirinya ke depanku, “Kok tumben kamu peduli sama aku?” tanyanya menggoda dan ia tersenyum nakal.

“Tumben?” balasku sinis, “Perasaan aku emang bawel deh kalau ada apa-apa sama kamu. Jangan berlagak seolah-olah aku jahat deh,” sungutku.

Kyuhyun menarik leherku, kemudian dia mencium pipiku yang berdekatan dengan bibirnya. Lalu sambil melamun dia berkata, “Memang kamu jahat.”

“Apa?!” aku langsung menjauhinya, namun dengan semena-mena dia langsung menarikku mendekat lagi.

“Maksudku karena ini, kau tidak mau ada disisiku. Kau selalu saja berada jauh dariku, padahal aku sangat membutuhkanmu. Kau… adalah napasku.”

“Basi.”

“Heiii!!! Kau ini, aku sedang berusaha romantis tau! Tidakkah kau tau betapa gugupnya aku saat harus mengucapkan kata-kata menggelikan itu?”

“Kalau begitu tidak usah saja…” balasku cuek.

“Kau―“

Aku langsung menutup bibirnya dengan telunjukku. Kutatap kedua bola matanya dalam-dalam, “Aku tidak pernah memintamu untuk mengatakan hal-hal yang romantis, kalau itu membuatmu merasa tidak nyaman. Yang aku inginkan hanya kau jujur kepadaku, aku hanya ingin kau. Sama seperti kau yang menginginkan aku. Karena itu, tolong, jangan sembunyikan apapun dariku.”

“Tapi, aku―”

Sebelum Kyuhyun menyelesaikan ucapannya, aku sudah mendorong tubuhnya menjauh. “Kalau kamu masih tidak mau menjelaskan kenapa kamu terluka, biar aku pulang saja.” aku mengancamnya dan setengah berharap dia akan luluh dan menceritakan (yah, meski tidak terlalu berharap mengingat aku masih belum bisa menebak seperti apa jalan pikirannya) yang terjadi padanya. Saat aku sudah berjalan sepuluh langkah, tangan Kyuhyun meraih pergelangan tanganku.

“Lepaskan!” kataku lemah.

“Jangan pergi!” kata Kyuhyun dengan nada memerintah, kemudian dengan sedikit sentakan ia pun memutar tubuhku menghadapnya dan memaksa wajah itu menatapnya.

“Kenapa kamu marah?”

Dengan sinis aku menjawab, “Kalau aku tidak begitu, apa kamu akan mengerti apa artinya aku di sini? Untuk apa aku menjadi istrimu apabila kau tidak pernah memberitahuku apa yang terjadi padamu?”

“Ini bukan apa-apa, Rin… sungguh…”

Aku melihat Kyu, aku dapat merasakan kalau Kyu menyembunyikan sesuatu darinya. “Kalau begitu jelaskan itu kenapa.”

“Sungguh, Rin…”

”Jelaskan!” perintahku tidak sabaran. “Oh, atau seperti ini caramu untuk berpisah? Kalau itu maumu, bilang saja dengan jelas, Cho Kyuhyun. Tidak usah berbelit-belit. Fine, I’ll go.” Aku memutuskan begitu sambil menepis tangan Kyuhyun, kemudian aku meninggalkan rumah itu, hanya dengan membawa sebuah kartu debit. Aku akan pulang, ke Indonesia.

Indonesia, keesokan harinya…

Hmmmm…. pagi ini mendung sekali. Cuaca favoritku. Aku membuka jendela dengan wajah cerah di pagi kelabu ini sambil menghirup udara yang masih cukup sejuk untuk ukuran jam sembilan pagi. Aku berangkat dari bandara sekitar jam lima sore dan sampai ke rumah jam satu tengah malam kemudian langsung tidur. Aku melamun saat menatap sebuah awan berwarna abu-abu. Kyuhyun sedang apa sekarang? Biasanya jam segini dia pasti masih berkencan dengan iMac-nya kemudian kalau perutnya lapar, dia akan berteriak minta makan kepadaku… ah, hentikan! Aku menghapus bayangan itu dari kepalaku. Semasa bodoh deh dia mau ngapain sekarang! Yang penting, kalau dia nggak mau cerita sama aku apa yang terjadi, aku nggak akan mau balik lagi ke Seoul. Untung banget sekarang dan besok lagi libur, jadi aku nggak perlu khawatir dengan kuliah.

Setelah mencuci muka, aku turun ke lantai bawah dan mengendus wangi roti bakar. Aku tersenyum saat membayangkan roti hangat yang renyah itu ditaburi meises cokelat, sarapan favoritku. Kemudian aku ke dapur.

“Bundaaa~~” ucapku bernada manja pada ibuku yang tengah membuat sayur rebung. Beliau menoleh dan menatapku, “Tumben udah bangun.” ucapnya bernada menyindir. Yah, biasalah kalo bangunnya telat pasti umma bete deh.

Aku nyengir, “Ayolah umma… aku kan capek abis perjalanan dari Seoul ke sini. Lagipula aku kan sudah shalat sebelum lanjut tidur. Jadi jangan marah dong.” kataku membujuk.

“Hmm…” bundaku tampak berpikir, “Baiklah. Sepertinya kamu benar juga. Tapi tetap saja, kamu ini kan sudah menikah. Tidak baik sering bangun siang. Pamali tau.”

Aku mengerucutkan bibir, bunda nggak tahu aja kalau selama di Seoul aku sering bangun siang kalau libur, kataku dalam hati. Tapi tentu saja aku tidak akan mengakuinya dihadapan ibuku. Karena aku tidak tahu harus bicara apa lagi, aku pun hanya tersenyum.

Sembari mengaduk kuah, tiba-tiba bunda nyeletuk, “Oh ya, kenapa kamu pulang? Tumben nggak barengan sama Kyuhyun.”

Tanganku sedikit tergetar mendengar namanya disebut. Namun aku dapat mengendalikan diri dan menjawab, “Kyu… dia sih ada show, biasa lah namanya aja penyanyi, jobnya banyak.” jawabku sekenanya.

“Ooohhh… bagus deh kalo begitu.”

Alisku terangkat, “Bagus kenapa?” tanyaku sambil menatap ibuku.

“Bagus, kalau begitu dia laki-laki yang bertanggungjawab. Dia tahu kalau dia sudah menikah, ada anak orang yang sudah menjadi tanggung jawabnya, jadi dia berusaha keras untuk menghidupinya.” Ibu tersenyum, “Tuh kan, bunda bilang apa. Kamu beruntung dapat cowok kayak dia.”

“Ada juga dia yang beruntung dapet aku!” sindirku memprotes. “Lihat saja bunda, dia itu nggak bisa apa-apa kalau aku nggak ada…” seketika aku terdiam dan ingatanku tentang cerita Kyu yang nggak bisa makan apa-apa kalau aku nggak ada muncul.

Kelihatannya bunda menyadari perubahan wajahku, “Terus… kenapa kamu pulang sendiri? Nggak kasihan kamu sama dia?”

Aku menggeleng.

“Oke. Tapi so far kamu baik-baik aja kan sama Kyu?” tanya bunda.

Aku mengangguk, kali ini berhati-hati. “Kenapa?”

Bunda menatapku dengan intens, “Kalau begitu kalian bisa kan merencanakan untuk punya keturunan?”

Kedua bola mataku membesar. Hell, oh! Dulu menikah, sekarang anak?!

“Tidak. Tidak bisa.” kataku memutuskan. Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba bunda menyebut topik seperti ini? Serius, aku benci topik ini.

“Kenapa? Memangnya kamu nggak mau punya anak?”

“Sejujurnya? Nggak tuh.” aku menjawab dengan nada datar.

“Ya Allah, Deena… kamu tuh ya, dulu nikah aja mesti dipaksa, sekarang apa perlu bunda maksa kamu buat punya anak?” setelah bertanya, bunda terdiam. Lalu ia memekik pelan, “Astagfirullah! Jangan bilang waktu malam pertama kamu…”

“Apa?”

“Kamu tidak melakukan itu?” tanya bunda sambil menggerakkan telunjuk dan jari tengahnya membentuk tanda kutip.

“Nggak lah!” dengan keras aku menjawab. “Begitu acara selesai, bunda kan nyuruh kami buat tidur di penthouse, nah ya udah deh, sampe sana langsung tidur.” Yeah, kami memang melakukan ‘itu’. Tapi waktu di penthouse kan nggak, jadi itu nggak masuk hitungan. Dan tidak akan pernah masuk dalam hitungan.

Bunda ternganga, ya Tuhan… berlebihan banget sih reaksinya. “Jadi sejak menikah kamu belum melakukan apa-apa???” tanyanya memastikan.

“Iyap!” jawabku riang.

“Deena!” bentak bunda tidak sabar. “Kamu ini sudah menikah! Mau sampe kapan kamu mau nunda punya anak? Apa kamu benar-benar mau seperti bunda? Punya anak saat sudah tua?! Ya Allah, kenapa… kenapa putriku seperti ini….?” begitu mendekati akhir kalimat, tiba-tiba saja bunda sudah menangis histeris. “Ya Allah, salah apa… salah apa aku membesarkan putriku?” ratapnya kemudian.

Aku mengerang, “Bundaaa… jangan berlebihan ah!”

Bunda berhenti berakting nangis, “Apanya yang berlebihan!? Memangnya salah kalau bunda mau lihat kamu punya anak?”

“Salah! Karena aku masih 18 tahun dan aku tidak mau melewatkan kuliahku dengan perut membuncit!”

“Memangnya sekarang perutmu tidak buncit?” tanya bunda sambil memukul pelan perutku.

“Ih, itu kan beda kasus! Ah, tau deh! Pokoknya aku nggak mau punya anak!” dari Kyuhyun, tambahku dalam hati. Aku memanyunkan bibirku dengan sikap sebal. Demi Tuhan, kenapa sih orangtuaku ini heboh banget soal nikah? Yah, oke… memang sejak menikah aku memang sering memikirkan soal punya anak. Tapi tidak secepat ini! Maksudku, aku kan masih 18 tahun, masih ada banyak waktu bagiku untuk punya anak. Misalnya saja aku punya anak di usia 22 tahun, kalau anak aku selesai kuliah, katakanlah usia 23 tahun, aku kan masih 45 tahun (sulit banget membayangkan aku berusia kepala 4. Tapi serius, life is go on, jadi mau nggak mau aku pasti bertambah tua, huuhhh… coba aja Kyuhyun itu Edward Cullen, aku pasti maksa dia buat mengubahku jadi vampir. Ya ampun, aku bener-bener korban Twilight Saga) dan kalau melihat dari usia produktif seorang pekerja, biasanya mereka yang cewek baru akan pensiun sekitar usia 50 tahun dan cowok 55 tahun. Nah! Kalau begitu, kenapa sih orang tuaku mesti khawatir?!

Tapi sejak bunda menyinggungnya, entah kenapa aku kepikiran juga. Maksudku, aku lumayan suka dengan anak kecil. Mereka itu sangat menggemaskan, polos, dan juga imut. Aku suka sekali bermain dengan anak-anak dan waktu di Indonesia aku pernah mengajar anak SD. Memang sih ada beberapa yang suka bikin rusuh, tapi nggak separah anak SMA. Anak kecil jauh lebih bisa dibilangin daripada anak yang udah dewasa, soalnya anak yang udah menginjak remaja, selain otaknya berkembang lebih pesat, mereka juga punya banyak banget tuh pertimbangan kenapa mereka melakukan ini atau itu. Beda sama anak kecil, mereka cenderung meniru atau ngikutin apa yang orang dewasa lakukan. Kalau dari kecil mereka diajarin yang baik-baik, biasanya nanti pas udah beranjak remaja udah jadi anak baik.

Tapi di luar masalah anak kecil itu, aku hanya… tidak suka punya anak. Kalau boleh, aku malah lebih suka adopsi. Selain karena aku benci dengan operasi atau apapun yang namanya buat mengeluarkan satu nyawa dari dalam tubuh cewek, aku juga benci dengan Kyuhyun dan tidak mau punya anak untuknya. Lagipula kalau adopsi kan berarti aku ikut membantu mengurangi jumlah anak terlantar yang ada di sini, bukan? Kenapa mesti nambah-nambahin penduduk dunia aja?

Tapi lagi, entah kenapa usul bunda juga menjadi pikiranku. Aku… kupikir… sepertinya bukan masalah besar kalau aku punya anak dari Kyuhyun. Kalau perempuan, aku ingin ada Kyuhyun dalam paras putriku dan mungkin juga aku. Tapi bukannya anak perempuan cenderung mirip dengan ayahnya? Aku jadi teringat dengan Kyuhyun versi cewek di Super Show, dan aku bertanya-tanya apa kelak putriku akan berwajah sepertinya kalau dia sudah besar?

Tapi aku harap putriku tidak maniak game seperti ayahnya.

Oh, sudahlah… lupakan soal anak. Kenapa sih aku ini??? Aku memainkan tanganku sambil merenung, kenapa sih hidup itu harus sestatis ini? Dewasa kemudian menikah karena dipaksa kemudian punya anak karena dipaksa juga? Kenapa tidak dewasanya dipaksa juga ya? Ah, tau deh…

Kemudian aku sarapan sambil bertanya-tanya, kenapa si bodoh itu belum menyeretku pulang ya? Tumben banget dia nggak pedulian gitu. Tiba-tiba aku langsung sadar, ya ampunnn… mikir apa sih aku? Sudah ah, lupakan si bodoh itu. sekarang lebih baik menenangkan diri dan jangan mau jadi pembantu si bodoh itu terus.

“Kamu pasti berantem sama Kyuhyun, ya kan?!” seru kakakku tiba-tiba sambil mengagetkanku dari belakang.

“Apa?” tanyaku kaget sambil memutar kepalaku.

Kakakku mengambil stroberi dan langsung memakannya dalam satu suapan sebelum menjawab, “Iya kan? Aku sering lihat kok di drama TV, pasangan yang lagi berantem… yang cewek pasti melarikan diri dari si cowok. Nah, sekarang kamu kenapa sama si Kyuhyun? Bukan masalah WGM lagi kan?”

Aku membelalakkan mataku, “WGM??? Kakak tahu darimana?!”

“Ya tentu saja dari Ahra dong!” jawab kakak sambil memutar kedua bola matanya seakan-akan pertanyaanku itu sangatlah konyol dan seharusnya aku sudah mengetahui jawabannya sebelum bertanya. “Tau nggak, menurutku apa yang kamu lakukan itu konyol. Masa berantem dari jadi pembantu trus berhenti, trus kamu bilang suka, trus berantem lagi?! Aigooo~~ aneh deh!”

Aku memanyunkan bibir, cemberut mendengar ejekan kakakku. “Habisnyaa~ Kyuhyun ikut WGM lagi sih! Aku kan marah!”

“Ya ampun, Deena! Itu konyol! Lagian juga, Kyuhyun juga udah bilang kalau dia nggak punya perasaan apa-apa sama pasangan virtualnya! Kenapa kamu mesti sekesal itu sih?” tanya kakaknya dengan gemas.

“Huh, kakak bisa bilang begitu karena kakak nggak suka sama Kyuhyun! Coba ya, kalau Song Joong Ki ngalamin seperti yang Kyuhyun alamin. Memangnya kakak nggak bakalan ngamuk?” tanyaku menantangnya. Soalnya kakak kan suka banget sama itu cowok.

Kakak berpikir sebentar, kemudian dengan lagak polos dia menjawab. “Nggak tuh.” jawabannya santai banget.

“Isssh… kalau gitu… kalau Tom Cruise gimana?”

Kakak memutar bola matanya, “Peduli amat gitu? Dia sendiri udah punya anak!”

“Iiiih, ya udah! Kalo gitu Matt Damon?!”

“Itu mah sama aja.”

“Daniel Radcliffe?”

“Hmmm… nggak ah, biasa aja juga tuh.”

“Aaaarrrggghhhh!!!” jeritku sebal sambil mengacak-ngacak rambutku frustasi. Kakakku terkekeh pelan, “Makanya, jadi cewek jangan terlalu suka sama cowok. Jadinya begitu kan?”

“Huh! Sebenernya kakak sukanya sama siapa sih? Sampe kalo mereka deket-deket sama cewek, kakak nyantai aja.”

“Hmm…” dengan gaya sok cool—persis seperti si raja setan—kakak bersedekap dengan gaya berpikir. Kemudian dia mengangkat wajahnya.

“Aku suka semuanya kok, yang kamu sebut barusan.” katanya lancar.

“Nah, terus? Kenapa sikap kakak nggak kayak fans kebanyakan—hmm, seperti cewek kebanyakan ding, hehehe… memangnya kakak nggak cemburu? Nggak sakit hati atau gimana gitu?”

Kakak menghela napasnya. “Yah, aku bohong sih kalau aku bilang nggak pernah sedih atau galau atau gimana. Tapi… aku nggak mau ngabisin air mata aku buat orang yang belum tentu, atau malah nggak akan pernah nangis buat aku. Air mataku terlalu berharga, tau!”

“Masaaa???” tanyaku menggodanya sambil menyenggol-nyenggol bahunya.

“Beneran deh, Na. Kamu itu nggak usah mikirin si Kyuhyun! Namanya cewek, nggak baik terlalu menunjukkan rasa sukanya ke cowok.”

“Eh, emansipasi lagi, kak!” protesku.

“Emansipasi apanya? Coba sekarang, kamu sering dijahilin sama si Kyuhyun karena apa coba?”

Aku berpikir sebentar, “Emang hobinya kali.” jawabku sekenanya. Terus terang aja, aku aja juga nggak ngerti kenapa dia hobi banget ngusilin aku.

Kakak memutar kedua bola matanya sok dramatis. “Ya ampun, Deeenaaaa!!! Masa begitu aja nggak ngerti sih? Udah jelas kan? Itu karena dia tau kalo kamu itu fans dia! Makanya dia yakin banget kalo kamu nggak mungkin ninggalin dia! Kenapa? Dia itu idola kamu, orang yang paling kamu cintai di dunia ini!”

“Pede banget!” seruku marah. “Aku lebih sayang bunda, ayah, kakak… aku lebih sayang kalian dibanding makhluk jahat itu!”

“Nah, makanya~~ mestinya kamu jangan pernah bilang suka sama dia.”

“Tapi sekarang kan aku istrinya. Dan nggak mungkin dong tiba-tiba aku bilang aku benci dia tanpa alasan.”

“Nah, itu dia dodolnya kamu. Kamu malahan dengan bodohnya bilang kalo kamu itu fans dia. Itu tuh letak dodolnya kamu! Sekali kamu bilang begitu, cowok nggak akan bisa lupa gitu aja. Apalagi cowoknya jenis Kyuhyun.”

“Yaaaahhh~~~ bilang kek udah telat!” kataku mengeluh sambil menjitak kepala kakakku. Kemudian kami berdua diam, dan setelah beberapa menit dalam keheningan, kemudian ayahku pulang dari masjid dan mengajak kami sarapan, akhirnya setelah pembicaraan itu selesai, aku mulai lupa dengan topik Kyuhyun. Yah, sesekali memang aku ingat. Tapi sesudah itu, aku lupa lagi.

Dan hal yang sama terus berlanjut untuk dua minggu berikutnya.

Aku merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Kuraih iPhone dan menyalakan layarnya, berharap menemukan pesan atau telepon darinya. Tapi tentu saja, nihil. Aku kembali menaruh ponsel itu disampingku sambil bertanya-tanya, apakah Kyuhyun masih ada dalam ingatanku? Aku takut sudah dua minggu tidak bertemu dengannya, aku lupa pada bagaimana rupanya, matanya, hidungnya, bibirnya yang melengkung membentuk senyuman. Banyak senyuman; senyum lebar, senyum tipis, senyum menggoda, senyum setan… semua senyuman itu masih terpatri jelas dalam ingatanku. Kupejamkan mataku dan berusaha mengingat tubuhnya yang hangat saat memelukku, harum parfumnya yang menenangkan… tangannya yang membelai rambutku sayang, jemarinya yang lentik meraih daguku… tatapan matanya yang teduh, ceria, bete, jutek, lucu, konyol… aku bersyukur aku masih mengingat semua itu.

Hhh… baiklah, aku menyerah. Aku marah!!! Aku tidak akan peduli lagi sama si maniak game itu lagi! Mungkin saja sekarang dia sudah kembali ke cinta lamanya si Starcraft, Sudden Death, dan apa lagi coba itu? Perasaan aku juga suka game, tapi nggak separah si Kyu.

“Merindukanku?”

Tiba-tiba aku mendengar suara bass si setan itu. Bagus aku mulai berhalusinasi. Abaikan, abaikan…

“Hei!” suara bass itu kembali memanggil, aku mulai delusional. Aku yakin itu. Maksudku, apa sih yang salah dariku? Kan nggak mungkin—

Bruukk!! Seseorang ikut tidur disampingku, kemudian dengan seenaknya ia melingkarkan lengannya disekeliling pinggangku dan menumpukan dagunya dibahuku.

Aku memutar tubuhku, berniat menghajar orang tidak sopan itu. Namun aku urung melakukannya. Lantaran yang memelukku itu adalah…

KYUHYUN!!!

“Ngapain kamu ke sini?” tanyaku cemberut.

“Kamu marah ya?”

“Nggak, aku nggak marah.”

“Kamu marah.”

“Nggak. Kenapa aku mesti marah karena kamu nggak menghubungiku selama dua minggu. Itu empat belas hari. Itu 336 jam. 20.160 menit dan 1.209.600 detik kamu nggak kasih kabar. Buat apa marah?”

Kyuhyun tertawa kecil, “Kan~ kamu marah.”

Aku diam.

Kyuhyun memainkan rambutku, hobi favoritnya, dan membiarkan rambut-rambutku yang halus itu berjatuhan dari sela-sela jarinya. Kemudian ia menyelipkan sedikit rambutku yang jatuh kewajah ke belakang telingaku. Ya Tuhan, aku baru sadar kalau aku memang merindukannya.

“Iya…”

“Apa?”

Aku sempat ragu-ragu, dia kan pasti ge-er setengah mati. Tapi kuputuskan untuk mengatakannya saja.

“Aku merindukanmu.”

Kyuhyun tersenyum, senyuman tercerah pertama yang kulihat dalam kurun waktu dua minggu terakhir ini. Gelombang kelegaan merasuki tubuhku dan aku merasa seperti ada kupu-kupu beterbangan didalam tubuhku saat aku melihat senyuman itu.

Kemudian Kyuhyun memelukku erat sekali dan berkata.

“Seperti aku merindukanmu.”

Entah sudah berapa lama kami berpelukan, kemudian aku bangun dari tidurku dan bertanya, “Kyu! Gimana caranya kamu bisa ke sini?!” tanyaku heran.

“Bisa lah! Kan aku lagi nggak ada syuting sama latihan.” jawabnya santai.

Aku memandangnya skeptis, “Masa?”

“Iya deh, kamu tahu aja… iya, aku kabur. Kenapa? Mestinya kamu senang dong aku kabur dari Korea ke sini cuman buat minta maaf sama kamu.”

“Iya sih, aku seneng. Tapi kan nggak bagus buat kamunya, Kyu. Masa bolos kerja mulu sih, nggak bagus tahu.”

“Iya, tuan putri baweeel~~” dengan nada gemas, ia mencubit hidungku. “Nanti juga aku pulang sih… sekarang…” dia menarikku kembali ke dalam pelukannya dan berkata, “aku mau charger tenaga dulu, dari tadi lemessss~ banget!” ujarnya.

Aku menyentuh tangannya yang melingkar di bahuku, “Emangnya kamu ngapain aja sampe capek begitu?”

“Ditinggalin kamu.”

Aku melepas pelukannya, untuk menatapnya. Soalnya aku bingung, emang apa hubungannya ditinggal aku sama dia capek?

“Nggak ada yang bisa aku pelukin, nggak ada yang bikinin aku masak, nggak ada yang bisa aku jahilin. Jadinya… membosankan sekali dua minggu ini, hufff…” dia menghela napasnya panjang.

“Jadii!!!” aku ngambek dan memukul wajahnya dengan bantal. “Selama ini aku ada cuma buat jadi guling, pembantu, sama boneka?!”

“Iya!! Kamu itu guling aku, pembantu aku, dan boneka aku! Jadi nggak boleh seenaknya kabur!”

“Issh~ orang macam apa kamu ini…”

Mendadak aku melihat wajah Kyuhyun berubah muram.

“Ada apa?” tanyaku cemas.

“Aku sedang berpikir…”

“Tumben sekali kau berpikir,” candaku. Namun Kyuhyun tidak tertawa. Ia malah menatapku dengan tatapan serius.

“Shin Hyun Rin. Ini masalah besar.”

Melihat tatapannya, aku tahu kalau dia tidak sedang ingin bercanda.

“Ada apa?” tanyaku.

Kyuhyun terlihat menimbang-nimbang, “Ada apa? Apa yang terjadi?” tanyaku. Namun sebelum ia menjawab, terdengar bunyi dari ponselku. Aku mengambilnya dan melihat ada satu pesan masuk. Dari Min Hae.

Isinya pendek.

Cek Twitter.

Perasaanku mulai tidak enak, dengan tangan gemetar, aku mulai membuka Internet dan membuka Twitter. Aku melihat ada satu mention dari Min Hae yang menghubungkanku dengan satu portal berita Kpop. Aku membaca judulnya.

KYUHYUN ‘SUPER JUNIOR’ DAN SEO MIINAH DIKONFIRMASI MENJALIN HUBUNGAN.

Aku membuka link yang diberikan Min Hae, kemudian membaca beritanya. SM mengonfirmasi kebenaran berita itu, dan mereka menjawab…

Iya.

Aku tersuruk di bangkuku. Kemudian tangan Kyuhyun menyentuh bahuku.

Aku menepisnya.

“Rin…”

“Pergi.” Aku mengusirnya. Kepalaku kacau. Aku pusing sekali.

“Rin, dengar dulu…”

“Kumohon, Kyuhyun… just… go.”

“Tidak!”

Aku memutar tubuhku, jengkel. Air mataku merebak, “Pergi! Aku bilang pergi, ya pergi! Kau ini bodoh atau―”

Kyuhyun kembali mengguncang tubuhku, “Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum kau mendengar penjelasanku!”

Aku meronta-ronta, “Tidak ada penjelasan! Aku tidak butuh penjelasan! Kalau kau memang ingin pergi, pergi saja! Kalau kau ingin cerai, cerai saja! Pergi! Pergi!!!”

“SHIN HYUN RIN!!!” bentak Kyuhyun menghentikan teriakanku. Ia menggamit tanganku. “Dengarkan. Aku.” Ia menekankan kalimat terakhirnya dan memaksa wajahku untuk menatapnya. “Jangan begini, jebal. Aku tidak ingin kau salah paham lagi. Aku ingin kau mendengar semuanya dariku. Bukan dari orang lain.”

“Untuk apa?” bisikku. “Kau… kau sampai seperti ini… artinya ini semua benar, kan? Kau memang―”

“Ya. Aku… memang… dengan Miinah…”

“Lalu penjelasan apa lagi yang mau kau berikan padaku?” tanyaku sendu.

“Dia memanfaatkan kelemahanku. Rin, dia tahu kau.”

“Aku tidak paham maksudmu.”

“Seo Miinah… dia tahu tentang kau, dan juga… pernikahan kita.”

Kali ini aku paham. Aku mengangkat wajahku, “Bagaimana―?”

“Aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa mengetahui rahasia ini. Tapi yang jelas, kita tidak bisa bersama untuk sementara waktu. Aku ingin mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini.”

“Jangan!” aku menarik lengannya. “Aku takut…”

Kyuhyun tersenyum lembut, “Aku tidak akan meninggalkanmu. Percayalah.”

Aku menggelengkan kepala cepat-cepat, “Jangan, Kyuhyun… aku mohon, jangan pergi…”

Kyuhyun menyentuh tanganku dan mengusapnya. “Aku juga merasa berat melakukan ini. Tapi… aku sudah tidak ingin hidup dalam kebohongan lagi.”

Mataku membesar, apa maksudnya?

“Aku akan memberitahu dunia, aku sudah menikah. Bersama kau.”

Korea Selatan…

“Seohyun!” panggil Yoona. Gadis itu menoleh, kemudian menatap eonni-nya. “Yoona eonni… ada apa?”

“Adikmu, Miinah… apa ini benar?”

Dahi Seohyun berkerut, kemudian ia mengambil tablet yang disodorkan Yoona. Ia membaca artikel yang tertulis. Matanya terbelalak. Ia mengangkat kepalanya, sedih.

“Hyun Ah…”

Sementara di tempat lain, Seo Miinah sedang berhadapan dengan wartawan. Dengan senyum artisnya, ia menjawab setiap pertanyaan dengan tenang. Bagi gadis itu, skandal bukanlah masalah. Ia tidak peduli dengan fans yang sudah pasti akan meneror hidupnya. Ia tidak akan peduli.

Selama Kyuhyun menjadi miliknya.

Flashback…

“Oppa!” panggil Miinah begitu ia melihat sosok Kyuhyun didepannya turun dari mobil. Sudah berapa kali ia mengatakan bahwa ia sangat jatuh cinta pada sosok itu? Seakan bertemu setiap hari tidak cukup. Gadis itu selalu jatuh cinta setiap kali melihat pria itu. Kali ini harus berhasil! tekad gadis itu kuat.

“Hai.” balas Kyuhyun alakadarnya. Bukan apa-apa, di belakangnya ada beberapa gadis, mungkin dua atau tiga orang yang sedang mengintainya. Dia sudah diberi peringatan oleh SM, skandal dirinya dengan Miinah mulai meninggi. Ia harus menjauhi gadis itu. Bagi Kyuhyun, itu jelas perintah cemerlang.

“Oppa!” kembali, seperti biasa, gadis itu menggamit lengan Kyuhyun. Seolah-olah menunjukkan pada seluruh dunia bahwa MEMANG dialah kekasih Kyuhyun.

“Miinah, hentikan!” desis Kyuhyun. “Apa kau tidak baca berita?”

“Baca.”

“Tolong lihat ada artikel kau dan aku. sebaiknya―”

“Jangan hentikan.” Miinah menunjukkan wajah seriusnya.

Kali ini dengan enggan Kyuhyun menatap gadis itu, “Apa maksudmu?”

“Jangan hentikan berita itu. Biar saja, jadilah kenyataan.” Miinah menunjukkan wajah datar dan dingin. Ekspresi yang tak pernah diperlihatkannya kepada Kyuhyun.

Mata Kyuhyun membesar, melihat apa yang dibawa oleh gadis itu.

“DIA TAHU!” seru Kyuhyun marah di dorm.

“Tenang, Kyuhyun…” kata Siwon. Kyuhyun mendelik, “Aku tidak sepertimu, Siwon. Percayalah, seumur hidup, belum pernah aku begitu merasa ingin menampar seorang gadis.”

“Kita akan cari jalan keluarnya, jernihkan pikiranmu.” ujar Kangin yang sedang duduk di sofa. Donghae yang ada di samping Yesung bergeming. Namun kemudian ia membuka mulutnya, “Kau terima saja kemauan gadis itu, Kyu.”

Kyuhyun menatap Donghae, “APA?!”

“Aku sudah menduga semua ini. Hubungan kalian pasti akan ketahuan, cepat atau lambat. Aku sudah bilang kan? Kalau kau tidak berani mengatakan pada dunia siapa yang menjadi pilihanmu, lebih baik tidak usah menjalin hubungan.” sindir Donghae namun dengan nada menasihati.

“Aku tahu apa yang aku lakukan, hyung. Jangan ajari aku, apa yang harus kulakukan dan apa yang tidak boleh aku lakukan.” Kyuhyun membalas dengan nada dingin.

Donghae berdiri, kemudian berjalan menghadapi Kyuhyun, “Lantas untuk istrimu? Untuk gadis itu, Seo Miinah? Apa yang mau kau lakukan? Pilihlah; istrimu atau karirmu.”

Kyuhyun menggeram. Marah dan kesal. Tangannya terkepal.

Flashback end.

Seohyun memasuki mobil yang diparkir. Dibelakangnya, Sooyoung dan Yoona berlari menghampirinya. “Seohyun, hei! Kita ada syuting. Kau jangan seenaknya pergi begitu saja!”

Mata Seohyun berubah kaku, ia sama sekali tidak mengedipkan matanya. Ia berusaha fokus, “Eonni… aku harus menemui adikku. Ini salah.” Ia mulai men-starter gas. Yoona dan Sooyoung langsung panik. “Seohyun! Seohyun!” panggil mereka cemas. Namun Seohyun sudah melajukan mobilnya. Ekspresi wajahnya berubah keras.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan yang terbentang dihadapannya, ia menelepon Miinah. “Yeoboseyo?” suara Miinah terdengar dari telepon itu.

“Hyun Ah, aku ingin bertemu denganmu.” kata Seohyun.

Miinah terdiam beberapa detik, “Bukankah kakak ada syuting?”

“Tidak apa-apa. Kau dimana sekarang?”

“Aku masih sibuk, kak. Nanti saja―”

“Hyun Ah! Jangan membantah!”

“Kau jangan berlagak menjadi kakakku, SEO JOO HYUN!” seru Miinah marah. Kemudian dengan cepat ia mengakhiri telepon dari kakaknya itu. Seo Hyun mendesah, tapi ia menguatkan tekadnya. Paling tidak, ia tahu dimana keberadaan adiknya itu.

Seo Hyun berhenti di sebuah taman. Taman itu cukup sepi dan hanya ada beberapa orang yang lalu lalang. Ia menatap sekelilingnya, dan menemukan seorang gadis dengan rambut merah menyala yang sedang berusaha mematikan ponselnya.

“Hyun Ah!” panggil Seo Hyun dan menarik tangannya. Miinah terkejut melihat kedatangan kakaknya. Sebelum pulih dari rasa terkejutnya, sebuah tamparan mendarat di pipinya.

“JOO HYUN!” seru Miinah marah.

“Kau puas sekarang?” mata Seohyun mendelik marah. “Kau puas sudah merusak hidup Kyuhyun oppa?!” ia meninggikan suaranya saat menyebut nama Kyuhyun. “Apa kau benar-benar sudah tidak peduli padanya?”

“Aku peduli.”

“Kalau kau peduli, seharusnya kau pikirkan masa depan karirnya sebelum berbuat!”

Miinah mengangkat wajahnya, ekspresinya dingin. “Kau tidak pantas berkata seperti itu, kakak.”

Mata Seohyun menyipit, tidak mengerti. “Apa maksudmu?”

“Apa kau tidak tahu? Kau sendiri ada skandal dengan Kyuhyun oppa. Jangan mengajariku tentang hal yang kau sendiri langgar!”

“Itu bukan kemauanku! Kau tahu Kyuhyun oppa bukan tipeku!”

“Oh ya? Lalu apa orang-orang peduli?” Miinah bersedekap, kemudian mengitari kakaknya. “Semua orang selalu membahas dirimu dan oppa. Kalian serasi lah, kalian cocok lah… semuanya yang membuatku muak! Kemudian saat aku debut dan orang-orang tahu tentang jati diriku… apa yang mereka katakan? Mereka takut! Takut oppa berpaling kepadaku―yang memang sudah seharusnya. Seharusnya kau mengatakan pada dunia, kau tidak menyukainya! Tapi kau terus saja membiarkan skandal itu terus hidup. Dan aku? Aku hidup dalam bayang-bayangmu, Joo Hyun. Selalu. Tiada henti.”

Seohyun menatap Miinah sedih, “Kalau aku bisa… Hyun Ah, aku ingin menghentikannya, sungguh.”

“Kalau aku bisa?” Miinah menirukan suara Seohyun. Ia memutar tubuhnya cepat, “Kau jelas bisa, bodoh! Kau bisa katakan bahwa kau tidak menyukai oppa. Semudah itu.”

“Dunia tidak semudah yang kau pikirkan, Hyun Ah…”

“Omong kosong! Kau bisa menjadikan aku orang jahat. Kau bisa bilang… Kyuhyun direbut olehku. Kau bisa membuat drama murahan! Jangan pasang wajah sok suci itu, seolah-olah kau tidak tahu apa-apa!”

“Aku tidak ingin menjadikan kamu sebagai orang jahat…”

Miinah mendengus, “Sayang sekali… apa yang kau lakukan selama ini justru membuatku menjadi jahat, kakak. Entahlah… sejak kapan kau menjadi kakakku ya?”

“SEO HYUN AH!”

“Jangan memanggilku dengan nama itu!” seru Miinah. Ekspresi kemarahan begitu kentara di wajahnya. “Kau bukan kakakku, Seo bukan margaku. Kalian bukan keluargaku!”

“Hyun AH! Kenapa kamu bicara seperti itu?”

“Kau pikir aku bodoh?! Aku tahu semuanya! Ayah dan Ibu Seo mengadopsiku saat aku bayi, namun mereka merahasiakan identitasku. Tapi, thanks to netizen, mereka mengetahui masa laluku. Mereka mengetahui siapa aku sebenarnya! Aku tidak pernah menjadi bagian dari keluarga Seo!”

“Itu tidak benar, Hyun Ah…” Seohyun menggelengkan kepalanya dengan sedih. Kakak mana yang tidak sedih saat adiknya―adik angkatnya―menolak keberadaannya setelah lama tinggal bersama. Hati Seohyun begitu pedih. Ia tidak mengerti mengapa adiknya berubah seperti ini.

“Di saat semua hal yang buruk terjadi, apa yang kau lakukan, kakak? Nothing! You are doing nothing! Kau tidak pernah peduli padaku, kau hanya peduli pada karir, karir, dan karir! Kau tidak menjawab teleponku, kau tidak membalas pesanku, bahkan kau tidak peduli saat aku menangis sendirian!”

Ah, Seohyun merasa tertampar mendengar ucapan adiknya. Jadi begitu… ini semua salahnya, “Maaf, Hyun Ah…”

Miinah tersenyum sinis, “Jangan panggil aku dengan nama itu lagi, Joo Hyun. Memuakkan. Aku tidak pernah memakai nama itu sejak aku debut. Dan berkat oppa lah, aku bisa seperti ini. Aku bisa bangkit dan hidup dengan diri baru. Diriku yang sesungguhnya. MIINAH.”

Seohyun menutup matanya, akhirnya ia paham.

“Kau ingin berterima kasih… pada oppa, kan?”

Miinah mengangguk. “Dia yang datang saat aku terpuruk, saat aku menangis, saat aku nyaris bunuh diri. Dia yang datang! Bukan kau atau ayah atau ibu Seo! Tidak seorang pun dari kalian yang datang! Tapi oppa? Dia datang. Dia peduli padaku. Dia yang menyemangatiku saat aku terpuruk.”

“Jadi karena itu?” tiba-tiba terdengar suara laki-laki. Kedua gadis itu menoleh dan terkejut melihat Kyuhyun sudah hadir di antara mereka.

“Oppa… bagaimana kau bisa ke sini?” tanya Seohyun. Kyuhyun tidak menjawabnya, tatapannya beralih pada Hyun Ah.

“Hyun Ah…”

“Apa?” tanya gadis itu dengan wajah polosnya. Seolah-olah tidak ada yang terjadi.

“Kau… tidak bisa melakukan ini…”

“Apa maksud oppa?” tanyanya. Wajahnya berubah sedih, namun Seohyun melihat tangan adiknya perlahan mengepal.

“Aku… aku bersikap terlalu baik padamu, dan kau… salah paham.”

“Salah paham?”

Kyuhyun mendesah, “Kau salah paham dengan apa yang pernah kulakukan. Aku bersikap baik padamu karena aku tidak ingin kau sendirian. Apa yang kulakukan, adalah apa yang memang seharusnya dilakukan kakak kepada adiknya. Itu bukan… cinta…”

Bagai tersambar petir, gadis itu menggelengkan kepalanya. “Oppa, kau jahat sekali. Kau bohong kan? Katakan bahwa semua itu bohong! Iya, kan?” gadis itu menekan suaranya agar tidak menjerit. Suaranya berupa bisikan, namun penekanan begitu nyata terdengar.

“Maaf…” Kyuhyun perlahan berlutut dihadapan gadis itu. Wajahnya hampa. “Maafkan aku…”

Melihat apa yang dilakukan laki-laki itu, hati Seohyun semakin pedih. Ia menatap Miinah dan adiknya sama tidak percayanya. “Tidak, oppa, tidak boleh begini!”

“Aku harus melakukannya! Aku tidak ingin kebohongan ini terus terjadi. Miinah―tidak, Hyun Ah―”

“Tidaaakkk!!!” gadis itu menjerit. “Tidak! Tidak! Tidak, oppa! Hentikan memanggilku dengan nama itu! Namaku Miinah, oppa… kau yang memberikannya padaku! Bukan Hyun Ah, bukan!” gadis itu mengguncang tubuh Kyuhyun. Perlahan Kyuhyun melepasnya.

“Hiduplah dengan bahagia, Hyun Ah. Aku bukan orang yang tepat.”

“Tidak! Itu bohong!”

“Seo Hyun Ah!” seru Kyuhyun. Kali ini ia merasa agak jengkel. “Kau tahu aku sudah menikah! Dengan Rin. Shin Hyun Rin!”

Mata Seohyun membesar kaget, Kyuhyun oppa benar-benar sudah menikah?

“Tidak!” Miinah menutup telinganya, tidak ingin mendengar kenyataan yang dikatakan Kyuhyun. “Aku tidak peduli, oppa. Oppa hanya milikku. Bukan milik orang lain!!!”

“Hyun Ah…” perlahan Seo Hyun menarik tangan Miinah. Gadis itu menepis tangan Seohyun, namun sekali lagi Seohyun menarik tangan adiknya. Kemudian merengkuh gadis itu. “Maafkan kakak… maaf…”

Miinah menggigit bibirnya, ia tidak pernah dipeluk oleh kakaknya dan kini air mata membanjiri pelupuk matanya. Hatinya begitu sesak oleh begitu banyak perasaan. “Kakak…” panggilnya perlahan. Kali ini benar-benar tulus.

Semudah itu.

SHIN HYUN RIN POV

Dua bulan kemudian…

“I have… decided.”

Kami menatap Miinah. Gadis itu tersenyum.

“I’ll go to US.”

Mataku terbelalak, “Kenapa?”

“Sudah kuputuskan aku tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi. Aku… sudah tidak ingin dibenci oleh orang yang kusukai…” air matanya menetes, ia berusaha tidak menyadarinya. Miinah terus mengoceh, “Jadi, aku akan menjauhi kau dan Kyuhyun oppa. Congratulation…”

Kemudian Kyuhyun memeluk Miinah. Gadis itu terlihat tidak siap dengan apa yang dilakukan oleh Kyuhyun, matanya terkejut. “Oppa…”

“Terima kasih…” ucap Kyuhyun penuh rasa syukur, “dan… maaf…”

Miinah tidak tahan lagi, ia menangis keras dipelukan Kyuhyun dan mengeratkan pelukannya. Aku terharu melihatnya dan aku bisa merasakan bahwa sekarang dia sudah menganggap Kyuhyun seperti kakaknya sendiri. Dia bukanlah gadis yang jahat, dia hanya… salah paham dengan kasih sayang yang diberikan Kyuhyun kepadanya.

“Nah!” Miinah melepas pelukannya, dia tersenyum nakal kearahku. “Kita tidak boleh terlalu lama berpelukan. Apa kata paparazzi soal ini? Lagipula aku tidak ingin membuat istri oppa jealous.”

“Aku tidak!” bantahku. Kyuhyun menatapku.

“Yaa… mungkin, sedikit.”

Miinah tertawa. Kemudian aku bertanya, “Apa yang akan kau lakukan di sana?”

“Hmm…” Miinah berpikir sebentar, “Relaxing, maybe? Don’t worry, I am miinah―pretty girl. So, I’ll get the best boy as mine.”

Aku nyengir, “You will.” ujarku yakin.

“Bye bye, oppa, Rin. You HAVE to be happy.” Miinah berbalik dan melambaikan tangannya, kemudian ia berbalik dan memasuki gate keberangkatan. Kami terus menatap punggungnya hingga tubuhnya hilang dibalik kerumunan orang.

You gotta to be happy too, Seo Hyun Ah―Seo Miinah….

“Ayah dan ibu…” Kyuhyun memulai. Aku tersenyum.

“Tidak apa, aku akan memberitahu mereka.”

“Pasti akan sangat kecewa.”

“Absolutely.” Cengiran kembali tersungging diwajahku.

Kyuhyun meraih tanganku, “Maaf…”

Aku menekan perasaanku untuk memeluknya. “Tidak apa…”

“Aku tidak yakin dengan apa yang kulakukan saat ini.”

“Hei! Memangnya kenapa kalau kita berpisah?” aku tertawa, meskipun dalam hati, rasanya begitu menyakitkan. “Ada apa denganmu? Kejarlah impianmu? Kau tidak lupa kan dengan impian itu? Kalau kita tidak bisa bersama… tidak apa. Aku tidak ingin jadi penghalang impianmu!”

“Rin… kau kuat, ya?” bisik Kyuhyun.

“Tidak sekuat dirimu.” balasku mengakui.

Kyuhyun melepaskan tangannya dari genggamanku. Kali ini aku benar-benar merasa tidak rela. Tapi aku tidak boleh egois. Kenanganku dengannya sudah begitu banyak. Apa aku harus merasa tidak puas? Kyuhyun sudah pernah mencintaiku. Itu yang paling penting. Cinta yang pernah kami hadapi ini sebenarnya tidak pasti. Selalu ada halangan, dan yang paling penting, aku tidak ingin menjadi penghalang impiannya. Ada kalanya, kita harus mundur. Meski itu terasa berat.

“Kyuhyun!!!” panggil semua member Super Junior dibelakangnya. Kami berdua menjauh, dan inilah akhirnya aku rasa. Kami kembali ke dunia nyata. Dunia kami memang berbeda. Dan memang tidak seharusnya bersama…

4 tahun kemudian…

Suara lagu Super Junior kembali membangunkanku. Aku membuka mata pelan-pelan sambil meraba-raba tempat tidurku, mencari sumber keberisikan di pagi buta ini. Kemudian, “Ngghh…” aku mengerang sambil mematikan alarm dan menguap. Kembali lagi ke rutinitas yang biasa, desahku dalam hati sambil menuruni tempat tidur. Kemudian aku berjalan ke kamar mandi dan mencuci muka sambil berniat wudhu. Saat aku berjalan keluar, aku melihat cermin dan dihadapanku berdiri seorang gadis dengan rambut berwarna hitam ikal panjang. Aku tersenyum dan bayangan itu ikut tersenyum. Sudah empat tahun… aku menghitung dalam hati. Empat tahun… waktu yang lama untuk seharusnya membuat kenangan itu menghilang. Kudekati bayanganku dan menyentuh pipiku. Tidak banyak yang berubah, kecuali rambutku yang bertambah panjang dan kurasa pipiku agak mengurus sekarang dibandingkan empat tahun lalu. Tubuhku juga lebih langsing, kalau kuperhatikan. Entah kenapa sekarang aku lebih menjaga pola makan dibandingkan dulu. Mungkin karena sebentar lagi aku akan menginjak usia seperempat abad. Mengerikan, tapi itulah kenyataannya.

Saat aku sedang mengusap wajahku, terdengar bunyi ponsel dan dengan cepat aku mengangkatnya.

“Halo… ah, selamat pagi Ibu Kim… eh? Tidak… tidak, anda tidak mengganggu saya…” aku terdiam mendengar ucapan salah satu orangtua murid di sebuah sekolah dasar tempatku bekerja. Ya, sekarang aku bekerja di SD sebagai guru kelas satu. Agak aneh bagi lulusan S1 Hubungan Internasional, tapi aku suka sekali dengan anak-anak. Makanya aku memutuskan untuk bekerja sebagai guru. Sudah hampir dua tahun aku berkerja dan sekarang aku menjadi wali murid di salah satu kelas.

“Ya… tidak apa-apa, saya rasa bandelnya Yoo Min sudah jauh berkurang. Dia sangat manis belakangan ini dan tidak jahil lagi… ya, saya tahu. Baiklah, saya mengerti.” Aku menutup telepon dan bersiap untuk pergi bekerja.

Beberapa menit kemudian, aku telah selesai bersiap dan sedang membuat roti panggang. Sambil menunggu rotinya matang, aku keluar dari rumah dan mengambil koran yang tergeletak di teras dan membuka ikatannya. Hmm, seperti biasa… tidak ada yang menarik, pikirku sambil membuka-buka isi koran itu sambil berjalan masuk. Kemudian aku duduk dan mulai makan, setelah roti panggangku siap. Aku membaca sambil mengunyah, kemudian gerakanku terhenti pada sebuah artikel.

CHO KYUHYUN ‘SUPER JUNIOR’ MEMILIKI SEORANG PUTRI?!

Aku mendesah dan berhenti membaca. Sudahlah, bukankah ini sudah sewajarnya? Aku sudah tidak mendengar berita tentangnya lagi belakangan ini. Bukannya aku merasa aneh, tapi meskipun sudah tidak menjadi member Super Junior, bukankah Super Junior masih ada? Yah, memang sih frekuensi manggung mereka tidak sebanyak waktu mereka masih lumayan muda. Tapi tetap saja! Mereka kan tetap artis, dan aku heran kenapa tidak ada berita tentang pernikahan mereka. Tapi kemudian aku ingat, mungkin saja pernikahan itu ditutupi supaya keluarga mereka aman. Ya, seperti aku dan Kyuhyun… dulu.

AUTHOR POV

Rin berlari tergesa-gesa. Ia kembali melirik jam tangan silvernya dan tercekat melihat angka yang ditunjuk jam itu. “Ya ampuuun… jangan telat lagi donggg!!!” serunya bernada memohon. Hampir sampai! serunya gembira. Namun kegembiraannya lenyap, berganti dengan kengerian saat ia melihat pintu gerbang sekolah hampir menutup. “Tunggguuuuu…!!!” teriak Rin panik dan dia mempercepat larinya. Dan… hup! Dengan sukses gadis itu masuk ke dalam wilayah sekolah tepat sebelum pintu itu tertutup rapat.

Rin berbalik dan tersenyum meminta maaf pada satpam itu. Satpamnya menggeleng-gelengkan kepala. “Ibu ini… sudah berapa kali anda telat, hah? Anda memberi contoh yang tidak baik pada anak-anak!” tegurnya tidak senang.

“Hehehehe…” Rin cengengesan, merasa tidak berdosa. Dia malah melangkah mendekati satpam itu dan menepuk-nepuk bahunya berlagak prihatin. “Aaah, seharusnya bapak paham laaaahhh!! Namanya guru kan banyak kerjanya—“ dia tidak melanjutkan ucapannya, karena kemudian terdengar suara anak-anak memanggil namanya riang dan suara langkah mereka yang berlari cepat.

“IBU GURU RIIIINNN…!!!” panggil sepuluh atau lima belas anak SD yang berlarian menghampirinya. Rin berbalik dan tersenyum cerah. “Selamat pagi, anak-anak!” sapanya.

“SELAMAT PAGI, BUU…!!” koor anak-anak riang. Kemudian terdengar celotehan mereka bernada cepat dan menuntut.

“Bu, nanti kita belajar apa?”

“Ibu, Ibu, nanti kita nyanyi apa?”

“Ibu… menurut ibu warna buat gunung apa?”

“Ibu, nanti makan siangnya apa?”

“Ibu…”

“Ibu…”

Rin tersenyum mendengar celoteh anak-anak itu. Mereka semua terlihat tidak sabaran, namun Rin sudah terbiasa dengan semua itu. Dengan tenang gadis itu berjongkok dan mengelus rambut anak-anak yang ada dihadapannya. Mereka semua terlihat bersemangat untuk mengikuti pelajaran hari ini.

“Nanti…” dengan lembut Rin berkata. “Ibu kasih tahu belajarnya apa. Sekarang persiapan masuk ke kelas semua, ya?” perintahnya dengan nada lembut. Semua anak itu mengangguk dan langsung berhamburan masuk ke dalam kelas. Setelah itu Rin mengikuti mereka, ikut masuk ke dalam kelas.

Setelah itu terdengar bunyi bel masuk dan dari gerbang sekolah itu muncul sebuah sedan hitam. Sedan itu berhenti tepat di samping kelas di mana Rin mengajar. Jendela mobil itu terbuka, menampakkan sosok pria berkacamata hitam yang memperhatikan gerak-gerik Rin dari dalam mobilnya. Pria itu mengamati semuanya. Bagaimana Rin mengajar, tertawa bersama anak-anak, kemudian ikut membantu membuat prakarya. Semua itu tidak luput dari pandangan pria itu…

Beberapa jam kemudian, bel pulang pun berbunyi. Semua anak berhamburan keluar dari kelas sambil menemui orangtua mereka yang menunggu tidak jauh dari kelasnya. Rin sudah selesai membereskan pekerjaannya hari ini, kemudian dia melihat seorang anak gadis. Berkulit putih bersih dengan wajah bundar menggemaskan tengah duduk di dekat gerbang. Seperti sedang menanti seseorang. Rin menatap anak itu. Dia mengenalnya, dia adalah Cho Sakura. Anak manis yang sangat riang dan aktif meskipun masih berumur 7 tahun. Anaknya juga cerdas dan sangat suka menanyakan banyak hal. Rin menatapnya sebentar, kemudian ia berjalan menuju ruang guru. Namun, sampai sekolah  itu sepi, dan Rin sudah siap untuk pulang, Sakura masih tetap duduk, menunggu dengan tenang.

Perlahan, Rin mendekati Sakura dan ikut duduk disebelahnya. Sakura menoleh dan tersenyum riang, “Ibu guru Rin!” serunya.

Rin ikut tersenyum, “Sakura nungguin siapa?”

“Nungguin ayah!” kata Sakura dengan mimik menggemaskan.

“Ooh, terus ayah Sakura kok sampe sekarang belum datang?” Rin kembali bertanya.

“Ayah pasti masih sibuk sama pekerjaannya. Tapi ayah pasti datang ke sini kok!”

“Baiklah… Sakura mau Ibu temenin sampe ayah Sakura datang?” tanya Rin menawari dan dengan semangat Sakura mengangguk. Matanya yang agak bundar itu mengingatkan Rin akan seseorang…

“Oh iya, ngomong-ngomong Ibu Sakura kemana? Kenapa nggak Ibunya Sakura aja yang jemput?”

Sakura mendadak murung, namun ia menjawab. “Ayah nggak pernah cerita tentang ibu…” lalu dengan cepat wajahnya berubah riang. “Tapi! Sekarang Sakura udah sama ayah, jadi Sakura nggak sedih lagi! Ayah Sakura baiiiikkk banget! Dia suka ajak Sakura jalan-jalan, ajakin main bareng, meskipun baru pulang kerja! Teruuuusss, dia suka ajak Sakura nyanyi bareng! Ibu tau nggak? Ayah Sakura itu suaranya baguuuussss banget! Sakura selalu di-nina bobo-in sampe ngantuk! Suaranya ayah Sakura lembuuuut, makanya Sakura selalu bobo nyenyak!” celotek Sakura panjang lebar. Dia berbicara dengan cepat, namun sama sekali tidak merasa capek.

“Waaah, benarkah?” tanya Rin sama bersemangatnya. “Memangnya ayah Sakura seperti apa?”

“Mmm, ayah itu cakeeeppp banget! Dia tinggi, rambutnya merah. Tapi Sakura nggak suka! Keliatan kayak kakek-kakek… hihihi…” anak itu cengengesan geli. “Tapi Ibu jangan ngadu sama ayah, ya? Nanti ayah marah! Soalnya ayah nggak suka kalau dibilang tua!”

Rin tertawa. Rambut merah, entah kenapa itu mengingatkannya pada dia. Tapi Rin menepis bayangan pria tersebut. “Iya, iya… ibu nggak akan bilang sama ayah Sakura. Terus, Sakura sayang nggak sama ayah?”

Sakura mengangguk cepat. “Sayang, Bu! Sayang banget! Ibu mau tau nggak nama ayah Sakura siapa?” tanya Sakura bernada menggoda.

“Hmm, memangnya siapa?” tanya Rin memasang wajah penasaran.

“Kyuhyun. Cho Kyuhyun!” jawab Sakura.

Bak disambar petir, Rin langsung kaget mendengar nama itu terlontar dari bibir Sakura. Kyuhyun… Kyuhyun…? Jadi… inikah putri Kyuhyun itu? Rin mengamati Sakura, kali ini lebih teliti dan ia menyadari persamaan pria itu dengan anak didepannya itu. Sakura memiliki rambut hitam lurus, mirip dengan Kyuhyun. Hidungnya juga mirip. Juga bibirnya.

Kemudian terdengar bunyi pintu mobil yang terbuka, kemudian Sakura memalingkan mukanya dan ia tersenyum riang sambil berlari mendekati si pemilik mobil. Ia berteriak, “Ayaaahhh!!!” dengan penuh semangat.

Rin bangkit dari duduknya, ia menatap ayah dan anak itu dengan tidak percaya. Pria itu membuka kacamatanya, kemudian ia meraih Sakura kedalam dekapannya dan dia berkata, “Putri ayah sayang, maaf ya, ayah telat datangnya.” katanya dengan suara bass yang amat dirindukan Rin.

Sakura menggeleng, rambut lurusnya bergoyang indah. “Nggak apa-apa, Yah! Ada Ibu Guru Rin yang nemenin Sakura!” katanya semangat.

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya, “Ibu Guru Rin?” tanyanya heran.

“Emmh!” Sakura menganggukkan kepalanya semangat, kemudian dia menunjuk Rin yang masih membeku di tempat. “Itu, Ibu Guru Rin. Yang pernah Sakura ceritain itu lho, Yah!” katanya. Kemudian Kyuhyun mengikuti arah tunjukan Sakura.

Keduanya saling menatap. Kyuhyun menatap Rin tidak percaya, kemudian perlahan ia menurunkan Sakura dari dekapannya dan berjongkok dihadapannya. “Mmm, Sakura. Ayah mau ngomong dulu sama Ibu Guru Rin, kamu bisa kan diam di mobil sebentar?” tanyanya lembut.

Sakura kembali mengangguk, dan dengan patuh ia masuk ke dalam mobil.

Kyuhyun bangkit, kemudian sambil menghela napas ia berjalan mendekati Rin.

Rin tercekat. Gadis itu berniat mundur, kabur… namun kakinya seakan terbuat dari batu, ia tidak bisa bergerak untuk melarikan diri. Dia hanya menatap pria itu berjalan mendekatinya. Napasnya memburu dan hatinya tergetar, ada dorongan dalam hatinya untuk berlari dan memeluk pria itu. Tapi hatinya yang lebih dominan menolak dorongan itu. Rin menggigit bibirnya, berusaha menahan rasa rindu yang sudah membuncah keluar dari pelupuk matanya.

Kyuhyun terus mendekati Rin. Kemudian dia berhenti tepat di depan Rin dan menatap gadis itu lekat-lekat. Sudah berapa lama dia tidak bertemu dengannya? Empat tahun, ya? Ya. Empat tahun. Empat tahun yang lama dan penuh penderitaan, sebelum akhirnya dia menemukan anak kecil yang amat mirip dengannya…

“Ini siapa?” Kyuhyun bertanya pada kakak Rin yang sedang membuka-buka albumnya. Kakak Rin menjulurkan kepalanya, kemudian dia tersenyum. “Itu, Rin, lho!” katanya.

Kyuhyun menatap lekat-lekat foto digenggamannya. Seorang anak yang usianya kira-kira lima tahun sedang menatap ke kamera dengan ekspresi polos. Mulutnya terbuka membentuk huruf O, dia sedang duduk di atas kap mobil dengan tangan diletakkan di kedua pipinya. Matanya besar, kepalanya ditelengkan, dan pipinya tembam, amat menggemaskan. Kyuhyun tersenyum-senyum melihatnya. Dia terus tersenyum dan tidak menyadari kedatangan Rin.

“Kau lihat apa?” tanya Rin yang datang sambil membawa banyak belanjaan. Gadis itu ikut melihat apa yang dipandangi oleh Kyuhyun, kemudian dia terbelalak kaget melihat siapa yang menjadi objek foto itu.

“Kembalikan!” seru Rin panik sambil berusaha keras meraih foto. Namun Kyuhyun lebih cepat, pria itu langsung menyembunyikannya di balik tubuhnya.

“Apa yang mau kau lakukan?! Kembalikan!” kata Rin malu. Wajahnya bersemburat merah.

“Hmm… apa ya?” dia menatap foto masa kecil Rin sekali lagi. “Kamu lucu juga ya, waktu kecil.” pujinya.

Sekali lagi, ucapan Kyuhyun mampu membuat Rin tersipu malu.

“Halo.” sapa Kyuhyun dengan nada sesantai mungkin. Kemudian dia mengambil kacamatanya dan mengenakannya. Dia mengenakan kacamata berbingkai hitam dan itu membuatnya terlihat benar-benar seperti sudah berumur, seperti seorang ayah.

“Halo, Tuan Cho…” balas Rin sambil membungkukkan tubuhnya.

“Ah, tidak usah sungkan!” kata Kyuhyun cepat-cepat. “Aku ingin berterima kasih pada anda karena sudah menemani putri saya. Kelihatannya putri saya amat menyukai anda.” Katanya sambil memalingkan kepalanya sedikit, menatap Sakura yang juga menatap keduanya dari balik jendela mobil. Melihat ayahnya menatapnya, Sakura menunjukkan senyumnya. Memamerkan deretan gigi susunya yang tersusun rapi.

Angin musim dingin kembali berhembus, meniupkan rambut pasangan itu. Rin merapikan sedikit rambutnya dan dia berkata. “Tidak apa-apa. Saya… saya senang bisa ngobrol dengan Sakura. Dia anak yang sangat riang dan menyenangkan. Anda beruntung sekali memiliki anak sepertinya.”

Kyuhyun mengangguk menyetujui. “Ya. Tepat sekali.”

“Ibunya pastilah sangat bangga padanya…”

“Ya…”

“Kau ayah yang beruntung mempunyai istri dan anak sepertinya.”

Mata Kyuhyun terfokus pada Rin, “Apa? Apa maksud ucapanmu? Kau pikir aku sudah menikah?” tanyanya.

Dengan bingung Rin menatap Kyuhyun, “Bukannya memang benar? Kalau bukan, lalu Sakura itu siapamu?”

Kyuhyun menepuk dahinya, “Aish! Kau ini! Kau pikir aku bisa menikah muda selain denganmu?! Sakura adalah anak adopsiku! Aku mengadopsinya karena…”

“Karena?”

“Karena dia amat mirip denganmu.”

Kemudian keduanya terdiam. Setelah beberapa saat Rin dengan gugup berkata, “Saya pulang dulu…” dia berniat untuk membungkukkan diri, namun tangan Kyuhyun mencegahnya. Pria itu meraih tangannya dan mengusapnya perlahan.

Hanya satu sentuhan, dan Rin disengat aliran listrik. Gadis itu berjengit sedikit, dan tangannya perlahan menggenggam tangan Kyuhyun. Menerima sentuhan Kyuhyun yang amat dia rindukan.

“Aku merindukanmu…” bisik Kyuhyun.

Rin mengangkat kepalanya dan dilihatnya Kyuhyun menatapnya dengan tatapan rindu. Perlahan pria itu meraih Rin dalam pelukannya. Dia kembali berkata, “Aku merindukanmu…” pelan dan pasti, kalimat itu diucapnya berulang-ulang.

Rin memejamkan kedua matanya menerima pelukan pria itu. Entah sudah berapa lama mereka berpelukan, kemudian Kyuhyun berkata, “Shin Hyun Rin… aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” kemudian dia berlutut dan mengulurkan kotak merah yang amat dikenali gadis itu. Tanpa perlu membuka kotak itu, sebenarnya Rin juga sudah tahu isinya apa. Namun Kyuhyun sudah membuka kotak itu dan cincin perkawinan mereka, yang sempat dikembalikan oleh Kyuhyun itu terpampang di hadapan gadis itu.

“Maukah kamu… sekali lagi… menikah denganku? Kali ini aku benar-benar melamarmu sebagai seorang laki-laki. Tanpa paksaan dari orangtua kita, aku tulus mencintaimu dari lubuk hatiku yang paling dalam dan aku ingin kau menjadi ibu untuk Sakura, meskipun dia bukan anak biologismu. Bisakah? Bisakah sekali lagi kita menjalin rumah tangga kita yang sempat terputus? Bisakah… kita hidup bersama… sekali lagi?”

Kyuhyun mengatakan lamarannya dengan suara merdu, suara terindah yang pernah didengar gadis itu dan lidah gadis itu kelu. Rin tidak dapat mengatakan apa-apa, hanya bulir-bulir air mata haru yang berjatuhan dari pelupuk matanya. Hatinya seakan menggembung penuh kebahagiaan, seakan-akan bisa meledak kapan saja. Rin menggigit bibir bawahnya.

Kemudian Kyuhyun berdiri, tangannya meraih jari manis kanan Rin dan bertanya, “Bolehkah?”

Rin tidak menjawab dan seperti biasa, Kyuhyun menganggap itu persetujuan. Jadi, dia pun menyematkan cincin itu di tangan Rin dan mengecup jemari itu.

“Sekarang, kau hanya bisa mengatakan ‘ya’ untuk lamaranku. Kau tidak bisa bilang tidak sekarang!” kata Kyuhyun penuh nada kepuasan. Dia nyengir jahil seperti biasa.

Rin ikut tersenyum, “Ya, raja setanku. Yes, I do.” jawab Rin penuh keyakinan dan dengan penuh kebahagiaan, Kyuhyun kembali memeluk tubuh Rin. Gadis yang pernah menjadi istrinya, sekarang benar-benar akan menjadi istrinya yang sesungguhnya dan tidak akan dibiarkannya lepas lagi, Kyuhyun berjanji di dalam hatinya.

Sementara di dalam mobil itu, Sakura mengamati semua adegan itu dengan wajah senang. Kemudian dia berkata, “Akhirnya! Aku punya ibu! Aku punya ibu!” serunya senang sambil melonjak-lonjak kegirangan.

Dan angin musim dingin kembali berhembus, menghembuskan udara penuh kebahagiaan di bulan Februari itu. Kyuhyun melepaskan pelukannya dan berkata, “Ayo.”

“Ayo apa?” tanya Rin heran.

“Tentu saja pulang. Ke rumah kita.”

Senyum manis kembali terulas di bibir gadis itu, dan ketika keduanya berjalan berdampingan, sebuah pertanyaan muncul dalam benak Rin.

“Kyu, aku punya pertanyaan.”

“Apa?”

“Seandainya kamu bukan artis dan aku tidak pernah mengejarmu ke sini. Mungkinkah… mungkinkah kita tetap bisa bersama?” Rin menengadahkan kepalanya sedikit, menatap Kyuhyun dan menunggu jawaban.

Kyuhyun kembali tersenyum, ia mengelus rambut Sakura yang sekarang tidur dipangkuannya, kemudian satu tangan lainnya mengelus rambut Rin. Ia mengecup puncak kepala gadis itu dan berkata.

“Tentu saja.”

Laki-laki itu menjawab dengan penuh keyakinan dan kemantapan.

EPILOG

“Tunggguuuuu!!!!” seorang gadis dengan rambut acak-acakan muncul dari balik gang, gadis berkacamata berbentuk oval itu terlihat panik saat melihat bus menuju universitas Kyunghee melaju kencang meninggalkannya. Gadis itu menghela napas pasrah. “Aaaahhh!!! Aku telat lagi, telaaattt!!! Aaah, bete! Bete! Bete!!!” serunya dengan marah sambil menghentak-hentakkan kakinya. Aksinya jelas terlihat seperti orang gila, apalagi dengan penampilannya yang super berantakan. Syal yang awut-awutan, sepatu boot yang beda sebelah… gadis yang aneh, mungkin itu pikiran orang yang lalu lalang.

“APA LIHAT-LIHAT?!” seru gadis itu galak. Kemudian sepasang muda-mudi yang memperhatikannya cepat-cepat memalingkan wajah dan berlalu dari hadapannya.

Gadis itu mengibaskan rambutnya dan… voila! Dalam sekejap rambutnya yang acak-acakan itu langsung berubah rapi dan ia hanya perlu merapikan sedikit untuk merapikan anak rambut yang mencuat. Dengan sebal, gadis itu berjalan menuju trotoar dan…

Ckiiitttt…

Suara ban berdecit dengan aspal karena rem mendadak itu terdengar dari samping gadis itu. Sontak gadis itu menoleh dan ia melihat sebuah mobil sedan hitam berhenti disampingnya.

Apa-apaan dia?

Sebelum rasa penasaran gadis itu memuncak, pintu mobil itu terbuka. Menampakkan sosok seorang pria berusia 27 tahun. Pria dengan tinggi 180 cm yang memakai pakaian ala seorang dosen. Kemeja yang dipadu dengan jas hitam panjang. Ia mengenakan celana bahan hitam, memamerkan kakinya yang panjang dan harus diakui memang sangat bagus dengan celana itu. Wajahnya agak tirus dan lonjong. Hidungnya mancung dengan mata yang agak besar dengan kacamata dengan frame tipis warna bening. Rambutnya berwarna hitam gelap, terlihat berkilauan di tengah sinar matahari yang menyilaukan kali ini.

Pria itu maju mendekati gadis itu.

“Cho seonsaenim…” dengan tergagap gadis itu mengucapkan sebuah nama. Game over! desisnya dalam hati.

“Jadi…” pria yang dipanggil Cho seonsaenim itu bersedekap, ia menatap gadis itu dengan tatapan mengerikan yang sulit ditebak gadis itu. “Shin Hyun Rin, mahasiswa dari Indonesia. Telat. Seperti biasanya. Alasan apa lagi sekarang?”

“Itu… seonsaenim…”

“Jangan membantah!” bentak cowok itu. Ia memasang tatapan mematikannya dan seketika gadis itu mengkeret. “Jangan karena nilaimu hampir sempurna, kau jadi bermalas-malasan, lady. Sekarang, kau harus dihukum!”

Gadis itu membelalakkan matanya. “Apa yang mau bapak lakukan?!” tanyanya panik.

“Nanti juga kamu tahu. Masuk!” perintahnya sambil mendorong tubuh gadis itu memasuki mobilnya. “Jangan mentang-mentang karena kamu hampir selesai, kamu jadi seenaknya saja, ya! Jangan memalukan nama almamatermu, nona Shin!”

“Tapi, bapak—“

“Jangan membantah! Kamu ini mahasiswa tukang bantah banget!”

Dengan sikap menyerah, kalah adu bacot sama si dosen ganteng, gadis itu memutuskan untuk masuk. Menyelamatkan harga dirinya yang masih tersisa. “Dosen selalu benar,” gumamnya sambil memasang sabuk pengaman.

“Apa?”

“Bukan apa-apa!” cepat-cepat gadis itu menjawab.

Cowok itu mendengus, ia menjalankan mobilnya dan sedan hitam itu melaju di tengah jalan kota Nowon, Seoul, membuka sebuah cerita lain dari kisah ini.

THE END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s