MY REVIEW ABOUT TERE LIYE – BULAN

Judul Asli: Bulan

Pengarang:Tere Liye

Tebal: 400 hal.

Diterbitkan pertama kali: Maret 2015

Bahasa: Indonesia

Seri: Bumi

Buku ke-: 2

Kepemilikan: Punya Sendiri

Namanya Seli, usianya 15 tahun, kelas sepuluh. Dia sama seperti remaja yang lain. Menyukai hal yang sama, mendengarkan lagu-lagu yang sama, pergi ke gerai fast food, menonton serial drama, film, dan hal-hal yang disukai remaja.

Tetapi ada sebuah rahasia kecil Seli yang tidak pernah diketahui siapa pun. Sesuatu yang dia simpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan dengan tangannya.

Namanya Seli. Dan tangannya bisa mengeluarkan petir.

Seri kedua Bumi, karangan Tere Liye akhirnya hadir! Yes! Harus aku akui, aku bersemangat sekali begitu mendengar kabar ini di Twitter. Tanpa pikir panjang, begitu ke mall di Bekasi, aku langsung menuju Gramedia dan meminta kakakku untuk membelinya. Kenapa? Sayangnya meski aku sangat ingin membelinya dengan uangku sendiri, bulan ini aku lagi kere dan… well, jangan buat kantongku lebih menderita lagi.

Nah, masih ingat dong seperti apa sih cerita di buku sebelumnya. Karena ini adalah buku kedua, jadi sudah pasti ini adalah lanjutan dari buku sebelumnya yang berjudul Bumi. Tidak seperti biasanya, kali ini Tere Liye membuat serial novel fantasi. Biasanya kan bang Tere seringnya bikin buku sarat makna yang nggak jauh dari cinta dan keluarga. Aku adalah salah satu penggemar karyanya dan salah satu favoritku adalah Bidadari-Bidadari Surga. Tapi kali ini yang akan kita bahas adalah serial Bumi ini. Sebuah novel fantasi dimana pemeran utamanya adalah Raib, seorang gadis yang sekarang sudah kelas 1 SMA menjelajahi salah satu dunia paralel bernama Klan Matahari (sebelumnya mereka berpetualang di Klan Bulan) untuk mencari sekutu.

Enam bulan setelah kejadian di buku Bumi, para pemeran utama buku ini; Raib, Seli, dan Ali kembali ke sekolah. Namun mereka cemas karena Miss Selena, guru matematika mereka, masih belum kembali dari perjalanannya di Klan Bulan. Ali, si jenius, kembali membuat masalah di kelas dengan mengatakan bahwa Seli bisa mengeluarkan petir. Tidak ada yang mempercayai ucapannya, tentu saja. Namun tetap saja, hal ini membuat Raib cemas. Pasalnya Miss Selena sudah mengingatkan mereka untuk bersikap seperti manusia bumi normal. Yah, pada dasarnya meski Raib adalah orang Klan Bulan dan Seli orang Klan Matahari (dan Ali hanya makhluk rendah Klan Bumi), mereka lahir, hidup, dan tinggalnya di bumi. Jadi tentu saja bukan perkara sulit untuk kembali bersikap seperti orang bumi. Kemudian akhirnya Miss Selena datang dan mengajak mereka untuk ikut ke Klan Matahari, untuk kembali mendapatkan kepercayaan yang sempat terputus dua ribu tahun lamanya. Namun begitu mereka sampai di dunia tersebut, Ketua Konsil Klan Matahari mengusulkan agar mereka bertiga, bersama dengan Ily, anak Av yang sebelumnya sempat muncul di buku Bumi, yang ganteng itu *oke, salah fokus* ikut sebuah pertandingan memetik bunga matahari pertama, bersama dengan kontingen tangguh di klan tersebut. Setiap kontingen yang mengendarai bermacam-macam binatang harus menemukan petunjuk yang akan mengarahkan mereka menuju lokasi keberadaan bunga matahari tersebut,

Konflik utama di buku ini, tentu saja adalah bagaimana cara Raib, sebagai kapten kontingen harimau putih, berusaha untuk melakukan pertandingan tersebut dengan baik dan kalau bisa tetap hidup hingga pertandingan selesai. Sebenarnya sudah ada peraturan untuk tidak menyerang anggota kontingen lainnya, namun salah satu kontingen melanggarnya. Nah, bagaimana Raib menghadapi pertandingan tersebut dan bagaimana ia dapat menemukan bunga matahari tersebut.

Saat membaca adegan demi adegan dimana Raib dan kawan-kawannya diputuskan untuk ikut bertanding, mau tidak mau, aku terbayang film The Hunger Games dalam versi lebih lembut. Dalam pertandingan di buku ini, mereka memang bertanding untuk menemukan bunga matahari pertama, namun mereka tidak diizinkan menyerang anggota lainnya. Pertandingan diusahakan sebersih mungkin—meski memang, tidak menutup fakta bahwa ada kontingen licik yang ingin memenangkan pertandingan supaya fraksinya mendapatkan kejayaan.  Selain itu aku juga membayangkan adegan The Hobbit, dimana Ali menebak teka teki dari nelayan, supaya mereka bisa menyeberang sungai. Salah satu teka teki si nelayan adalah apa yang ada di kotak yang dimilikinya. Sounds familiar? Halo, Bilbo dan Gollum.

Selebihnya, aku terkesan. Khas Tere Liye, nilai-nilai kehidupan digambarkan di buku ini, seperti bagaimana pendapat para rakyat Klan Matahari mengenai kemajuan teknologi yang ada di Kota Ilious. Meski pun kota Ilious maju, namun ada hal yang hilang dari kemajuan di klan tersebut. Ingat sesuatu? Cough, Jakarta dan sekitarnya, cough. Walau aku juga bilang pas lagi di pertandingan terbayangnya film The Hunger Games, namun bang Tere memberikan semacem warna, warna lebih indah, lebih… berbeda dengan film tersebut.

Kita disuguhi adegan kekerasan di film The Hunger Games. To be the winner, kill the others. Di sini udah dikasih aturan, no harm against another participant. Apalagi Raib dan kawan-kawan sama sekali nggak punya ide, kayak gimana sih wilayah Klan Matahari itu. Kenyataannya, aku membayangkan Klan Matahari punya tempat beraneka ragam. Kalau dibayangkan, mungkin seperti kita mengelilingi 12 distrik yang ada di film The Hunger Games. Hutan belantara dengan burung pemakan bangkai, gorila besar, air terjun mewah, dan aneka sabana dan stepa lainnya.

Selain itu beberapa penjelasan sederhana tentang biologi dan fisika dijelaskan dengan sederhana oleh si jenius Ali. Oh ya, di buku ini aku merasa sedikit terganggu dengan sikap sentimental (atau sarkatis?) Ali. Berulang kali dia menyebutkan fakta dirinya makhluk rendah Klan Bumi. Iya sih, memang benar dari penjelasan di buku sebelumnya, teknologi yang dimiliki Klan Bumi jauh tertinggal dibanding dunia paralel lainnya. Namun haruskah dia berkata sesarkatis itu setiap kali menyindir Seli atau Raib? Sungguh, rasanya pengin kutendang saja si Ali ini sambil kuteriaki “Annoying!

Raib sebagai tokoh utama kembali tampil sebagai anak yang luar biasa baiknya. She’s definitely too good to be truebukannya aku tidak percaya dengan kepolosan anak-anak, hanya saja gambaran karakter Raib yang sangat baik ini kurang terasa nyata. Mungkin akan lebih baik kalau Raib, entahlah, punya rasa iri atau labil yang wajar dimiliki remaja tanggung. Bahkan aku lebih suka gambaran Seli yang lebih terasa ‘gue banget’ dimana dia nggak tahan liat cowok ganteng. Cough, Ali, cough di buku pertama contohnya, hanya karena rambut acak-acakan Ali mirip dengan gaya rambut aktor drama Korea yang hobi ditontonnya. Juga Seli digambarkan ada demen sama Ily, meski aku merasa demennya ini lebih ke cinta monyet, karena di bab-bab selanjutnya nggak diceritakan kalau Seli masih demen sama Ily.

Oh, Ily, kenapa riwayatmu seperti itu?! 

Aku benci mengatakannya, namun cara bang Tere mengeksekusi akhir buku ini terlalu menyebalkan—I cannot find any other word to express my feeling—kenapa? Kenapa harus ada tokoh yang meninggal?! Kenapa tidak nanti saja, atau kalau pun ada yang meninggal, kenapa harus dia? Tidakkah dia juga memegang, entahlah, apapun peran yang akan ada di buku berikutnya?

Omong-omong, ada yang tahu pelanduk itu apa? Sepertinya sejenis hewan ya. Aku harus lebih sering membuka kamus bahasa Indonesia sekarang. Ada banyak kata-kata yang asing—atau mungkin karena aku kurang banyak membacanya. Blame it to skripsi, please.

Buku berikutnya berjudul Matahari dan akan terbit tahun depan. Aku tidak sabar menunggu. Prediksiku, yang berikutnya akan mengambil latar di Klan Bintang. Petualangan macam apa yang akan menanti Raib, Seli, dan Ali? Apakah Si Tanpa Mahkota akan bebas di buku berikutnya dan kemudian di buku terakhir akan terjadi pertempuran besar di Klan Bumi? Aku tidak sabar menunggu kelanjutan bukunya.

@DEENAmond

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s