MY REVIEW ABOUT RICK RIORDAN – PERCY JACKSON’S GREEK GODS

Judul Asli: Percy Jackson’s Greek Gods

Pengarang: Rick Riordan

Ilustrator: John Rocco

Tebal: 336 hal (Kindle Ver.).

Diterbitkan pertama kali: August 19th 2014 by Disney Hyperion (first published January 1st 2014)

Bahasa: Inggris

Seri: Percy Jackson and the Olympians Companion Book

Kepemilikan: E-Book (EPUB)

Web Goodreads

SINOPSIS

A publisher in New York asked me to write down what I know about the Greek gods, and I was like, Can we do this anonymously? Because I don’t need the Olympians mad at me again. But if it helps you to know your Greek gods, and survive an encounter with them if they ever show up in your face, then I guess writing all this down will be my good deed for the week.

So begins Percy Jackson’s Greek Gods, in which the son of Poseidon adds his own magic–and sarcastic asides–to the classics. He explains how the world was created, then gives readers his personal take on a who’s who of ancients, from Apollo to Zeus. Percy does not hold back. “If you like horror shows, blood baths, lying, stealing, backstabbing, and cannibalism, then read on, because it definitely was a Golden Age for all that.”

Do you ever have a feeling, after reading a book then your old madness back to life again? Belum pernah? Ok, well, gue pernah. Paling nggak itu yang gue alamin waktu baca bukunya om Riordan yang terbaru dengan judul Percy Jackson’s Greek Gods.

Jadi ceritanya, kali ini gue lagi dilanda kebosanan di rumah dosen gue. Gue udah bikin RPP dan gue males makan (nggak tau sih apa hubungannya) dan berhubung rumah dosen gue deket sama Mall of Indonesia dan sepulang ngajar di SD, gue dapet tiket nonton di Blitz, akhirnya gue ke MOI deh buat ngambil vouchernya (dan sangat cepat ngambil vouchernya ya guys—lain kali aja ceritanya). Terus karena nggak tau mau nonton apa di Blitz, karena nggak ada film yang bikin gue tertarik. Cinderella? Meh. Meski gue tergoda sama Frozen Fever, tapi ya ngapain gitu nonton lagi dongeng yang udah ketebak endingnya begimana. Mending gue donlot nanti.

Kemudian pas gue turun, pas banget ada Gramedia—dan gue nggak pernah tau ada Gramedia di MOI. Don’t judge me. I have never going to this place before, so I had no fucking idea what things are on the place. Gue berjalan-jalan sambil ngeliat-liat (doang) buku yang ada di sana. Damn, ada banyak banget bukunya dan gue pengen nangis saking kepengen belinya tapi nggak punya duit. Oke, kemudian gue ke bagian buku asing yang belum diterjemahin dan, tadaaa, ada buku ini dan sudah dilepas plastiknya. Jadi boleh dong numpang baca berapa halaman gitu.

Kemudian gue dalam masalah besar.

Karena gue nggak bisa berhenti ketawa saat membaca setiap kalimatnya.

“Kronos became the Titan of time. He couldn’t pop around the time stream like Doctor Who or anything, but he could occasionally make time slow down or speed up. Whenever you’re in an incredibly boring lecture that seems to take forever, blame Kronos. Or when your weekend is way too short, that’s Kronos’s fault, too.”

Let me get this straight. Gue tau om Riordan bikin buku lagi selepas Heroes of Olympus kelar dan gue tau inilah judul lagu bukunya. Waktu pertama liat bukunya di Books and Beyond-nya perpus UI, gue jiper men. Itu hardcover dan harganya bikin gue mau nangis. Tapi gue suka liat ilustrasi covernya. Hanya saja saat itu gue nggak baca bukunya, karena itu, bukunya masih diplastikin. Gue nggak mau melepas keperawanan buku (?) kecuali kalo emang udah dilepasin dari toko bukunya. Tapi asumsi gue waktu itu, buku ini semacem buku bergambar, bukan novel.

And I definitely wrong, folks.

Percy Jackson’s Greek Gods adalah buku yang menceritakan tentang semua dewa Yunani. Well, nggak semuanya sih. Hanya beberapa, seperti Zeus (jelas) dan 11 dewa Olympia lainnya. Kemudian permulaan kemunculan Chaos dan Gaea dan suaminya Gaea, lalu Kronos, begitulah. Nggak mungkin semua dewa diceritain ya guys, kebanyakan. Tau sendiri dewa-dewi Yunani aslinya banyak banget—nanti akan gue ceritain kenapa.

Nah, buku ini dimulai dari ketika Percy diminta untuk kembali menceritakan kisah dewa Yunani. Padahal, hei, petualangannya yang seru kan sudah berakhir! Cerita apa lagi? Oh, rupanya dia disuruh menuliskan apa aja sih kisah lain yang dia ketahui tentang dewa-dewi Yunani dan awalnya Percy pengen, oh, bisa nggak gue nulis ini secara anonim saja? Gue nggak mau bikin para dewa dan dewi itu marah lagi sama gue. Sayangnya, nggak.

Tanpa banyak celoteh, cerita dimulai tentang permulaan dan semacamnya. Tau kan? Permulaan dunia yang mana dari kekosongan mendadak muncul dewa pertama bernama Chaos—kekacauan (ingat sesuatu? Mitologi Mesir, halo!) dan karena bosen sendirian, muncullah Gaea, ibu pertiwi (jangan tanya gimana, nggak ada yang tahu juga). Meski nggak masuk akal (hell, mitologi mana ada yang masuk akal?!) Chaos dan Gaea bisa mengambil wujud manusia (padahal manusia belum ada saat itu, tapi mari ikuti saja ceritanya). Terus karena Gaea bosen sendiri, terjadilah. Terbentuk langit yang menamakan dirinya Ouranos dan kemudian bumi dan langit menikah (aneh? Langit dan bumi menikah? Tolong jangan rolling your eyes. Ceritanya malah akan semakin aneh saja loh). Nah, si Chaos ini kemudian semacem excited. Ternyata dia bisa bikin bumi dan langit! Dia bisa bikin apa lagi ya dan puf! muncullah Pontus dan Tartarus dan beberapa dewa minor lainnya yang kalo disebutin namanya satu-per-satu nggak akan kelar ini review. Pokoknya para dewa dan dewi ini nantinya punya banyak anak. Hanya saja, kita fokus ke Gaea dan Ouranos, yang nantinya akan melahirkan para Titan, Cyclops, dan tangan seratus. Setiap kali lahir anak, ternyata makin aneh aja turunannya dan Ouranos nggak mau mengakui kalau itu anaknya. Jadi para Cyclops dan si tangan seratus ini dibuang ke Tartarus dan membuat Gaea marah besar.

What a father…

Gaea yang sedih dan geram sama suaminya, membuat sebuah sabit akhirnya menyuruh Titan, anak-anaknya, untuk membunuh ayahnya dengan janji bakal jadi raja semesta dan semacamnya itu dan hadiah kue kukis!

Ibu yang penuh kasih ya? Pokoknya nanti tahu lah, ada si bungsu Titan yang namanya terkenal sekali di Percy Jackson and the Olympians sebagai villain big boss yang visualnya terlihat menggelikan kalau di film. Kronos. Nantinya Kronos me… me-apa ya—pokoknya Ouranos dibacok dengan sabit dan dia pun melebur. Tapi kita masih bisa lihat langit? Berarti Ouranos hidup atau mati? Baca aja sana. Nantinya, Ouranos ini mengutuk Kronos bakal dibunuh juga sama anaknya dan, seperti kita tahu, untuk menghentikan hal tersebut terjadi, dia pun menelan anak-anaknya.

Jijik? Jelas. Tapi cerita berlanjut semakin menyenangkan saja, karena buku ini dibuat sedemikian rupa seakan kita lagi didongengin sama Percy (yeah, yeah, all the girls are swooning. Mau dong didongengin sama Percy~ kemudian Annabeth muncul dan—well, Annabeth nggak muncul untuk membantai semua cewek-cewek) dan gue seneng banget karena Percy yang witty, sarkatis, dan lucu menyenangkan membahana itu kembali lagi. Gue udah pernah bilang belum kalau gue kecewa sama deskripsi Percy di Heroes of Olympus? Sangat dewasa dan karena serial itu dibuat bukan dengan orang pertama, jadi nggak kegambar dengan jelas pikiran Percy kayak gimana. Oke, mungkin karena awalnya Percy dibikin amnesia sama Hera, tapi tetap saja!!! Kan gue penasaran gitu loh, Percy masih kayak waktu di serial pertamanya atau nggak, tapi menurut gue, Percy di Heroes of Olympus beda banget sama Percy di Percy Jackson and the Olympians.

“As for Ares’s other sacred grove, the one in Colchis, things were run a little differently over there. The king was a guy named Aeetes. (As far as I can figure, that’s pronounced “I Eat Tees.”) His big claim to fame was that the Golden Fleece – that magical sheepskin rug I’m related to – ended up in his kingdom, which made the place immune to disease, invasion, stock market crashes, visits from Justin Bieber, and pretty much any other natural disaster.”

Membaca buku ini membuat gue berpikir, gila ya, bahkan di jaman Yunani Kuno, cerita-cerita sadis udah bertebaran di dalam kisah dewa mereka. Pembunuhan antar keluarga, pengkhianatan, perselingkuhan (damn those gods and goddesses!), dan kanibalisme. Ya kan? Gue dulu juga pernah punya buku cerita tentang dewa-dewi Yunani yang ukuran bukunya sebesar buku cerita Tintin. Tapi gue lupa di mana itu buku cerita sekarang. Yang paling gue inget adalah waktu Zeus merobek pahanya (yup, pahanya DIROBEK, guys) untuk menyelamatkan jabang bayi Dionysus. Saat itu gue bingung setengah mati dan gue masih apa sih, SD apa SMP deh (dan bacaan gue yang begituan? Untung gue nggak tumbuh sebagai psycho). Tapi, thanks to Percy, kisah-kisah itu diceritakan dengan gaya bahasa yang menyenangkan dan yah, bisa lah buat jadi dongeng sebelum tidur—malah mungkin kita bukan fokus sama kisah kekejaman yang ada di dalam ceritanya, malah fokus dan ngakak sama gaya bercerita Percy yang… begitulah, lo kalo udah baca bukunya om Riordan pasti tahu cara dongengnya seperti apa.

One day, Zeus got persistent. He had just divorced Themis and hadn’t remarried yet. He was lonely. For whatever reason, he fixated on Demeter and decided he absolutely had to get with her.
He found her in a field of wheat (no surprise). Demeter yelled at him to go away, but he just kept following her around.
“Come on!” he said. “Just one kiss. Then maybe another kiss. Then maybe—”
“No!” she shouted. “You’re so annoying!”
“I’m the king of the universe,” Zeus said. “If we got together, you’d be the queen!”
“Not interested.” Demeter was tempted to draw her golden sword, but Zeus was the most powerful god, and people who opposed him got into a lot of trouble. (Cough, like Prometheus, cough.) Also, her golden chariot was parked way at the other end of the field, so she couldn’t just hop in and flee.
Zeus kept pestering her. “Our kids would be powerful and amazing.”
“Go away.”
“Hey, baby. Don’t be like that.”
Finally Demeter got so disgusted, she transformed herself into a serpent. She figured she could lose Zeus by hiding in the fields and slithering away.
Bad idea.
Zeus could transform into an animal too. He changed into a snake and followed her. That was easy, since snakes have a great sense of smell; and like I said earlier, Demeter had a very distinctive rainstorm-over-jasmine scent.
Demeter slithered into a hole in the dirt. Another pretty terrible idea.
Zeus slithered in after her. The tunnel was narrow, so once Zeus blocked the entrance, Demeter couldn’t get out. She didn’t have room to change form.
Zeus trapped her and wouldn’t let her go until…Well, use your imagination

Terus, terus, kalau baca buku ini, kita jadi mikir, ternyata dewa-dewi itu nggak ada bedanya sama kita manusia. Gimana nggak? Dewa dan dewi bisa marah—hanya saja mereka nggak cuma dendam dan balas dendam menggelikan seperti di sinetron. Since they had such a superpower, jadi bisa aja mereka mengutuk manusia yang menghina mereka dengan menjadikan mereka binatang atau kalau amat nyebelin dibikin mati mengenaskan. Atau lebih parah lagi, begitu udah masuk Underworld, mereka menghadapi siksa akhirat tanpa akhir. Agak ngeselin ya cara balas dendamnya. Semacem nggak adil sama manusia. Tapi hei, mereka dewa, manusia bisa apa? Kita cuman butiran cakwe di atas penggorengan.

Gaya berbicara para dewa ini juga sangat modern loh, folks. Coba aja baca dan lo akan ngakak setiap baca percakapan para dewa satu sama yang lain—dan sama manusia, begitu mereka tercipta. Jadi lo nggak cuman ngakak sama witty comment-nya Percy doang. Terus para dewa ini juga semacem brengsek juga ya. Gue nunjuk ke Zeus yang player-nya kebangetan. Udah tau kan kalau keturunan Zeus banyak banget dan hasilnya nggak cuman demigod, folks. Macem-macem. Kan dia flirting nggak cuman sama sodara perempuan dia (mari kita teriak sama-sama: JIJIK!). Kalo lo menganggap pacar lo yang serong sama sahabat lo itu udah jijik, coba lo denger cerita Zeus. Mungkin dialah casanova pertama yang ada di dunia. Dewi, manusia, saudara perempuannya, dan banyak lagi, silakan baca sendiri. Tapi egoisnya, dia nggak terima kalau cewek yang lagi dideketinnya itu digoda sama cowok lain dan bam! cowok tersebut pun disambar petir. Tragis yak.

“Hey, girl,” he said, wiggling his eyebrows. “You must be the riptide, ’cause you sweep me off my feet.”
He’d been practicing that pickup line for years. He was glad he finally got to use it. Demeter was not impressed. “Go away, Poseidon.”
“Sometimes the sea goes away,” Poseidon agreed, “but it always comes back. What do you say you and me have a romantic dinner at my undersea palace?”

Kemudian kalau lo ngerasa takut sama stalker (bukan berarti gue seneng di-stalking. Hanya contoh), coba deh denger kisah cinta Hades sama Persephone. Karena Hades pemalu, maka dia pun men-stalking Persephone dan berakhir, dengan izin dan saran dari Zeus, dengan menculik Persephone ke Underworld.

Damn, Zeus, seriously? Babeh macam apa sih lo, udah ga ngerti lagi gue sama hidupnya dia.

Tapi nggak semua dewa itu brengsek. Masih ada Hephaestus yang setia meskipun istrinya, Aphrodite, selingkuh sama dewa perang Ares. Tapi namanya aja cowok ya, mana mau sih tenang aja diselingkuhin dan lo bisa ambil referensi aksi balas dendam yang manis karya Hephaestus untuk istrinya dan juga ibunya, Hera, yang udah membuang dia dari gunung Olympus.

Meskipun ada dewi super cantik kayak Aphrodite yang punya sifat buruk—cheating bukan cuman keahlian cowok. Jadi lo ga bisa nyalahin masalah gender—rata-rata makhluk berjenis kelamin perempuan di mitologi ini kisahnya menyebalkan. Entah kenapa, kalau dikejar-kejar sama cowok ya endingnya pasti menikah, atau kalau nggak, berubah jadi tanaman. Ada juga yang beruntung kayak Hestia, karena dia baik hati dan rajin menabung maka semua dewa melindungi dia, terus juga Artemis dan Athena karena mereka cerdik dan mereka dewi, jadi mereka bisa stay single and virgin forever. Tapi sisanya, kayak Hera, Demeter, Persephone, para manusia cewek yang malang, duyung, dan lain sebagainya yang berjenis kelamin cewek? Mengesalkan. Salah satunya Hera. Dia tau sih Zeus brengsek dan nggak minat nikah sama dia. Tapi Zeus keras kepala dan terus ngejar Hera—gue nggak ngerti hormon si Zeus, bahkan lebih parah dari kelinci!—hingga Hera bersumpah, kalau Zeus bisa bikin dirinya ngomong I love you, barulah dirinya mau menikah sama Zeus. Nah, jadi deh Zeus berubah jadi burung kecil mungil unyu-munyu dihadapan Hera dan Hera keceplosan ngomong I love you ke burung tersebut dan kaboom! berubahlah burung itu jadi si brengsek Zeus. Lumayan lucu sih ceritanya, tapi ya nyebelin kan diperdaya buat kawin. Mana waktu mau nikah juga Hera udah minta Zeus buat janji nggak akan main serong, tapi kenyataannya? Meh.

Selain itu, di dalam cerita, entah kenapa cewek-cewek ini sangat subur. Do not you dare rooling your eyes. You know what I meant! Nggak paham gimana ceritanya, pokoknya digoda, dirayu, dan dicium terus puf! mereka hamil. Yang lebih gue nggak ngerti sih istrinya Kronos, Rhea, yang udah anaknya dimakan Kronos berkali-kali, tapi dia masih hamil terus sampai Zeus. Tapi ya, dia kan Titan, jadi tahu apa gue soal organ reproduksi Titan? Mungkin karakter dari Attack on the Titans bisa bantu gue?

Omong-omong, nama-nama Yunani itu lumayan susah dibaca ya? Sampe Percy ngasal buat membaca beberapa nama Titan dan dewa Yunani. Contohnya Mnemosyne dibaca Percy jadi NEMO-sign. Pangeran manusia namanya Iasion dan dibaca Percy dengan EYE-son (really, Percy?!),

Pernah membayangkan nggak enaknya hamil dan sakitnya melahirkan? Coba tanya sama para ibu dewi. Mereka lebih berpengalaman. Leto, ibu Artemis dan Apollo, karena hamil anak Zeus, nggak diizinkan melahirkan di bagian bumi manapun dan menderita selama nyari tempat buat lesehan dan lahirin anaknya. Zeus kemana? Tau deh, lagi ngegodain peri pohon kalik. Terus anak-anak dewa ini pinternya luar biasa, guys, baru berapa hari brojol udah bisa ngomong dengan kalimat lengkap! Kalo anak manusia, pasti udah pada takjub dan langsung masuk TV. Mereka juga udah bisa jalan, nyolong sapi, bahkan lebih super dari Renesmee-nya Twilight. Ok, bad comparison, but anyway, you got the idea. Gue penasaran, itu jabang bayi dewa pada dikasih makan apa sampe cerdas begitu—oh ya, ambrosia dan nektar, gue lupa makanan dewa. Lo kalau mau lamar kerja jadi guru anak-anak dewa mungkin mesti memikirkan kurikulum yang tepat buat mereka. Baru beberapa hari udah kayak anak umur lima tahun dan kemudian berhenti tumbuh di usia 21 tahun. Oke, mungkin mereka nggak butuh guru.

Belum pusing? Oke, coba yang satu ini. Di dalam kisah Artemis, dibilang kalau Apollo di dalam kandungan ibunya nggak bisa diem.

Ok, freak out yet? Yes. They even speaking in the womb of their mother! Gue udah freaking out dan bersyukur bukan ibu dewa-dewi—dan lo pada juga mesti bersyukur lo bukan dewi. Gue kepikiran itu perut ibunya gimana coba? Mungkin nggak gimana-gimana. Tapi tetep aja aneh, diceritain kalau di dalam perut ibunya udah bisa ngomong. Damn. Nggak usah dijelaskan. Nggak mau denger.

Kepanjangan ya review gue. Oke, satu lagi. Soal latar. Latar waktu. Jadi waktu cerita Hermes (atau Apollo?) diceritakan kalau Hermes (yep, ternyata Hermes) nyanyi lagu One Direction pake kecapi yang nantinya saking indahnya melodi yang dikeluarkan kecapi tersebut, Apollo terpesona dan kepengin punya kecapi tersebut. Terus lo akan bertanya-tanya, hla, emang si Hermes ini hidupnya di abad berapa? 21 kayak kita? Tolong ya, nggak usah dipikirkan. Mungkin saja Hermes ada bakat meramal, dia udah tau soal lagu One Direction jauh sebelum One Direction pernah dipikirkan untuk dilahirkan.

Jadi, apa gue menikmati buku ini?

Jelas lah. Liat dong review gue yang udah lebih dari 2,000 kata. Gue baru baca buku ini berapa lembar sih, paling dua atau tiga lembar di awal perkenalan dan gue udah ngakak dan gue harus baca bukunya—kalau punya bukunya… well, gue jelas tergoda mau punya yang bahasa Inggris itu, tapi gue kayaknya bakal nunggu terjemahan buku ini—meski udah baca yang bahasa Inggrisnya, tapi hei, selama ini gue puas sama terjemahan bukunya om Riordan dari Mizan Fantasi. Lagian gue penasaran, gimana ya ceritanya kalau udah diterjemahin. PR banget buat penerjemah sama editornya bikin hasil terjemahannya sama bagus dengan bahasa Inggrisnya.

@DEENAmond

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s