[REVIEW] BLOOD PROMISE – RICHELLE MEAD

12848544

Judul Asli: Blood Promise

Pengarang: Richelle Mead

Penerjemah: Harisa Permatasari

Penerbit: Matahati

Tebal: 570 hal

Diterbitkan pertama kali: 11 Oktober 2011

ISBN: 9786028590365

Format: Paperback

Genre: Urban Fantasy

Bahasa: Indonesia

Seri: Vampire Academy

Buku ke-: 4

Kepemilikan: Punya sendiri

Web Pengarang: Richelle Mead

Ringkasan

Serangan Strigoi di Akademi St. Vladimir merupakan peristiwa terburuk yang pernah menimpa sekolah itu dan meninggalkan duka bagi dunia Moroi. Begitu banyak yang tewas. Parahnya lagi, Strigoi membawa pergi beberapa korban… termasuk Dimitri.

Dimitri lebih rela mati daripada harus berubah menjadi salah satu dari mereka, dan kini Rose terpaksa meninggalkan sahabatnya, Lissa—pewaris Dragomir terakhir yang selalu dikawalnya—untuk pergi memburu dan membunuh Dimitri demi menepati janji yang telah diminta Dimitri darinya sejak lama.

Kehidupan Rose Hathaway tidak akan sama lagi. Dengan segala risiko yang harus dipertaruhkan, dan perjalanan ke dunia yang begitu asing baginya, bisakah Rose menepati janjinya? Sanggupkah dia menghancurkan nyawa orang yang paling dicintainya?

 

Review

Halo! Setelah sebelumnya me-review dan memberikan gambaran tentang seri Vampire Academy di sini, sekarang aku beralih me-review seri keempatnya, Blood Promise. If I may to be honest, ngeliat covernya yang berwarna ungu, bagus deh. Lebih artistik, dan aku lebih suka yang versi terjemahan Indonesia daripada yang aslinya, karena yang versi aslinya ada modelnya, yang nggak sesuai sama imej aku tentang Rose. Ngomongin soal seri Vampire Academy, aku jadi inget perjuangan buat dapetinnya. Selalu inget tiap buka lembar pertama bukunya. April 1st 2013. Wah, wah… emang masih baru banget, tapi nyarinya susahnyaa minta ampun. Soalnya penerbit Matahati sendiri kan nggak jelas antara ada dan tiada :p nggak—belum dilanjut lagi seri ini. Padahal terjemahannya bagus dan—tentunya—aku suka covernya ;p

Oke, jadi di buku ini Rose Hathaway, seorang dhampir—separuh vampir, separuh Moroi (pure vampire; minum darah, lemah terhadap sinar matahari, namun dapat mati)—memutuskan untuk drop out dari sekolahnya, St. Vladimir untuk pergi, bertualang ke Rusia untuk mencari Dimitri dan membunuhnya, karena ia sudah menjadi Strigoi—vampir jahat dan abadi—dan seperti di ringkasan yang ada di belakang buku, Dimitri lebih rela mati daripada menjadi makhluk abadi seperti Strigoi dan Rose merasa berkewajiban untuk menjadi yang membunuhnya, meski ia sendiri tidak yakin dapat melakukannya. Kenapa Rose merasa dia harus pergi ke Rusia? Karena dia nggak tahu Dimitri akan pergi kemana lagi selain ke kampung halamannya.

Kalau di buku sebelumnya, Shadow Kiss, ditunjukkan sisi labil Rose sebagai efek karena menjadi shadow-kissed—dicium bayangan, dalam arti pernah mati namun dihidupkan kembali—di buku ini ditunjukkan sisi melankolis dan plin-plannya Rose. Dia bisa pergi ke Rusia dengan bantuan cowok yang naksir kepadanya, Adrian Ivashkov (bangsawan yang juga cucu Ratu Moroi), tapi begitu dia meninggalkan St. Vladimir dan sampai di Rusia, dia mulai ragu-ragu, apakah jalan yang dipilihnya tepat? Dia merasa sebal karena Lissa mempunyai teman baru, Avery Lazar dan sepertinya Adrian pun naksir kepada Avery. Rose terbiasa menjadi… apa ya istilahnya? Everything oriented around her dalam artian dia ingin menjadi sosok yang penting, tidak tergantikan oleh orang-orang yang disayanginya. Dalam konteks ini adalah Lissa dan Adrian. Memang menyebalkan, tapi itu wajar menurutku. Dia masih delapan belas tahun, masih lumayan labil. Jadi pantas lah ya, keragu-raguan masih mendominasi pikirannya. Apalagi dengan kemampuannya untuk dapat masuk ke dalam pikiran Lissa, wah… makin susah move on deh.

Di buku ini, diperkenalkan beberapa tokoh baru. Dimulai dari bertemunya Rose dengan alkemis muda bernama Sydney Saga yang membantunya untuk pergi ke Baia, kampung halaman Dimitri. Di Baia, ia bertemu dengan keluarga Belikov; seperti ibu Dimitri, Olena, kemudian saudara-saudara perempuan Dimitri; Viktoria, Karolina, Sonya. Serta neneknya Dimitri, Yeva. Kemudian dia menemukan lagi seorang pengguna roh dan cowok yang ter-shadow kiss juga sepertinya. Terus juga ada Moroi yang terus memaksanya untuk pulang ke St. Vladimir, Abe Mazur. Wah, intinya di buku ini rame banget deh, ada banyak banget tokoh yang muncul. Belum sama tokoh tambahan lainnya saat Rose pergi ke Novosibirsk (Am I spell it right?) terus saat Rose ditawan di tempat Strigoi tempat Dimitri tinggal. Yup, finally Rose dan Dimitri bertemu. Tapi Dimitrinya beda banget. Dia masih Dimitri yang sama, tapi kepribadiannya udah beda, semacem udah di brain-washing gitu deh. Dimitri memaksa Rose agar mau secara sukarela menjadi Strigoi. Nah lo? Galau lagi deh Rose, apalagi Dimitri semacem promosi gitu deh apa aja advantages jadi Strigoi yang makin bikin Rose gamang. Udah gitu Adrian marah dengan sikap kekanak-kanakan yang ditunjukkan oleh Rose saat keduanya bertemu di spirit dream. Jadi kira-kira mau nggak Rose jadi Strigoi? Just read the book and found it out.

Buku keempat ini lebih tebal ya daripada buku-buku sebelumnya—kalau dilihat-lihat sih seperti buku Goblet of Fire-nya Harry Potter. Seperti biasa, Richelle menjabarkan setiap detail dari petualangan Rose dengan mendalam—secara make sudut pandangnya itu sudut pandang orang pertama yaitu Rose sendiri—sampai ke flashback waktu Dimitri masih jadi Dhampir dan dunia masih aman tenteram sejahtera. Kesannya sih buangin kertas banget ya, tapi menurutku ya ini bagus. Lebih gimana ya? Lebih rinci deh. Seri ini harusnya masih lanjut nih, ke Spirit Bound, hanya saja kapan nih diterbitin terjemahannya? Duh, udah kangen banget sama Dimitri dan Adrian nih…

Quotes

“I know how devastated you must be to miss me, but leave a message, and I’ll try to ease your agony”—Adrian Ivashkov

“You kill me, Rose,” he said melodramatically. “Every day is agony without you. Empty. Alone. I pine for you, wondering if you’re even still alive.”—Adrian Ivashkov

“Avery worries about her, too, so Lissa’s in good hands. Avery’s pretty amazing.”
I gave him a scathing look. “Amazing? Do you like her or something?” I hadn’t forgotten Avery’s comment about leaving the door unlocked for him.
“Of course I like her. She’s a great person.”
“No, I mean like. Not like.”
“Oh, I see,” he said, rolling his eyes. “We’re dealing with elementary school definitions of ‘like’.”—Adrian Ivashkov & Rose Hathaway

“We need to be together.”
“Why?” I asked softly. The word was carried away on the wind, but he heard.
“Because I want you.”
I gave him a sad smile, wondering if we’d meet again in the land of the dead. “Wrong answer,” I told him.
I let go”—Rose Hathaway & Dimitri Belikov

Posting ini dibuat untuk challenge:

readbig_button

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s