MY REVIEW ABOUT HELIX SEASON 1 [2014]

Kalau sebelumnya gue bikin review season kedua Helix, kali ini gue bikin review yang sisen pertamanya. Memang menyenangkan nonton serial dari awalnya. Kenapa bisa begini, kenapa bisa begitu, ladadi ladida~

Apa sih gue…

Maaf, hidup gue lagi dipenuhi drama. Denial, tipuan, gitu-gitu. Kalo kata orang yang positive thinking-ers mah justru itu enaknya hidup. You cannot guess people personalities just like that. Oh tak bisa~ *sambil goyang-goyangin telunjuk* padahal please, tanpa mereka bikin drama murahan pun, hidup gue udah cukup banyak drama.

Contohnya, lo pernah kepengen mati?

Gue pernah. Dan mengerikannya, dari kecil gue kepikiran ini. Maksud gue, gue selalu penasaran, bakal kayak gimana sih alam kubur dan akhirat itu? Selain itu gue ngerasa, hidup suka nggak cocok sama gue. Gue ngeliat kalo semakin tua dan semakin lama orang hidup, semakin sok tahu dan sok berpengalaman orang tersebut. Ga usah jauh-jauh, gue udah kerasa kayak gitu. Hell, gue udah sering merasa besar kepala karena ada hal yang gue tahu dan anak kecil ga tahu itu. Belum. Astagfirullah… padahal seiring berjalannya waktu yang dia jalani di dunia juga, dia bakal tahu itu. Apa lagi ya? Oh, makanya gue nargetin (waktu mati aja ditargetin, duh, semenyedihkan itukah hidup gue?!) kalau Allah mengizinkan, tolong banget paling telat gue meninggal pas umur 40, jangan lebih dari itu.

Selain karena gue ga mampu membayangkan diri gue kepala lima, gue nggak sanggup ngebayangin diri gue jadi nenek-nenek nyebelin tukang nyinyir kurang kerjaan. BUKAN GUE BANGET! Semoga Allah mengabulkan permintaan gue.

Amin.

Oke, sebelum lo pada protes, kali ini gue akan menceritakan garis besar konflik yang ada di sisen satu Helix. Jadi, pada suatu hari yang cerah, tim CDC yang terdiri dari dr. Alan Farragut, dr. Julia Walker, dan dr. Sarah Jordan diminta ke Antartika ditemani sama Major Sergio Balleseros—duh, tolong deh nama keluarga susah banget [protes bae lo!] sama dr. Doreen Bolyn buat menyelidiki virus yang ada di sebuah fasilitas penelitian milik dr. Hiroshi Hatake yang kemungkinan bisa jadi wabah penyakit.

Awalnya dr. Alan heran, ada banyak dokter yang hebat di CDC. Kenapa dia yang dipilih buat menyelidiki fasilitas penelitan itu. Si Major Balleseros bilang kalau salah satu pasien yang kena penyakitnya itu adalah kakaknya sendiri, dr. Peter Farragut. Sehingga tentu saja dong Alan yang penasaran pergi ke tempat itu. Dia mikir, kok bisa sih kakaknya yang udah lama ilang kontak abis ketauan tidur bareng istrinya sendiri (dan sekarang jadi mantan istri), Julia, bisa ikut proyek yang ada di Antartika dan tertular penyakit.

dr. Peter Farragut saat terkena virus Narvik

Kalau latar di sisen dua adalah sebuah pulau dengan nama santo, maka latar di sisen pertamanya ini adalah di Antartika. Obviously. Serial macam begini ngeselinnya adalah kalau dia virus, maka kita bakal digantung setiap episodenya dan cuman bisa bilang KAMBING KELINCI KUCING selama proses pencarian  antiviralnya. Kan kesel. Mana konfliknya juga ada yah, you know, semacem politik perusahaan, terus tetiba apaan tuh muncul ILARIA, terus ada immortal dengan mata abu-abu yang keren banget—duh, gue pengen punya iris mata begitu!—dan ternyata zombinya juga bisa mikir! Oh, Tuhan, ini serial makin kompleks aja ya.

Kemudian jangan lupakan pengkhianatan.

Gue spoiler ga ya? Lagipula serial ini kan udah tayang lamaaa~ banget. Oke deh! Jadi, lo inget di atas gue sebutin ada orang militernya yang namanya susah diucapin? Baselleros. Nah, ternyata dia ini ke Antartika nggak cuman ngekor doang dan nemenin CDC melakukan tugasnya. Tapi, dia punya urusan sama ILARIA daaaan~~ yah, begitu deh. Dia membunuh cukup banyak orang di fasilitas penelitian tersebut.

Apa cerita gue kepanjangan? Jadi intinya sih gue suka serial ini karena temanya biologis banget. Zombi dari virus… dan mengutip kata temen gue, epidemi zombi itu hal paling mungkin terjadi di dunia nyata. Bener kan? Di alam luas aja kita (oke, mungkin gue doang) pernah liat pertunjukan semut jadi zombi karena dihinggapin sama semacem jamur…? Iya ngga—oke, gue meng-Googling dulu…

Iyap (damn, ingatan gue keren banget, ya nggak sih gais?!). Semutnya berubah menjadi zombi karena jamur yang bernama Ophiocordyceps unliateralis yang karena ada spora di dalam jamurnya itu tingkah laku si semut jadi aneh dan bla bla bla. You got my point. Jadi maksud gue adalah, kalau semut aja bisa jadi zombi karena jamur, then how about human being? Pasti ada deh, semacem ilmuwan iseng bin gila yang penasaran, bisa nggak sih bikin anti-segala-virus? Kemudian pas diujicoba sama binatang, eh bisa! Pas dicoba ke manusia…

Eh, jadi zombi.

Jadi buat lo para penggemar zombi, coba deh menu terbarunya SYFY Original Series (tulisan ini selalu muncul). Kali aja abis itu lo jadi mikir, what am I gonna do when zombies epidemic happen?

Till next time!

@DEENAmond

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s