MY REVIEW ABOUT “THE BILLIONAIRE SEDUCTION” BY OLIVIA THORNE

1899840918810117

 

BUKU INI BERISI ADEGAN DEWASA YANG EKSPLISIT. MUST BE +18 (OVER 18)

 

Judul Asli: All That He Wants & All That He Loves

Pengarang: Olivia Thorne

Tebal: 512 hal & 502 hal (Kindle Version)

Diterbitkan pertama kali: November 13th & November 14th 2013

Bahasa: English

Seri: The Billionaire Seduction

Buku ke-: 1

Kepemilikan: E-Book

Web Pengarang: Olivia Thorne

Sinopsis The Billionaire Seduction #1

Lily Ross was having another miserable day at work when tall, dark, and stunningly handsome walked in and swept her off her feet.
Over one passionate weekend, mysterious Connor Brooks leads Lily through a world of sensual delights and showers her with wealth and extravagance beyond her wildest dreams.
But every forbidden fruit comes with a price.
Connor is not the man he claims to be, and dangerous figures from his past are lurking in the shadows, waiting to destroy him– and Lily, too, if she gets in their way.
Because of frank depictions of sexuality and use of profanity, All That He Wants Volume 1 is intended for Mature Audiences only.

Sinopsis The Billionaire Seduction #2

Lily met him after hours at work – a stunningly handsome, charming stranger who swept her off her feet and whisked her away to a world of wealth and privilege. Because of Connor Templeton, Lily has felt pleasures few women ever experience, and seen wonders few are lucky enough to ever know. It has been the most thrilling and sensual week of her life.
All that is about to change.
Enemies from Connor’s past have resurfaced, determined to destroy him – and they are going to use Lily to do it.
Will Connor’s business empire be decimated by an underhanded attack? Will Lily’s life be ruined by their vicious plot?
And most importantly… will Lily and Connor’s love for each other survive the destruction all around them?
Because of frank depictions of sexuality and use of profanity, All That He Loves is intended for Mature Audiences only.

Another romance-erotic story. Yaaa, lagi bulan puasa bacanya beginian… maaf, maaf, kebetulan aja baca di Goodreads tentang novel-novel yang ada cowok billionaire-nya terus nemu ini novel dan karena penasarannya, jadi dibaca juga abis teraweh. Nggak nyangka juga ceritanya bikin nagih (ceritanya, bukan adegan seksinya, tolong ya) sampe-sampe rela baru tidur jam 2 pagi padahal masih sisa 100 halaman kali tuh, tapi dipaksain tidur juga dan bangun buat sahur jam setengah empat.

Dari apa yang aku baca dari novel ini, menurutku ini salah satu novel dewasa yang punya alur cukup menarik, meskipun tetep aja standar. Sinetron. Cewek biasa mendadak ketemu milyuner kaya dan boom! Destiny. Terus si cowoknya semacem plin-plan, ketemu mantan, dan akhirnya? Ya udah ketebak lah kayak apa. Tapi tetep aja, meskipun alurnya payah begitu, tetep aja ya banyak yang baca—termasuk gue sendiri, gue akuin. Mungkin karena nggak kapokan itu makanya akhirnya aku nemu buku ini kali ya.

Jadi dua novel ini merupakan seri dari The Billionaire Seduction. Judul yang cukup menggoda—dan sesuai dengan ceritanya ya. Milyuner tukang goda. Kenapa nggak The Billionaire Flirting ya? Apa karena kesannya jadi murahan banget ya? Billionaire gitu loh. Ah sudahlah, suka-suka pengarangnya aja. Seri ini berisi tujuh novella (novel pendek) yang dibagi dua yang kira-kira sih satu partnya 100 halaman. Pada seri pertamanya, All He Wants, novellanya berjudul All He Wants, All He Desires, All He Demands, dan All He Requires. Kemudian dilanjut pada seri keduanya dengan judul *cek tab* All That He Needs, All That He Denies, dan All That He Loves.

Isi ceritanya dimulai saat Lily Ross bercerita pada pembaca—yup, jadi seakan kita diceritain kisah cinta si Lily yang menawan, menggairahkan, terserahlah apa itu—apa yang dialaminya pada suatu Jumat malam, dimana dia masih bekerja di kantornya sebuah firma konsultan, sementara bosnya mau ngeluyur. Nah tiba-tiba Lily nerima telepon dari resepsionis kalau ada cowok minta ketemu sama Klaus, bosnya. Si Klaus Zimmerman (yang dipanggilnya ‘Herr Klaus’) udah dikasih tau waktu dia ngelewatin mejanya Lily, tapi nggak mau nerima teleponnya, akhirnya si cowok yang minta ketemu itu bicara sama Lily di telepon dan pertama denger suaranya… LILY PINGSAN.

Oke, gue lebai. Jadi si Lily ini langsung terhipnotis sama suara si adam yang lagi bicara sama dia. Dia langsung ngebayangin nih cowok mungkin versi 27 tahunnya Brad Pitt atau Johnny Depp, suara yang lagi didengernya ini semacem suara cowok yang tau apa yang diinginkan seorang wanita (lebai kan? Lebaian gue atau Lily?), atau kalau cowok ini wine, dengan senang hati Lily mau meminumnya semalaman. Atau mungkin malah menuangnya keseluruh tubuhnya—Lily ini penasaran, kayak gimana sih bentuknya si cowok, kalau suaranya yang hot itu aja udah bikin dia orgasme di tempat—ga deng, becanda. Nah si cowok ni mungkin tau ya si Lily penasaran bingitz ama dia, akhirnya si Connor (dari tadi gue manggil dengan orang ketiga mulu, gue lupa kasih tau di telepon cowoknya memperkenalkan namanya Connor Brooks) minta nomor telepon Klaus dari Lily. Lily jelas nggak mau, tapi akhirnya sih mau juga setelah Connor bilang “Lily.” diem bentar. “Please.

Ya, oke, skip skip jadi akhirnya Lily sama Connor kenalan terus mereka making out di ruang rapat. Diem. Yep, semacam one night stand tapi nggak jadi euy, karena si Connor ini ternyata nagih sama Lily dan diajaklah Lily ke penthouse-nya di The Dubai untuk menghabiskan akhir pekan bersama.

Itu inti cerita di bagian pertamanya ya. Males juga gue ceritain satu per satu bagian. Yang pasti adalah dari kebersamaan mereka di akhir pekan itu akhirnya Lily mulai ada rasa sama si Connor yang nggak disangkanya adalah anak konglomerat terkaya (ya iyalah konglomerat ya kaya!!) di Amerika Serikat. Lily nggak ngeh kalau Connor ini anak orang kaya, soalnya Connor nggak pake nama belakang aslinya. And by the way, floks, meskipun dasarnya si Connor ini holang kaya, ternyata dia bukan cowok arogan yang pake duit bokapnya semena-mena. Nope, dia ini punya masa lalu kurang menyenangkan sama orangtuanya, terutama bokapnya dimana akhirnya dia menantang bokapnya kalau dia ga mau kuliah dan dikasih duit 10 juta dolar buat ngebuktiin kalo dia bisa sukses. Duitnya ini harus dibalikin lagi beserta bunganya—ya, ya, ini mah anak ekonomi yang ngerti—gue taunya bunga bangkai—kemudian Connor melakukan hal yang nggak disangka orangtuanya (dan Lily waktu diceritain) dan akhirnya dia membangun empire-nya sendiri dan putus hubungan dengan orangtuanya. Menurut Connor.

Tapi ternyata orangtua Connor ini masih nongol di buku kedua, barengan sama mantan tunangannya Connor. Mereka melakukan hal yang membuat hubungan Connor-Lily jadi terganggu. Yah, hubungan mereka dari awal juga udah aneh sih sebenernya :p

Setelah membaca sampai selesai seri ini, aku berpikir oh I LOVE Connor! Yep, dia kaya, tapi paling penting dalam buku ini adalah dia cerdas! Tentunya pada pernah baca novel dimana tokoh cowoknya udah kaya, pinter, baik, bla bla bla semua yang baik jatoh ke tokoh cowok, sementara yang clumsy, dodol, bodoh, dan semacemnya jatohnya ke tokoh ceweknya dan begonya si cowok masih demen aja sama ceweknya. Di buku ini dibuktikan kecerdasan si Connor ini dari cara bicaranya. Yah, berhubung ini buku pake sudut pandangnya Lily, jadi ga tau deh pikiran si Connor ini kayak gimana, gue belum baca All She Wants yang isinya dari POV Connor. Si mas ganteng ini juga humoris, easy-going, dia juga menyayangi bodyguard, Johnny Shuto (tapi nama keluarga aslinya Inaba), dan wakil presiden bagian Operasional, Sebastian. Sayangnya sih dia plin-plan, meskipun bisa dingertiin plinplannya karena dia trauma cewek yang pernah jadi tunangannya ternyata adalah psikopat dan delapan bulan setelahnya dia jatuh cinta lagi sama cewek, padahal sebelumnya dia nggak pernah percaya lagi sama cewek. See? Rich man always have an issues. Orang kaya banyak masalahnya dan biasanya kalau nggak sama ortunya pasti sama ceweknya. Connor punya keduanya.

Karakter lainnya yang aku suka juga adalah Sebastian! He’s adorable! Kalau bukan karena fakta dia lebih cinta sama Javier, mungkin gue lebih pengin sama Sebastian aja. Dia kocak, punya otak dipake—sorry, Connor, not you, mind you—dan ceria. Yup, cerianya berlebihan dan dia setia kawan. Dia rela melindungi Connor dan rela melakukan apa saja untuk membuat Connor selamat, meskipun harus mencurigai Lily sebagai taruhannya. Johnny, sebagai bodyguard Connor juga merupakan karakter yang cukup menonjol dan loveable. Nggak cuma setia kawan, dia juga loyal pada Connor, dan peduli pada Lily. Mereka inilah yang membuat keinginan Connor dapat tercapai dan terus bersamanya hingga akhir (lebai lagi).

Seri ini diakhiri dengan biasa. Khas cinderella story. Connor akhirnya menyadari kalau dia benar-benar cinta sama Lily dan dia mengatakan ‘I love you‘ dengan sepenuh hati. Dipikir-pikir selain kawin, cowok amrik ini pada takut ngomong I love you ya rata-rata. Cowok di novel maksud gue, gue kan belum pernah gaul sama cowok amrik asli :p pantesan aja mereka pengennya hubungan no string attachment. HTS. Temen tidur doang. Ckckckck…

Eniwei, selain adegan olahraga tempat tidurnya yang lumayan hot—namun jujur aja, setelah baca part empat, adegan olahraga bukan yang gue cari, melainkan konfliknya. Sejak part empat, masa lalu Connor mulai disingkap dan konfliknya mulai intens. Aku nggak sabar tiap membaca halamannya, bagaimana kelanjutannya? Tapi sayangnya, eksekusi endingnya kurang greget. Padahal ya konfliknya udah dibangun sedemikian rupa, dimana gue sebagai pembaca jadi berdebar-debar harap-harap cemas dengan kelanjutannya dan dikasih ending konflik yang… kentang!!! Ya, kentang parah! Gue pengen pembunuhnya ketauan! Gue pengen Miranda mati! Atau paling nggak dipenjara! Dan lebih lagi gue pengen nyokapnya si Connor ditendang sampe Antartika sama Lily!

Ah, udah lama gue ga baca novel romance kayak gini. Romance dengan sensasi yang uh~ mendebarkan. Meskipun tetep aja novel ini kalah dari seri In Death dan Connor sendiri masih kalah dari Roarke (Team Roarke forever!) sebagai selingan sambil nungguin seri In Death yang baru, seri ini lumayan menjanjikan.

Penasaran? Pastikan dirimu sudah dewasa, nggak cuma diatas 18 tahun!

 

@DEENAmond

Advertisements

One thought on “MY REVIEW ABOUT “THE BILLIONAIRE SEDUCTION” BY OLIVIA THORNE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s