MY REVIEW ABOUT IN DEATH SERIES

BKs9MFPCEAA0ZmrI had it all now, if you’re curious!!! Yeah, thanks to Google and whoever invented it. I may be complete this (Indonesian version) series and happy forever after.

 

 

Halo! Apa kabar nih? Hahaha… cheesy opening. Yep, coz I donno what to write as an opening *sigh* akhirnya aku muncul lagi di blog aku cuma buat numpahin uneg-unegku yang sudah lama tertimbun sejak berkenalan dengan seri In Death karya J.D. Robb.

Yah, sebenernya sih ini kebetulan aja. Maksudku berkenalan dengan seri In Death ini. Kebetulan liat timeline Twitter, terus liat akun @febifabiola ngebahas ini seri. Awalnya sih cuek aja, karena well, aku ini tipe orang yang pilih-pilih soal buku. Udah kapok pas dulu-dulu lagi naksir berat sama Korea, trus kalap beli segala macem buku yang ada hubungannya sama Korea, salah satunya fanfiction. Yah, aku sendiri juga suka nulis fanfiction. But, I’m not brave enough to publish it in a book. Real book. Jadi, palingan aku nge-post FF itu di FB, terus liat reaksi yang baca. Kalo ada yang baca. Wah, bersyukur banget pas udah baca, terus komen sampe maksa-maksa (dengan pedenya) yang silent reader gitu wajib kudu harus comment. Sial, alay berat. Hahahaha…

Terus, sekarang sih udah stop nulis FF gitu. Entah kenapa, lagi mengalami kebosanan aja. Mungkin ini efek diomelin sama ortu melulu yang katanya dunianya hape, tuhannya hape<<< this is truly really extreme to say, coz I’m not like this... yah, semacam itu. Terus hape aku sempet tewas dua kali dan sebulan lebih sedikit ngerasain hidup tanpa ponsel. Dan… not bad. Emang aslinya aku nggak terlalu gimana-gimana dalam arti buruk sama ponsel, toh aku masih punya hobi lain. Dan akhirnya balik lagi deh ke hobi yang lama dan (dulu) jadi sasaran penindasan ortu juga.

Oke. Ah, In Death series. Penyesalan tiada guna. Yeah, aku nyesel banget karena baru tahu tentang seri ini baru sekarang, tepatnya tahun ini. Mungkin dua-tiga bulan belakangan ini. Seandainya, aku tahu lebih lama, misalnya waktu pertama kerja, mungkin aku akan menghabiskan gajiku dengan membeli seri ini dan mungkin saja aku nggak perlu susah payah banget ngabisin waktu buat stalking di Internet cuman buat nyari ini seri—dan seri Vampire Academy. Sampe sekarang, aku masih kesel, nyesel, nyesek dulu waktu kelas 3 SMA pernah liat buku kedua VA, Frostbite di TM Bookstore, Depok, tapi ga bisa beli karena selain waktu itu ga punya uang, ga diijinin beli sama kakak, lagi persiapan UN juga. Bisa dibantai begitu nyampe rumah kalo nyokap tau bawa apa.

In Death adalah seri buah karya Nora Roberts. Di sini, dia memakai nama pena, J.D. Robb, entah kenapa. Aku ga stalking pengarangnya, soalnya. Seri ini di Amerika udah banyak banget lho. Lebih dari 40 buku dan terakhir cek Wikipedia udah sampe buku ke 46-47 yang bakal terbit tahun ini; Thankless in Death dan Taken in Death and by the way, yang terakhir ini antologi (ampe sekarang ngga ngerti maksud antologi ini apa -_-). Tapi di Indonesia, baru diterjemahin sampe Portait in Death dan itu buku ke-16 men! Gila, jauh banget ketinggalannya… frustasi banget waktu tau. Dan aku bersumpah, begitu punya ponsel yang bisa buka dokumen format .pdf, bakalan langsung isi sama seri satu ini. Nungguin buku-bukunya selesai diterjemahin, lah, keburu kawin dulu gw.

Alasanku ngoleksi seri ini ada dua, yaitu karena tokoh ceweknya ga lemah dan tokoh cowoknya super duper kaya, ganteng miapah ciyus banget<<< mulai ngalay. Serius, seri ini mengisahkan tentang Letnan Eve Dallas, polisi yang berdedikasi sama pekerjaannya, dalam memecahkan kasus-kasus. Oh ya, meski pangkatnya Letnan, dia bisa dibilang semacam detektif gitu. Banyak kasus yang dipecahkannya, karena keinginannya untuk menegakkan keadilan dan membela mereka yang sudah mati. Letnan satu ini contoh polisi yang bagus banget dan kalo ada dalam kenyataan, wah, nggak ada yang namanya korupsi atau kejahatan, atau paling nggak berkurang deh. Karena ya sifatnya yang keren banget itu dan juga cara mengusut kasusnya yang bener-bener ampe tuntas. Eve ngga sendiri menuntaskan kasusnya. Dia punya ajudan bernama Delia Peabody, yang emang nge-fans dan kepingin jadi polisi kayak Eve. Serta banyak orang lain lagi. Tapi yang hampir dipastikan akan muncul, sudah pasti si pemeran pria pertama, Roarke.

Oh ya, aku tertarik sama seri ini karena sudut pandangnya lho. Sudut pandang orang ketiga, yang tahu jalan pikiran semua orang, bahkan pelakunya juga diceritakan pikirannya. Jadi, kita nggak hanya dikasih pandangan dunia di matanya, tapi juga di mata orang-orang sekitarnya. Menurutku, sudut pandang ini cukup sulit. Karena nggak cuma satu karakter aja yang dijabarin kisahnya, tapi juga beberapa tokoh lainnya yang memegang peranan penting di setiap buku. Cool, huh? Oh ya, karena satu buku itu udah menyelesaikan satu kasus, jadi nggak masalah sih kalo bacanya nggak berurutan. Mungkin kalo kalian mau lebih paham soal masa lalu Eve sama Roarke, jadi perlu baca dari awal. Tapi, kalo aku sih, karena bacanya nggak urutan, tetep aja ngerti. Karena nggak cuma baca novelnya, tapi juga baca pendapat orang-orang yang udah baca. Jadi, nggak bingung buat nelusurin inti ceritanya.

Lt. Eve Dallas bukan tanpa alasan dia ingin membela yang telah mati dan menegakkan keadilan. Itu karena dia juga pernah menjadi korban, korban ketidakadilan, maksudnya. Masa lalunya bisa dibilang menyedihkan. Waktu kecil, dia miskin, dan meski itu sudah tahun dimana teknologi merajalela sejak Perang Urban, tapi nasibnya amat mengenaskan. Ayahnya sendiri selalu menyiksanya, bahkan yang paling parah memperkosanya, soalnya ayahnya itu pengen melacurin si Eve selagi masih kecil. What kind of father is that? Bahkan dia nggak pantes menyandang gelar ‘ayah’. Bayangin aja, saat itu dia masih teramat sangat kecil, dan pada umur delapan tahun, karena sudah sangat tidak tahan dengan perlakukan ayahnya, dia pun membunuh ayahnya dan kabur. Kemudian, ia mengalami kehilangan ingatan dan lupa akan siapa dirinya. Tapi begitu dewasa, dia teringat masa kecilnya dan terus dihantui ketakutan dari mimpi-mimpinya yang hampir selalu datang membayanginya. Untung ada Roarke, suaminya, yang menghampirinya dan menenangkannya.

Roarke ini digambarkan amat sangat sempurna. Hampir. Laki-laki Irlandia, awal usia tiga-puluhan, tanpa bagaikan lukisan yang paling indah, memiliki mata biru indah, otak cerdas, penampilan memukau, dan misterius. Yep, Roarke yang hampir sempurna dewa itu juga punya masa lalu yang kelam. Tapi untungnya, tidak seperti Eve, dia tidak dibayang-bayangi dengan ketakutan tentang masa lalunya. Benar, terkadang ada saat-saat dimana dia takut menghadapi masa lalunya. Tapi, dia menghadapinya, meski sering kali juga tidak sanggup menghadapi kenyataan yang tidak pernah disangkanya. Misalnya saja, di Portait in Death, dia mendadak mengetahui bahwa sosok ‘ibu’ yang dikiranya adalah ibu kandungnya, ternyata bukan. Ibunya bukan orang brengsek. Ibunya orang baik, namun meninggal saat mengira bahwa putranya membutuhkan seorang ayah. Roarke membenci ayahnya. Ayahnya selalu memukulinya, menyiksanya, tapi bagaimanapun, dia memiliki wajah ayahnya. Meski ingin mengganti namanya, supaya dirinya tidak terlalu muak dengan kenyataan itu, tapi toh dia tetap hidup dengan nama itu dan menjadi terkenal karena dirinya sendiri, bukan karena ayahnya. He’s wealthy with his own work. Kalo ga salah baca, dia membangun perusahaannya, Roarke Industries, sejak usia 19 tahun. Woow… 19?! Dan berhasil mempertahankan kekuasaannya memiliki hampir seluruh semesta hingga kini.

Seri ini memang menjual kesempurnaan. Ya, tapi realistis juga karena di balik kesempurnaan itu juga ada banyak kekurangan. Contohnya meski pun sudah tahun 2060-an, tapi toh keadaannya nggak jauh beda dengan masa kini. Masih banyak orang miskin, transaksi narkoba, malah lebih parah dan jauh lebih wah… susah deh dibayangin. Pemeran utamanya juga. Sekilas mungkin memang terlihat sempurna, tapi maih ada kekurangan yang mereka miliki. Tapi kekurangan itu tidak membuat mereka lemah, hancur, dan sebagainya. Kelemahan itu menguatkan mereka. Dan meski enggan, harus diakui bahwa kelemahan dan masa lalu itulah yang membuat mereka menjadi sehebat ini. Dan tentunya, mempertemukan Eve Dallas dengan Roarke 🙂 ah, nge-shipper deh saya. Tapi emang, Eve sama Roarke itu pasangan paling cocok, romantis, nggak ada duanya deh. Eve sering ngira kalo dia terlalu beda sama Roarke yang ohmyGod-too-perfect-to-be-true (bener juga sih, di dunia nyata kan nggak ada orang macem dia 😦 hiks…). Tapi, J.D. Robb bisa dong bikin dibalik perbedaan, pasti ada persamaan. Terbukti deh sama pasangan ini. Meski, yeah, harus disadari juga kalau mereka tidak nyata.

Mulai dari buku Immortal in Death, Eve dan Roarke sudah menjadi suami-istri. Banyak pertengkaran yang mereka alami, karena mereka sama-sama keras kepala. Tapi lebih sering Roarke yang menang, hehehe… Eve bete kalo Roarke ikut campur sama urusan kasusnya, betenya sih lebih karena khawatir akan terjadi sesuatu sama Roarke. Tapi ya, terkadang gimana Roarke nggak ikut terlibat, lha wong TKPnya ada di salah satu tempat miliknya, atau korbannya atau pelakunya berhubungan dengannya, atau paling nggak punya masa lalu sama dia. Selain itu, well, dengan ketangkasan, kejelian, serta kecerdasannya di bidang manapun; teknologi, berkomunikasi, bahkan berdebat dengan pelaku menjadi alasan ia dapat terlibat. Yah, Roarke nggak akan terlibat kalau nggak khawatir sama Eve kan? Jadi yah, selalu ada alasan untuk Roarke berada di sekitar Eve dan menambah besar kejengkelannya, hahahaha…

Overall, this series is recommended too. Jangan jiper sih sama serinya yang astagfirullah banyaknya. Kalo udah kecantol sama seri ini, rada susah buat lepasnya. Endingnya sih sedih kalo misalnya seri ini berakhir jadi nggak bisa baca kisah Roarke sama Eve. Tapi kalo kata Nora Roberts sendiri sih, seri In Death ini bakal berakhir pas Roarke sama Eve punya anak. Jadi, berdoalah supaya Roarke sama Eve cepet-cepet punya anak, kalo mau ngelengkapin koleksi seri ini. Hihihihi…

Ada banyak quotes menarik di seri ini. Humornya bisa lah ditangkep, meski kebanyakan agak retoris ya. Makanya, seri ini lebih dituju ke pembaca dewasa. Dan secara aku sudah dewasa secara hukum dan usia (sepertinya secara mental tidak), jadi sah-sah aja aku baca seri ini. Hihihi… awas yaa terpesona sama Roarke.

 

 

Advertisements

24 comments

  1. numpang nanya nih
    beli bukunya online atau langsung di toko buku?
    Aku juga lagi mau ngelengkapin ini series tp banyak yang udah nggak ada
    TT_TT

  2. kak, ql mau cari pdf’y dmn ya? semua seri yg uda (1-16)/blom (17-terakhir) di tanslate aku penasaran pengen tau cerita’y 😀

    • umm, kalo yang diterjemahin aku belum pernah nemu pdfnya. better you buy the book, I guess ^^ thanks for your visit~

  3. Wow gak nyangka ada juga yg tergila-Gila sama buku ini. Dua jempol deh buat reviewnya. Punya stok lebih seri yg lama gak?

  4. You know what? Aku nyesel nyesel banget baru tau novel ini minggu lalu. Baru baca dua seri pertama dan langsung jatuh cinta sm novel ini dan berencana ngoleksi seri ini. Argggghhh
    Oiya, mau nanya dong, koleksi kamu indonesia ver kan ya? Gmna trjemahannya? Enak buat dibaca ngga? Soalnya aku kadang nemu novel luar yg trjemahannya agak kurang jd males deh bacanya hehe

    • maaf baru balas ^^ iya aku punya yang terjemahan. Yang bahasa Inggrisnya baru baca beberapa halaman udah pusing duluan *curhat* hmm, sejauh ini sih enak dibaca kok terjemahannya dan aku sih paham-paham aja isi ceritanya

  5. mau nanya, smpe akhir thn 2016 ini, udah sampe seri berapa diterjemahin sama gramed seri in death-nya? makasi infonya..
    btw, aq malah baru kenal seri ini. tp asli keren bgt deh pokoknya!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s