KISAH SANG PENIMBUN BUKU

 

Hari ini gue ke toko buku terbesar di Indonesia. Iya, pada tau kok itu mereknya apa. Ga perlu lah pake nyombong segala, cukup nyebut nama buku-buku yang jadi korban sial timbunan gw kali ini.

 

Semester ini adalah semester yang cukup berat buat gue (dan temen-temen satu jurusan—atau kampus? Gue ga ngecek, tapi kayaknya iya satu kampus) karena semester ini dosen-dosen pada ikut pelatihan gitu, nggak tahu deh pelatihan macam apa. Tapi pelatihan ini berakhir di akhir semester perkuliahan juga. Which means, kuliah kali ini jadwalnya kacau balau. Gimana nggak kacau coba?! Minggu pertama aja cuman satu dosen yang masuk. Oke, wajar karena minggu pertama masuk dan gue masih bego aja ngira kalo para dosen itu masih liburan ke lautan monster sama Percy. Ternyata, pas hari selasa salah satu dosen gue cerita kalo dosen-dosen lagi pada sibuk pelatihan, jadi kami (mahasiswa) diminta pengertiannya… dengan mencari dosen-dosen yang lagi nganggur di kampus, nggak peduli dia seharusnya ngajar hari apa. Pokoknya the show (lecture) must go on.  Prinsipnya gitu. Sounds easy. Tapi begitu diterapkan… semuanya berubah.

 

Minggu pertama berakhir, beralih ke minggu kedua. Dari awal, PJ udah nyari-nyari dosen yang kemungkinan bisa masuk kelas. Tapi hasilnya nihil. Berhubung gw ga jadi PJ untuk semester ini, gw pun nyantai-nyantai, di kelas asyik nonton bareng temen. Lalu ada satu dosen masuk, tapi cuman (sekali lagi) ngasih tau kabar pelatihan yang diterima olehnya. Bilang kalo dia nggak bisa menolak, ini tugas negara, ngajar pun tugas negara dan bla bla bla… membahas rencana perkuliahan. Udah. Cuman gitu doang. Habis itu dia ngacir. Yaaah… ya sudah, gue bingung. Dosen nggak ada, ya gue pulang. Karena pulang cepet, jadi gue berkesempatan cabut ke tempat kerja, gue sih seneng-seneng aja nggak ada dosen. Kan timbunan duit makin tebel, hehehe…

 

Lalu hari ini dosen kembali diberitakan nggak ada. Kali ini gue menjerit. Shit! masalahnya semalem temen udah ngabarin kalo hari ini ada perkuliahan, meski cuman satu. Dan sebagai mahasiswa rajin yang cantik, baik hati, dan tidak sombong gue pun tetap pergi ke kampus dengan rajinnya. Sampe ngeri telat dan naik ojek, ongkosnya 5ribu. Kemudian mengasihi diri sendiri karena uang itu sia-sia belaka.

 

Jam 09.30 gue kepingin nonton kota penuh tulang, tapi kalo sendiri males banget. Lalu planning berikutnya pengen ke Depok, ambil nilai les… tapi males pulangnya yang mesti naik kendaraan panas bin bau. Ogaaaah… akhirnya memutuskan ke toko buku, bareng sama Vivi. Begitu naik kendaraan (baru nyadar kalo kendaraan menuju toko buku pun sama pengapnya seperti pulang ke Depok), rupanya arah menuju Bunderan HI macet. Gue bingung, ini dalam rangka apa demo lagi. Ketika kendaraannya sudah berlari keong hingga bunderan itu, akhirnya terlihat kerumunan sialan yang menghabiskan beberapa menit waktu gue. Nuntut gaji lagi rupanya. Emangnya belum cukup apa demo waktu tanggal satu Juni? Kalo nggak puas, kenapa nggak rame-rame bolos kerja daripada rame-rame bolos sambil demo? Mikir dong, kalo lo pada bolos kerja ya siapa yang bikin duit buat bos lo? Susah amat… udah hidupnya susah, nyusahin orang lain yang make jalan lagi *nyinyir*

 

Setelah berkutat, akhirnya gue dan Vivi nyaris sampe ke toko buku. Nyaris, karena kendaraannya nggak menuju arah Kampung Melayu, melainkan menuju Rawamangun. Karena sayang duit, akhirnya gue dan Vivi jalan kaki ampe ke toko bukunya. Lumayan… udah lama juga nggak jalan kaki lagi, hehehe…

 

Sampe di tobuk, mata gue melihat ke tumpukan buku-buku yang ada di luar gedung. O-ho! Looks like a tons of cheap books! Tanpa pikir panjang kaki gue berjalan menuju tempat itu dan memilih-milih buku apa yang bakal dibeli. Sempet bingung mau beli seri Night Huntress-nya Jeanine Frost atau beli novel Peterpan dan Pemburu Bayangan… lalu ada novel yang bikin penasaran lagi… tapi males kalo beli, maunya minjem… ya udah nggak diambil… lalu dua komik… tapi karena yang satu gue pegang itu ternyata udah seri kelima, akhirnya gue mengeliminasi komik itu. Dan karena gue nggak mood baca Peterpan, akhirnya dia pun tereliminasi juga. Yang survive hanya Destined to the Grave sama satu lagi something Child’s Play.

 

Setelah puas liat-liat buku dan akhirnya membeli dua buku itu dengan harga 15 ribu, gue pun masuk ke dalam gedung tobuk. Ahhh… you never feel so like in heaven… aromanya begitu menyejukkan (pake AC soalnya) dan aroma buku-buku yang ditumpuk itu begitu… menggoda, tempted (bukannya ini masih di lantai satu?). puas liat-liat buku di lantai satu, kami pindah ke lantai dua. Aduh, aku tergoda mau beli Udah Putusin Aja! tapi liat harganya yang diatas 50k, aku pun dengan pedihnya memalingkan mataku dari buku berwarna nge-pink ceria itu (bener ga pink? Iya sih kayaknya).

 

Misiku kali ini adalah beli buku Demigods Diaries. Tapi pas lagi cuci mata, malah liat novel The Mortal Instruments!!! Semua serinya lengkap lagi!!! Oke, udah pasti ini nggak masuk daftar beli aku, tapi tetep aja! Aku penasaran sebagus apa sih seri ini?! Kemudian aku liat ke bawah… ada RIN TIN TIN!! Ah… bunuh saja diriku sekarang juga…

 

Bergerak sedikit ke shelf di kanan Mortal Instruments, akhirnya aku menemukan yang kucari… bersama The Lightning Thief dan Sea of Monsters!!! Film cover both of those two!!! Aku harus memilikinya dan aku berakhir dengan memeluk tiga buku terakhir yang menggoda mataku itu.

 

Sesampainya di rumah, aku menatap meja belajarku yang sepertinya sudah berganti fungsi menjadi meja buku. Shelf number two hampir penuh dengan timbunan… shelf number one khusus komik, shelf number three khusus VA sama In Death series… LALU DIMANA HARUS AKU TEMPATKAN BUKU-BUKU BARU INI?! Gue nggak tahu apa yang harus gue lakukan. Begitu gw ambil satu buku untuk ditempatkan, gue pun mikir kayaknya kuliah gw salah jurusan dan emang bener juga sih. Karena sepertinya semenjak kuliah, kebiasaan menimbun buku gue malah makin menjadi-jadi. Gue sebenarnya lebih niat kuliah di sastra inggris. Berhubung nggak dapet ya udah masuk ke jurusan anak esde. Gue lebih hobi meminjam membaca komik waktu SMP, kemudian mulai menimbun buku pas SMA, karena udah kenal sama online shop. Dan saat kuliah, dimana seharusnya gue mengumpulkan materi yang berhubungan dengan kerja gue kelak, gue malah menghabiskan waktu di tobuk dengan menimbun novel dan (sesekali) komik.

 

Kebiasaan ini udah dilarang sama orangtua gue. Tapi dasar gue bandel, ya gue nekat menyembunyikan buku-buku baru di dalam tas sampe barusan ini tas gue menggelembung kayak abis diisi beras. Bodo amat… gue menuju kamar pun mengendap-endap supaya nggak bikin ortu (terutama nyokap) curiga. Alhamdulillah, nyokap lagi tidur. Jadi gue pun naro tas di kasur dulu baru deh gue salam dan mencium tangan nyokap. Anak baik. *puk puk puk*

 

 

 

Aku pun memutuskan untuk menambah shelf di meja ini. Rak yang seharusnya merupakan tadinya adalah rak buku pelajaran semasa SD-SMA pun beralih menjadi shelf number four. Akhirnya buku-buku baru ini pun punya tempat. End of story.

 

Tapi…

 

Cerita ini masih belum selesai, kawan.

 

…………….

 

…………….

 

…………….

 

…………….

 

…………….

 

…………….

 

 

 

Tunggu review timbunan gue nanti yaaa…

 

*ditimpuk*

 

Foto-foto

*ini semua bagian dari meja belajar gue yang beralih fungsi jadi meja buku*

DSC00373SHELF NUMBER ONE

DSC00376

SHELF NUMBER TWO *dibawahnya adalah Shelf Number Four*

DSC00374

SHELF NUMBER THREE

DSC00375

SHELF NUMBER FOUR *diperjelas*

BKzOeWoCIAA4P2U

NB: BTW, Percy, do you know that you’re the reason why I brought three series of your adventure?

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s