MY REVIEW ABOUT BLOODLINES 0.5 – ADRIAN LOST CHAPTER

Okay, so our princess already found out who is her truly prince. Her destiny in lifetime, someone she want to spend the rest of her life with. But, there is another prince in her life who didn’t get a happy ending, coz he haven’t find his princess. Not yet. What an irony.

Paling tidak itulah yang ada di pikiranku setelah menyelesaikan—kesimpulan sembarang yang aku ambil setelah membaca ulang seri terakhir Vampire Academy: Last Sacrifice. Sebenarnya tidak bisa dibilang aku sudah menyelesaikan seri ini dengan baik. Karena sampai saat ini, aku baru sampai pada saat Victor Dashkov dan saudara laki-lakinya yang juga pengguna sihir roh, Robert Doru, menculik atau membawa—terserah deh—Jill Mastrano, adik perempuan lain ibu dari sang ratu Moroi, Queen Vasilisa Dragomir, yang juga sahabat dari sang jagoan wanita kita di seri ini, Rosemarie Hathaway.

Setelah membaca endingnya, dan menghubungkan semua puzzle yang ada di kepalaku, yang ada dipikiranku adalah, “Hah? Jadi begini aja nih endingnya?” titik. Memang sih, secara garis besar, tidak ada masalah. Pemeran utama wanita dan pria hidup bahagia selamanya. Dunia Moroi mempunyai ratu baru, dan pembunuh ratu yang lama sudah ditangkap.

Tapi lalu bagaimana dengan nasib sang pangeran lainnya? Seperti kesimpulan yang aku ambil di atas, dia tidak—belum—mendapatkan putri, cinta sejatinya, yang akan mendampinginya kelak. Our lovely prince charming *rolling eyes* Adrian Ivashkov! Bagaimana mungkin dia tidak mendapatkan cinta sejatinya, padahal dia sudah sangat, sangat, SANGAT, mencintai sang putri pemeran utama dengan sepenuh hati. Tapi, hah?! Bagaimana ini Richelle Mead??? Bagaimana bisa kau membuat ending seperti ini? Kau tega sekali~~

Dan mungkin setelah mendengar tangisan, jeritan kalbu, dari semua pecinta Adrian Ivashkov, akhirnya Richelle Mead memutuskan membuat spin-off, sebuah cerita baru dengan karakter yang ada di Vampire Academy dan jalan cerita yang (mungkin, karena aku belum baca) berhubungan dengan seri sebelumnya. Dia meluncurkan seri Bloodlines dengan sudut pandang Sydney Sage, seorang alkemis yang pertama muncul di seri Vampire Academy #4: Blood Promis dan juga ikut membantu pelarian sang putri keluar dari fitnah pembunuhan ratu Tatiana, Rose Hathaway, serta turut berperan dalam mencari sang putri yang hilang, Jill Mastrano—atau lebih tepatnya sekarang mungkin dia disebut dengan Putri Jill Mastrano-Dragomir? Hahahaha… my mind is in a mess.

Dan yang paling istimewa *smiling* di seri Bloodlines ini sang pangeran-tanpa-putri ADRIAN IVASHKOV juga hadir!!!! Ah, kyaaa~~~~ dan dia menjadi TOKOH COWOK PERTAMA di seri ini. Ah~ Adrian, aku cinta kamu. Adrian: “Aku sering mendengar itu dari banyak wanita.”

Sekarang kita move on tentang Adrian Lost Chapter. Ah, sejujurnya ini mengejutkanku. Aku tidak mengira Richelle Mead menjadi begitu baik dengan memberikan 8 halaman yang berisi tentang pikiran Adrian setelah, yah, putus dari Rose. Pada awalnya aku hanya mendengar bahwa Richelle membuat seri spin-off, Bloodlines. Tapi thanks to Goodreads dan Adrian Ivashkov Fanclub yang secara tidak langsung memberitahukanku berita bahagia ini. Aku sangat bahagia, rolling on my floor, dan dengan tidak sabar langsung mencari-cari di mbah Google, seperti apa cerita dengan sudut pandang sang pangeran ini. Lupakan saja dengan menunggu buku, karena cerita ini tidak masuk di buku manapun. Dan menunggu Gramedia atau penerbit mana yang akan menerbitkan lanjutan Vampire Academy dan seri Bloodlines dalam versi Bahasa Indonesia pasti akan sia-sia. Atau kalaupun tidak, tentu akan menunggu waktu yang tidak sebentar. Mungkin aku malah sudah menikahi orang lain *sigh*. Dan ketika menemukannya, maksudku menemukan Adrian Lost Chapter ini, … aku kecewa. Uhm, ya sejujurnya kecewa. Tidak kecewa sampai ingin membanting laptop, karena aku pasti dibunuh ayahku kalau sampai melakukannya. Tapi ya… bagaimana ya, agak keluar dari ekspetasiku. Pada awalnya, aku mengira, Adrian Lost Chapter ini sudut pandang orang pertama, Adrian itu sendiri, pakai aku-kamu, bla bla bla. Pasti tahu lah yang pernah belajar Bahasa Indonesia. Tapi ternyata, cerpen ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Ah, biarlah. Yang penting Adrian Lost Chapter.

Setting cerpen ini mungkin beberapa hari setelah penobatan Lissa sebagai Ratu Moroi. Dan kebetulan, at that time is his birthday. Nothing special, menurut Adrian. Orangtuanya bukan yang diharapkan untuk datang dan memeluknya sambil mengucapkan happy birthday. Bibi buyutnya yang sudah meninggal dunia pernah memberinya ruby-encrusted cufflinks—manset bertatahkan rubi? Uhm, tunggu… memberi keponakan buyut laki-lakinya manset? Aduh, entahlah. Tapi terjemahan Google sih seperti itu. Yah, kalau memang benar Tatiana memberi Adrian benda itu, tidak heran Adrian menjadi sangat ceroboh sampai lupa dimana ia menaruh manset itu. Dia aja nggak pernah mikir bakalan mau pake itu manset. Hahaha… khas Adrian.

Adrian hanya berpikir untuk menghabiskan waktu birthdaynya dengan minum dan mencari donor, minum darah. Tapi saat keluar ia bertemu dengan Jill dan yang mengejutkannya gadis kecil itu mengingat hari kelahirannya. Saat Adrian ditanya apa dia akan merayakannya, Adrian tidak terlalu tertarik dengan ide itu. “Every day’s party for me,” begitu katanya. Kemudian Jill mengusulkannya untuk makan malam bersamanya. Lebih tepatnya bersama Lissa, orangtuanya, dan Ro—

Jill mendadak berhenti bicara. Nama seseorang yang berbahaya bagi Adrian. Yah, meski seperti biasa, terlihat cuek, Adrian harus mengakui bahwa masih jauh di dalam hatinya ia masih sangat kecewa dengan  pilihan yang diambil gadis itu. Okay, so amanah dari seri Vampire Academy ini adalah jangan pernah mencoba untuk menggoda, menarik perhatian seorang gadis yang sedang jatuh cinta berat kepada seorang dewa petarung seksi dengan aksen Rusia-nya yang menggoda. Adrian, it is your fault! You got that hah? Nevermind then, you can dating a human though. I mean ME… Ah, but there WILL be Sydney in your life, ok.

Jadi begitulah. Lebih lengkapnya kau bisa membaca cerpen ini. Aku sih ingin bersikap jahat dengan bilang cari sendiri di Google, tapi entahlah ya. Bahkan Adrian pun tidak bisa membuatku jahat. Meskipun tidak sepenuhnya benar. Karena Adrian membuatku malas membuat pe-er. Setiap kali membuat pe-er, aku teringat satu kalimatnya.

Terserahlah. Aku selalu mencontek selama sekolah. Dan lihat betapa hebatnya aku sekarang.”

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s