MY REVIEW ABOUT THE KANE CHRONICLES BY RICK RIORDAN

 

Ringkasan The Red Pyramid

Sang manusia api melambaikan sebelah tangannya. Lingkaran biru di kaki ayah menjadi gelap. Ayah berusaha meraih kotak peralatannya dengan susah payah, namun kotak itu tercecer di lantai. Dengan jentikan tangannya yang lain, manusia api itu menyulap sebuah peti mati bercahaya yang mengurung ayah kami. Ayah menatapku untuk terakhir kalinya, dan menggumamkan sebuah kata:


LARI!
Yang disaksikan Carter dan Sadie malam itu benar-benar mimpi buruk. Seorang manusia api mengurung ayah mereka di dalam sebuah peti mati dan menenggelamkan peti itu ke dalam bumi.
Kedua kakak beradik itu pun terjebak dalam sebuah petualangan menegangkan yang akan menguak rahasia keluarga mereka.

Sebelum menghilang, ayah mereka telah membangkitkan lima dewa Mesir kuno. Dan kini, salah satu dewa Mesir yang suka membuat onar, Set, mengincar nyawa Carter dan Sadie. Dengan hanya berbekal sedikit pengetahuan tentang kekuatan magis yang mereka miliki, mereka terus berjuang untuk menyelamatkan diri mereka dan mencari ayah mereka. Mengapa Set mengincar nyawa mereka? Mampukah mereka menemukan ayahnya?

Ringkasan The Throne of Fire

Pertarungan melawan Kekacauan terus berlanjut. Sejak Dewa-Dewa Mesir terlepas ke dunia modern, Carter dan Sadie Kane terlibat banyak masalah. Dan kini, Dewa Apophis, musuh mereka yang paling berbahaya, akan segera bangkit. Satu-satunya cara untuk menghentikan Apophis adalah dengan membangkitkan Ra. Masalahnya, tidak ada yang tahu di mana Ra. Bukan hanya itu, untuk membangkitkan Ra mereka juga harus menemukan tiga gulungan dari Kitab Ra dan mempelajari mantra yang tepat untuk bisa membacanya.

Narasi Sadie dan Carter Kane, humor-humor unik ala mereka dan petualangan ke seluruh dunia akan membuat kalian tenggelam dalam Petualangan Kane bersaudara yang sensasional.

Ringkasan The Serpent’s Shadow

Bayangan itu menggeliat-geliat di permukaan air seperti ular raksasa … menggelepar-gelepar di lautan … menggigit-gigit tanpa arah … dipenuhi amarah dan kesakitan … membenci dunia manusia dan para dewa, yang membatasi kebebasannya.

Ia akan menghancurkan bumi, kembali ke kegelapan dan berenang selamanya dalam keluasan Kekacauan yang tak terbatas.

Apophis, sang Dewa Kekacauan, kembali mengancam. Seluruh dunia akan dibawanya ke dalam kegelapan abadi. Carter dan Sadie Kane kini kembali mendapatkan tugas yang hampir mustahil—membunuh Apophis.

Satu-satunya mantra sihir kuno yang bisa menghentikan aksi Apophis telah hilang ratusan tahun lalu. Kane bersaudara harus mengandalkan hantu pembunuh yang tak bisa dipercaya untuk menemukan mantra tersebut. Mereka pun harus memilih menuruti sang hantu atau memikirkan rencana cadangan.

Apa pun pilihan mereka, ada risiko yang harus mereka pertaruhkan: kematian dan akhir dunia.

 

Hullo~~~ I’m back!

So, finally I’m here. Doing reviewing again… yeah, what a wonderful world. Jadi karena akhirnya sebentar lagi nih kuliahku selesai (hurrraaaaayyy!!!) dan aku gembira setengah dewa, sekarang aku mulai menulis reviewku tentang novel trilogi yang kubaca ini.

Sebenarnya sudah lama aku mengetahui trilogi fantasi ini, yang ditulis oleh om Rick Riordan—lagi-lagi mengenai mitologi. Setelah sebelumnya sukses dengan seri Percy Jackson yang menceritakan mitologi Yunani dengan sangat menyenangkan serta kembali lagi dengan The Heroes of Olympus (mitologi Yunani plus mitologi Romawi) yang pada dasarnya sih dewanya sama saja, namun petualangan yang diangkat lebih seru, lebih greget, dan lebih mewah. Kenapa kubilang mewah? Berbeda dengan Percy Jackson (dan sudah pernah kuceritakan di review The Heroes of Olympus) petualangan tujuh demigod ini diceritakan oleh tujuh narator, sehingga kita bisa menyelami karakter masing-masing pahlawan ini.

12878441 13596920 18085365

Nah, balik lagi ke mitologi. Di seri The Kane Chronicles, pak Riordan menceritakan mitologi Mesir. Kalau sebelumnya membahas demigod dengan salah satu orangtua dewa, kali ini kita diberi petualangan anak-anak dari peneliti Mesir Kuno yang dimasuki (rasuki? Terserah, semacam itulah…) tumpangi pikirannya dengan dewa-dewi Mesir. Oh ya, narasi serial ini juga berbeda. Cara bercerita serial ini adalah seolah-olah kita sedang mendengarkan rekaman dari Carter dan Sadie Kane, dua protagonis serial ini, yang berebutan mikrofon untuk menceritakan kisah mereka dengan seru. Bahkan pada halaman pembuka saja sudah terasa suasana misterius dimana (ceritanya) om Riordan menerima paket berisi rekaman yang sudah hampir terkoyak, entah oleh makhluk apa.

Pada buku pertama, The Red Pyramid, bercerita tentang Carter dan Sadie, dua saudara yang tinggal terpisah. Carter berkeliling dunia bersama ayahnya, sementara Sadie tinggal di London bersama kakek dan neneknya. Pada suatu hari ayahnya dan Carter mengunjungi Sadie namun ternyata ayahnya pergi ke Museum tentang Mesir Kuno di Inggris. Karena penasaran dengan apa yang dilakukan ayahnya, akhirnya diam-diam keduanya mengikuti ayahnya dan terkejut saat melihat ayah mereka melakukan suatu ritual untuk membangunkan dewa. Dewa Mesir Kuno tepatnya. Namun apa yang dilakukan ayahnya itu ternyata tidak hanya membangkitkan satu dewa saja, namun juga empat dewa lainnya, salah satunya adalah Set, dewa Keonaran. Misi keduanya sekarang adalah mencari ayah mereka dan menghentikan niat Set yang mengurung ayah mereka kerena menampung dewa Osiris.

Selanjutnya pada The Throne of Fire bercerita setelah Carter dan Sadie mengirim banyak rekaman, ternyata ada banyak keturunan Fir’aun yang merespon dan datang ke Rumah Brooklyn sambil mempelajari sihir. Kemudian mereka mendapat misi untuk menghentikan Apophis, Dewa Kekacauan sementara mereka sendiri menjadi buronan Dewan Kehidupan. Di buku kedua ini konfliknya semakin kompleks. Yep, salah satu ciri khas dari cerita om Riordan ini nggak hanya memberikan masalah utama, namun ada masalah-masalah lain yang mengikuti dan berhubungan dengan masalah utamanya. Salah satunya saat Carter di buku pertama demen sama Zia Rasyid yang ternyata adalah shabid atau semacam boneka keramik. Nah di buku ini, Carter dan Sadie harus berpisah jalan, karena Carter mengetahui tempat Zia tertidur dan berniat membangunkannya, karena gadis itu memegang peran penting dalam masalah dewa-dewi Mesir Kuno yang memusingkan ini.

Dan pada trilogi terakhir, The Serpent’s Shadow, karena untuk mengalahkan Apophis mereka perlu membangunkan dewa Matahari, Ra. Namun di akhir buku The Throne of Fire, ternyata Ra sudah jompo dan apa ya istilahnya? Kekanak-kanakkan. Benar-benar seperti bayi kelakuannya dan jelas tidak mungkin bisa mengalahkan Apophis. Sehingga untuk mencegah kekacauan terjadi di muka bumi, diputuskan bahwa Carter dan Sadie harus membunuh Apophis. Dalam petualangan mereka kali ini, menurutku Sadie juga punya masalah sendiri yang harus diselesaikan. Yeah, masalah cowok. Jadi ia sedang terbelah dua antara dewa Anubis, dewa pemakaman dan kematian dengan Walt Stone, salah seorang penyihir sepertinya yang mengidap penyakit keturunan yang juga membunuh raja Tutankhamen, karena Walt ini adalah keturunan jauh si raja Tut. Kebayang kan menyebalkan masalahnya si Sadie? Yang satu dewa berusia lima ribu tahun dan satu lagi cowok yang lagi sekarang. Pilihan macam apa itu? Tapi pada akhirnya… yah, baca sendiri lah.

Oh, no, cursed boy,” I said. “You just watch my back. If the ceiling starts to fall and we need a shield, that’s your job. But you’ll do no magic unless absolutely necessary. I’ll clear the doorway.”

Sadie, I’m not fragile,” he complained. “I don’t need a protector.”

Rubbish,” I said. “That’s macho bluster, and all boys like to be mothered.”

What? God, you’re annoying!”

I smiled sweetly. “You did want to spend time with me.” (Sadie Kane and Walt Stone “The Throne of Fire)

Not the musty old jackal-headed god as he appeared in Egyptian tomb art, but Anubis as I usually saw him―a teenage boy with warm brown eyes, black hair, and a face that was ridiculously, annoyingly gorgeous. I mean, please―being a god, he had an unfair advantage. He could look like anything he wanted. Why did he always have to appear in this form that twisted my insides to pretzels? (Sadie Kane “The Serpent’s Shadow”)

Awalnya aku kurang tertarik dengan seri ini. Buku The Red Pyramid saja satu minggu (atau malah lebih?) baru kelar kubaca. Parah kan ya? Tapi entah kenapa saat aku sedang iseng membaca ulang e-book seri ini, tiba-tiba aku terpesona pada Anubis. Iya, iya, dia dewa. Dewa pemakaman dan kematian yang sayangnya ganteng banget dan jujur aja, dia pake baju tradisional Mesir Kuno aja gantengnya keterlaluan (setidaknya dari penuturan Sadie itu sendiri lho), padahal kan ya ga banyak gitu cowok yang disarankan mengenakan kostum semacam itu, tapi Anubis? He looks awesome, folks! *kemudian menjerit-jerit heboh*

AnubisCakep kan? Cakep kan? Oh please… he’s gorgeous!

Selain Anubis, karakter yang juga kusukai adalah SADIE KANE! Yeah, sulit dipercaya ia adalah anak cewek berusia tiga belas tahun. Karakternya sarkatis, namun dia sosok yang lebih dewasa daripada kakaknya sendiri, dan ia juga sayang dengan kakaknya, meskipun kadang sebal dengan karakter Carter yang cenderung lamban karena kutu buku :b dan jujur aja, sepertinya Carter lebih mirip aku dan aku sudah bilang belum kalau karakter yang terlalu mirip denganku malah bukan favoritku? (Sori, Carter) kidding, not all introvert characters are not my favorite, I mean just look at Anubis. He’s ‘diam-diam menghanyutkan’ :p and I fall for him 

Aku sudah membaca semua ceritanya (ya iyalah, kalau belum, gimana bikin reviewnya?) namun aku tergoda untuk melengkapi serinya dan aku belum punya The Serpent’s Shadow. (aku sudah beli buku ketiganyaaaa~~~*akhirnyaaaa!!!!) dan aku sangat bahagia saat membaca TSS, karena porsi kehadiran Anubis lebih banyak. tentunya!!! Menyenangkan bukan?! Tentu saja!!! Itu karena dia juga menjadi salah satu kunci dalam ‘how-to-save-Walt-Stone-from-the-death’. Penasaran kan gimana??? Ayo bacaaaa~~~

Eniwei, I totally recommended this serial. It’s super awesome dan lumayan lah buat nungguin The Blood of Olympus nanti bulan Oktober.

Dan omong-omong Leo ini lumayan mirip sama Sadie. Bagaimana kalau mereka bertemu ya? Tenang Anubis, Sadie nggak akan naksir sama Leo. She has too much similarity with him. Tapi seru juga ya kalau emang ada cerita Sadie ketemu Leo atau nggak ANUBIS yang ketemu sama Leo!!! Yaaaayyy… I’m so thrilled by thinking about just it!!!

Sampai jumpa pada review berikutnya!!

 

@DEENAmond

Advertisements

2 comments

  1. Kak. Aku mo tanya trilogi the kane ini udah da e-book versi bahasa nggak,? #maklum (lagi kanker). Dan kasih review dong pas dua bersaudara the kane ketemu sma annabeth dan percy. Aq dah da e-book the son of sobek. Tpi pake bahasa inggris. (Dan yang aku pahami cmn beberapa kalimat trus #pause baca lagi #pause) makasih. Di tunggu ya kak 😉

    • Halo! setahuku ebook yang bahasa nggak ada (atau sulit dicari) untuk seri kane chronicles. Review yang kamu maksud mungkin buku The Demigod Files yang ada sisipan Annabeth ketemu sama Sadie dan buku terakhir kane chronicles yang Serpent’s Shadow dimana Percy ketemu sama Carter. Usul ditampung yaa, udah baca lama banget…
      Thanks for visiting 😉

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s