MY REVIEW ABOUT HELIX SERIES SEASON 2 [2015]

CASTS

Series cast summary:
Billy Campbell Billy Campbell
 Dr. Alan Farragut (23 episodes, 2014-2015)
Kyra Zagorsky Kyra Zagorsky
 Dr. Julia Walker (23 episodes, 2014-2015)
Mark Ghanimé Mark Ghanimé
 Major Sergio Balleseros (23 episodes, 2014-2015)
Jordan Hayes Jordan Hayes
 Dr. Sarah Jordan (23 episodes, 2014-2015)
Neil Napier Neil Napier
 Dr. Peter Farragut (23 episodes, 2014-2015)
Hiroyuki Sanada Hiroyuki Sanada
 Dr. Hiroshi Hatake (15 episodes, 2014-2015)
Meegwun Fairbrother Meegwun Fairbrother
 Daniel Aerov / … (15 episodes, 2014-2015)
Matt Long Matt Long
 Dr. Kyle Sommer (10 episodes, 2015)
Alison Louder Alison Louder
 Sister Amy (10 episodes, 2015)
Severn Thompson Severn Thompson
 Sister Anne (10 episodes, 2015)

SERIES DOWNLOAD: PSARIPS (Season 2) | INDOWEBSTER (Season 1) (Season 2)

Should I put another introduction for the beginning?

Gue rasa nggak, jadi lanjut aja. Oke, jadi gue adalah orang yang sangat mudah bengong dan mudah berkhayal. Biasanya gue berkhayal tentang film/serial/drama yang gue pernah atau sedang tonton. Bengong dikit aja, pikiran gue langsung melanglang buana entah kemana. Salah satunya sore ini. gue selesai menonton Helix season 2 dan pas ke toilet, pikiran gue melayang.

Gimana kalau gue lagi di toilet mendadak ada zombi datang? Gedor-gedor pintu dan kalau gue buka pintu, then I died. Gue liat kaca, tapi itu terlalu tebal dan hampir nggak mungkin dipecahin dengan botol sampo atau kondisioner kosong. Apalagi sabun batang. Terus gue menengadahkan kepala ke atas dan ngeliat satu triplek yang bisa didorong terbuka. Oke, gue bisa kabur lewat situ, tapi gimana caranya? Tinggi atapnya hampir berapa sih, tiga meter kali, dan gue naiknya pake apa? Nggak ada bangku tinggi dan satu-satunya benda yang bisa gue naikin mungkin wastafel atau apa sih yang di belakang dudukan toilet itu? Pokoknya dua benda itu mungkin bisa gue naikin, tapi buat naik ampe ke atas triplek yang gue maksud? Ga bisa.

Freaking cult team leader

Jadi kalo gue terjebak dalam sebuah epidemik zombi dan terperangkap di toilet, kemungkinannya ada dua. Gue diem dan zombinya nggak nemuin gue karena pintunya gue kunci. Kedua, zombinya ngotot dan dorong pintu sampe jebol dan gue game over.

 Oke, silakan laughing out loud. Itu juga sebabnya gue selalu keluar dan membawa ponsel gue fully charged. Gue punya ketakutan nggak jelas, di luar sana mendadak terjadi apocalypse/epidemik zombi/bencana alam dan gue ga mau berakhir konyol karena gue ga bisa manggil bantuan gara-gara batere abis. Yah, kalo ada kejadian buruk kayak bencana alam, sinyal juga ga bisa diandelin ya. Especially we’re living in Indonesia yang sinyalnya oh-Tuhan-tolong-dong. Tapi seenggaknya gue udah jaga-jaga.

Anyway, review kali ini adalah Helix. Nah, sebelum kalian pada protes, yang gue tonton ini adalah season 2. Gue sama sekali—oke, bukan itu—ga punya ide bakal kayak apa ceritanya, kecuali dari yang udah ditampilin di preview setiap episode. Itu juga kalau previewnya yang dari season sebelumnya. Kalau nggak? Yah, gue clueless nontonnya. Pas episode pertama aja sebenernya gue bingung, ini siapa, kenapa bisa ada semacem T-virus (oh, hi, Resident Evil!) dan matanya bisa warna silver gitu, kenapa bisa ada yang immortal, all the questions like that. Tapi ya gue lanjut nonton aja. Soalnya gue tertarik sama tema serialnya.

Suka nonton The Walking Dead? Gue juga, let’s high five! If you search Helix on IMDB, you’ll also see the series as recomended series as well The Strain. Meski ga nonton ampe, yah, udah season berapa sekarang?—oh, 5—dan gue masih berkutat di season pertama men! Inilah akibat ketidakkonsistenan nonton. Semuanya ditonton dan suka ada yang main ditinggalin, ga dilanjut nonton. Tapi ya sudahlah, mari kita teruskan.

Dokter ganteeng~

Helix di season kedua ini melanjutkan season pertama. Ok, rolling eyes now. Iya lah, lanjutin season satu! Masa lanjutin season lima?! Kalian semua mungkin berteriak gitu. Ok, hold all those protests dan biarkan gue lanjutin ceritanya. Dari preview yang gue tonton di episode satu dan dua, sepertinya ada semacem pandemik zombi di Artik dan ada ledakan, ada yang kena virusnya dan apa sih itu TMX-7 dan TMX-1 semacem itu?

Iya, gue payah. Go on, di episode 2 ditampilin CDC lagi menyelidiki sebuah kapal yang penumpangnya mati semua. Oh, gue harus cerita tentang kondisi para korbannya? Oke. Kondisi mereka buruk. There, I said it. Puaskah kalian? Nggak. Oke, gue lanjut. Hmm, gue merasa bahkan kondisi zombi di film Resident Evil nggak ada apa-apanya dibanding ini. maksud gue sebelum korban di film tersebut bagian mutasi. They just hungry of blood and chasing innocent living people. Di sini? Penampilan korbannya menjijikkan. Tubuh mereka dipenuhi—ok, hold your spoon if you’re eating now—benjolan kekuningan. Dan ada semacem… apa ya, benjolan juga tapi keluar dari mulut mereka. Benjolan yang besar dan kekuningan juga. Kalau mereka ditusuk, yang keluar bukan darah. Tapi cairan kekuningan juga.

Hold up. Chasing for the toilet now.

Nah, tiga orang CDC ini menemukan satu korban selamat yang nggak terinfeksi. Dia sembunyi di ruang mesin, jadi nggak ketahuan sama para zombi ini. Pas denger cerita dari korban ini, tim CDC ini mutusin pergi ke pulau dimana kemungkinan virusnya berasal. Pulau St. Germain.

Lanjutin?

Haruskah?

Nggak ah, tonton aja sendiri.

The CDCs!!!

Jadi, selagi gue nonton serial ini, baru dua episode dan gue mikir. KAMBING KELINCI KELEDAI… setiap kali episodenya berakhir. Masalahnya, gue digantung. Karena, clearly, ini bukan tipe serial yang satu episode trus masalahnya selesai gitu aja. Nggak! Satu masalah ada, kemudian masalah lain muncul, lalu ada misteri, dan puf! digantung tiap episode. Bikin frustasi yang nonton—gue.

Udah gitu, ini tiper serial yang bikin bingung kita mau berada di pihak mana. Kalo biasa nonton drama, biasanya jelas, who’s the protagonists one (usually the main lead—male or female or both), who’s the antagonist, dan seterusnya. Pokoknya apa yang dipelajari di bahasa Indonesia bagian karya sastra pasti langsung ketahuan. Tapi kalau nonton film beginian?

Lo bingung sebingung-bingungnya mau di tempat siapa.

Di satu sisi, lo ngerasa CDC pasti benar. Mereka main cast, alesan ada di pulau jelas, mau ambil sampel virus. Kalau ada konflik yang berhubungan sama biologis dan semacemnya, mereka bisa kasih alesan logis, meski ga manusiawi. Tapi lo ga bisa nyalahin orang yang ada di pulau itu salah juga. Bayangin lo udah hidup tenang, tiba-tiba dunia damai itu berubah pas ada orang asing ke tempat lo. Keluarga lo jadi zombi. Kalo lo nyari cara buat ngusir mereka, well, lo ga bisa nyalahin mereka juga.

Kemudian ada lagi, semacem korporasi. Gue lupa namanya apa dan nggak lagi megang film. 6 huruf. Huruf A-nya ada 2. Mereka bikin senjata biologis dengan alesan mau mengurangi populasi manusia. Hati kecil lo pasti ngerasa, itu wajar. Meski gue yakin ada sisi kemanusiaan lo yang bilang itu nggak boleh dilakukan.

Nah.

Bingung.

Dan sialnya, gue suka serial ini.

Yeah dan kalian kembali rolling eyes. Not such a news. Tapi kan gue emang keren (muji diri) dan pilihan gue selalu hiburan yang menyenangkan (atau bikin frustasi tiap nonton). Setiap gue milih tontonan, hampir selalu menyenangkan. Trus apa itu salah gue? Lo mau nyalahin orang yang menyenangkan ini?

Gue mengakui, as a weirdo, gue seneng tontonan yang anti-mainstream. Di saat temen gue menggemari kisah jatuh cinta, gue suka sama fiksi, science-fiction, horor, dan ini. Zombi. Untungnya gue juga punya beberapa temen yang tontonannya sejenis sama gue, jadi bisa sharing tontonan, meski tetep, yang paling up-to-date adalah gue. Sesekali gue demen sama drama, especially drama Korea dengan alasan, menjaga otak gue tetep waras dan bukannya mengubah gue jadi semacem psycho aneh dengan gergaji listrik di tangan. Atau delusional yang percaya diri bisa nemuin vaksin buat ebola dan ternyata malah nemuin senjata biologis terbaru dan mengubah human race jadi sekumpulan zombi haus darah.

Anyway, masih banyak pertanyaan gue yang belum terjawab karena gue belum nonton season pertamanya. Jadi gue harus menontonnya sebelum otak gue meledak saking bingungnya. Tapi masalahnya, di forum biasa gue donlot, gue nggak menemukan video yang ukurannya 720p dan WEB-DL. Karena laptop yang biasa dipake nonton adalah laptop keren, jadi kerasa banget bedanya kalo nonton dengan ukuran gambar 480p HDTV dengan 720p WEB-DL dan mata gue pedih liat bedanya. Oke, ini lebai, tapi serius, nggak enak aja nontonnya. Jadi gue lebih kepengen nunggu ada yang upload versi yang gue pengen daripada ga sabar dan mata gue jadi korban.

Bukan korban apa-apa sih, kan nggak enak aja nontonnya. Ga nikmat kalo ga bening.

Padahal gue nonton, bukan makan ya.

Jangan-jangan gue pengidap sinestesia?

Apa itu?

That is, my friend, is a clue for the next review.

Bye!

@DEENAmond

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s