MY REVIEW ABOUT INTO THE WOODS [2014]

MOVIE INFO

Director: Rob Marshall

Writer: James Lapine (screenplay), James Lapine(musical), 1 more credit »

Rating: PG

Runtime: 125 min

Genre: Adventure, Fantasy, Musical

Playing at:  25 December 2014 (USA)

CASTS

Anna Kendrick Anna Kendrick
Daniel Huttlestone Daniel Huttlestone
James Corden James Corden
Emily Blunt Emily Blunt
Christine Baranski Christine Baranski
Tammy Blanchard Tammy Blanchard
Lucy Punch Lucy Punch
Tracey Ullman Tracey Ullman
Lilla Crawford Lilla Crawford
Meryl Streep Meryl Streep
Simon Russell Beale Simon Russell Beale
Baker’s Father
Joanna Riding Joanna Riding
Johnny Depp Johnny Depp
Billy Magnussen Billy Magnussen
Mackenzie Mauzy Mackenzie Mauzy

Into The Woods adalah sebuah film musikal yang tayang pada tahun lalu. Tepatnya pada hari natal. Aku menunggu-nunggu kehadiran film ini karena, ehem, Chris Pine. Iyaa~ gue ngaku dah, masih terpesona sama om satu ini dan masih belum bisa move-on dari karakternya sebagai James Kirk di film Star Trek. Tapi ya, film ini mah beda dari Star Trek. It’s a musical, babe.

Jadi, film ini merupakan gabungan dari beberapa dongeng; such as The Red Riding Hood, Cinderella (and here I am, wondering, why Ella hair is brown, unlike another movie or, I don’t know, a storybood I had), The Baker and His Wife, Rapunzel, and Jack and the Bean. Sudah semua kan? Nah, meski ada banyak kisah yang digabungkan, yang jadi pemeran utama sih bukan Cinderella dan gue harus ngaku ngerasa kecewa, karena itu berarti dialog pangeran ganteng om Chris Pine ga banyak—yang harusnya gue syukurin ya, girls, karena perannya di sini jadi pangeran yang minta ampun narsisnya sampe pengen dicemplungin ke dasar sungai aja. Don’t get it? Try watch. Yang jadi pemeran utama adalah Pembuat Roti dan Istrinya, dimana dikisahkan bahwa mereka berdua ini mendamba anak. Nah, kenapa mereka nggak punya anak adalah karena suaminya dikutuk gara-gara dulu ayahnya mencuri di kebun sang penyihir. Supaya mereka bisa punya anak, mereka harus mengumpulkan tiga barang. Seekor sapi seputih susu, rambut emas, dan sepatu emasnya Cinderella. Kemudian sebagai permulaan, mereka disuruh pergi ke dalam hutan “Go into the woods!” dan penyihirnya menghilang, meninggalkan sejumlah pertanyaan di benak sang pembuat roti dan istrinya.

Karena ini film musikal, hampir sepanjang film, kita akan disuguhin sama kemampuan vokal para aktor dan aktrisnya. Menurut gue yang biasa-biasa ini sih suara mereka cukup bagus, especially buat Anna Kendrick si Cinderella. Kemampuan vokalnya udah nggak diraguin lagi ya, terbukti main di Pitch Perfect (yang lanjutannya akan keluar tahun ini. Yeay!). Untuk om Chris Pine, my favorite actor, dia juga lumayan suaranya, enak didenger. Tapi gue salut sama yang jadi Red Riding Hood. Keren banget kemampuan nyanyinya.

Awal nonton, gue sama sekali nggak menyangka kalau film ini akan sangat dark. Lo pada mungkin bingung. Hah? Fairy tale dark (kebolak) dark fairy tale? Hell what? Serius. Nggak cuma gambarnya yang gloomy ala mau hujan gitu aja, tapi ceritanya juga lebih kelam dari yang lo bayangkan. Apa lo pernah baca cerita yang nyeritain bahwa supaya kaki saudara tiri Cinderella muat di sepatu kaca, ibu mereka tega memotong tumit dan jemari anak-anaknya? (Oke, emang ga masuk akal. Sekali lagi, mitologi dan fantasi mana ada yang masuk akal). Atau… apa lo pernah menyangka kalau si pangerannya Cinderella itu sempet serong sama istrinya pembuat roti padahal ntu istri udah punya anak? Lalu, apa lo tau kalau penyihir yang mengutuk pembuat roti dan istrinya itu punya anak Rapunzel dan nggak rela waktu Rapunzel jatuh cinta sama another prince dan dengan kekuatan sihirnya, ia menumbuhkan semak berduri yang membuat kuda si pangeran itu menjatuhkan tuannya ke semak-semak dan membuat matanya buta?

Tutup mulut kalian, hati-hati rahangnya pada jatuh.

Well, gue pernah baca. Paling nggak yang terakhir itu. Another prince matanya buta. Gue lupa dimana bacanya, tapi karena dongeng-dongeng ini karangan Grimm bersaudara, kemungkinan buku cerita yang gue baca itu bukunya si Grimm itu. Gue ngeh pernah baca cerita Rapunzel itu ya waktu si pangeran itu buta, denger Rapunzel nangis, kemudian Rapunzel nangis lagi waktu liat pangeran tercintanya buta, dan blasss! dengan kekuatan air matanya yang entah kenapa bisa masuk ke dalam perban (eh, udah nggak diperban deh matanya) matanya si pangeran yang terpejam, kebutaan sang pangeran pun sirna, folks! Dia bisa melihat lagi.

Luar biasa sekali air mata Rapunzel. Bisa kalik dipakai buat ngobatin katarak.

Jadi kalau mau nonton ini sama adik-adik kalian yang SD atau SMP (dan gue cuman ketawa sarkatis—heck, gue aja baca buku Grimm itu waktu kapan sih, SD/SMP kalik!) sebaiknya dampingi mereka. Kasih tau mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang completely fantasy dan mana yang nggak mungkin jadi kenyataan. Misalnya, si pangeran Cinderella (yup, om Chris Pine~) yang nyanyi-nyanyi sambil dengan lincahnya melompat kian-kemari di atas batu sungai dan nggak kepeleset sambil nyanyi apa sih itu… seriosa apa ya? dan tolong, jangan semangati mereka buat nyemplungin para pangeran yang lagi galau cinta itu. Mereka emang aneh, bilang itu ke adik-adik kecil lo. Takutnya, kalau ada temen cowok adek lo lagi nyanyi seriosa, malah dicemplungin ke got yang bau.

Terus, akhirnya, gue suka film ini nggak ya.

Yep, definitely. Despite the fact kalau film ini lebai (karena ini fantasi), dark (karena aslinya dari Grimm seperti itu), dan mungkin ratingnya masuk PG atau sister/brother guide, gue menikmati alur ceritanya. Gue suka—meskipun agak ngantuk juga nontonya, malem-malem sih—dengan ceritanya dan waktu pangeran sama Cinderella nikah, gue agak kecewa karena dipikir udah kelar filmnya. Eh, ternyata belum, guys. Konflik sebenarnya itu baru dimulai setelah pangeran dan Cinderella kawin.

Moral of the story yang gue tangkep sih, apa yang lo harapkan, itulah yang akan terjadi. Hanya saja, belum tentu harapan itu yang lo butuhkan. Belum tentu itu yang bikin hidup lo sempurna. Paling gue inget adalah wish-nya Cinderella. Dia nyanyi I wish kalau dia pengen hidupnya enak, nggak jadi pembantu kayak waktu sama ibu tiri dan saudara-saudara tirinya. Tapi pas udah ketemu pangeran? Mana tau ternyata si pangeran itu pangeran galau karena ga bisa dapetin someone yang nari sama dia tiga malam (dan setiap kabur selalu lolos), kemudian pas didapet, meh. Main serong sama ibu beranak. Coba tolong otaknya si pangeran itu ditendang, kali aja ada saraf yang putus atau konslet.

Maaf, mestinya udah paragraf penutup, tapi gue masih berceloteh.

Intinya adalah, kalau lo nanya gue, gue akan rekomendasi film ini. Just BEWARE. I ALREADY WARNED YOU. YOU’VE BEEN WARNED.

Sampai jumpa!

PS: Gue belum pernah nambahin PS sebelumnya, but well, gue baru inget. Gembar-gembor film ini adalah karena ada Johnny Deep juga—selain karena ada Meryl Streep sebagai penyihir. Tapi jangan berharap banyak sama porsi kemunculan om Johnny Deep. Lo bakal kecewa. Itu aja.

Sampai jumpa lagi!

*berharap semua yang gue pikir udah gue tulis*

@DEENAmond

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s