MY REVIEW ABOUT STOLEN SONGBIRD BY DANIELLE L. JENSEN

Judul Asli: STOLEN SONGBIRD

Judul Terjemahan: Negeri Troll yang Hilang

Pengarang: Danielle L. Jensen

Tebal: 493 hal (Paperback)

Diterbitkan pertama kali: November 2014

Penerbit: Fantasious

Bahasa: Indonesia (Terjemahan)

Seri: The MaledictionTrilogy #1

Kepemilikan: Punya Sendiri (hadiah giveaway dari @bungaoktober_)

Web Goodreads

Apa troll merasakan hal yang sama dengan manusia? Apa troll mengenal kesedihan, kemarahan, atau kebahagiaan? Bisakah troll mencintai troll lain? Atau apakah batin mereka sedingin batu yang mengubur mereka di bawahnya?

Cécile de Troyes mengira masa depannya ada di panggung-panggung megah di Trianon. Ia yakin kariernya sebagai penyanyi bersuara merdu akan cemerlang begitu ia meninggalkan Goshawk’s Hollow. Namun, hal tak terduga menyergapnya, menyeretnya ke sebuah negeri yang selama ini hanya pernah didengarnya dari dongeng lama. Tak ada mimpi seburuk membuka mata dan menyadari bahwa ia diculik ke sebuah kota yang terkubur di bawah reruntuhan gunung. Kota yang dipenuhi oleh makhluk… troll. Kaum troll mengira Cécile bisa menjadi salah satu kunci melenyapkan kutukan penyihir yang melingkupi Kota Trollus selama lima abad. Kutukan yang membuat mereka tak mampu keluar dari kungkungan Gunung Terlupakan. Kutukan yang membuatnya terikat dengan pangeran troll angkuh bernama Tristan. Ia pikir hidupnya lebih baik berakhir, sampai ketika ia mulai menyadari rahasia-rahasia terselubung yang ada di kota itu. Ia sadar, jika ia melibatkan diri lebih jauh dengan segala intrik kaum troll, semua tak akan pernah sama lagi. Namun, terkadang, harus ada yang melakukan hal yang tak terbayangkan. Mampukah Cécile bertahan dan menguak rahasia negeri troll? Kau pikir kau sudah tahu tentang kaum troll? Tunggu sampai kau menyelesaikan petualangan ini.

Coba, gimana rasanya sih habis menang giveawayterus dapet novel yang menarik? Pasti seneng banget—atau mungkin itu gue aja. Apalagi kalau kemudian begitu selesai membaca—atau paling nggak pas udah di pertengahan cerita, dirimu terkagum-kagum pada karakter di novelnya atau alur ceritanya yang bikin gemes. Pasti ngerasa, wah, nggak sia-sia nih udah disuruh buat menulis cerita romantis-fantasi sebanyak 1.000-3.000 karakter. Kalo nggak penasaran sama bukunya, pasti nggak akan tertarik ikutan deh.

*kemudian malu sendiri liat pengumuman pemenang di sini*

TERIMA KASIH BANYAK KAK WADAHTULJANNAH ATAS HADIAHNYAA!!!! *melambai-lambai ke kamera* *mana* *tabur konfeti*

Oke, jadi, sekali lagi buku yang aku baca ini adalah hasil dari blogwalking para member BBI yang dalam acara hari kelahiran BBI mengadakan sebuah acara yang menarik. Enter Magical Realm. Kemaren kan aku baca buku Uglies yang temanya distopia. Nah, kali ini aku akan membahas buku yang sekarang juga jadi favoritku, berjudul Stolen Songbird.

Novel ini mengisahkan tentang Cécile de Troyes, warga sebuah pulau Goshawk’s Hollows, yang sepulangnya dari kegiatan latihan menyanyinya diculik oleh Luc untuk dijadikan pengantin Troll. Yap, trolls does exists. Cécile ketakutan, namun Luc terus membawanya memasuki gua, melewati sluag—sejenis siput berpenyengat, dan menyerahkan dirinya pada Marc. Troll yang tidak pernah dikiranya ada. Marc adalah troll yang cukup tampan, kalau wajahnya dilihat dari samping. Kalau dari depan, rasanya seperti separuh dua wajah yang dijadikan satu. Bayangkan sisi kiri wajah Siwon dan sisi kanan wajah Kyuhyun. Kalau aku sih membayangkannya seperti itu untuk menyadari seperti apa wajah Marc. Tampan, namun tidak wajar.

“I think it is our nature to believe evil always has an ugly face,” he said, ignoring my question. “Beauty is supposed to be good and kind, and to discover it otherwise is like a betrayal of trust. A violation of the nature of things.”

Cécile dibawa Marc menuju Istana Kerajaan Trollus, nama negeri Troll tersebut. Di sana ia bertemu dengan raja troll gendut, Thibault dan istrinya yang kembar siam. Melihat sosok-sosok troll disekelilingnya, Cécile ketakutan bakal seperti apa wajah calon suaminya. Mana si ratu juga dengan entengnya bilang dirinya nanti mengandung anak-anak troll. Kan agak ngeri gimana gitu… ketika Cécile bertemu dengan sang pangeran mahkota, ia terpana.

Pangeran mahkota troll itu sama sekali tidak seperti bayangannya.

Tristan de Montigny adalah troll yang tampan. Udah itu aja, kalau penasaran seganteng apa Tristan, silakan baca saja bukunya. Namun meski tampan gitu, Tristan menyebalkan. Arogan. Kasar. Cécile kesal sekali dan nggak mau nikah sama dia. Tapi dia diancam, karena sudah sampai di negeri Trollus, dia nggak bisa keluar dari tempat itu. Seiring berjalannya waktu, Cécile mengetahui bahwa bangsa Troll dikutuk tidak bisa keluar dari balik timbunan gunung. Setiap hari gelap dan penerangan yang ada merupakan cahaya sihir yang dikeluarkan para troll. Di negeri ini, selain menggunakan sistem kerajaan, ternyata ada sistem kastanya juga, dimana Troll berdarah murni adalah tingkat paling tinggi, kemudian darah campuran Troll-manusia, dan manusia. Manusia bener-bener nggak dianggap dan pertunangan Cécile dengan Tristan nggak lain dan nggak bukan adalah untuk melepaskan kutukan tersebut. Pernikahan troll-manusia merupakan hal yang tidak pantas di Trollus, namun raja Thibault yang tiran, tetap mengikat ahli warisnya dengan Cécile karena ramalan tentang kutukan tersebut.

“Eyes of blue and hair of fire

Are the keys to your desire.

Angel’s voice and will of steel

Shall force the dark witch to kneel.

Death to bind and bind to break

Sun and moon for all our sake.

Prince of night, daughter of day,

Bound as one the witch they’ll slay.

Same hour they their first breath drew,

On her last, the witch will rue.

Join the two named in this verse

And see the end of the curse.”

Sebelum mendapatkan bukunya, terlebih dahulu aku membaca review dari para blogger yang sudah membacanya lebih dahulu. Sebenarnya aku pernah melihat novel ini. Di Detos kalau nggak salah. Saat itu aku nggak tertarik karena judulnya. Stolen Songbird yang entah kenapa di kepalaku sejenis dengan novel yang berjudul The Girl Who Kicked Hornet’s Nest. Padahal nggak nyambung sama sekali. Sinopsisnya juga baru baca setelah baca review ini. Untung saja aku menang giveaway, kalau nggak, aku terpaksa harus membeli sendiri saking penasarannya, padahal uangku sudah habis untuk bulan ini *kembali curhat*

Dari review, karena novelnya masih belum dikirim, aku pun mengunduh epub novelnya. Yup, saking penasarannya, kayak gimana sih si Tristan ini. Kemudian aku tidak menyesal. Meski aku men-skip skip beberapa lembar pertamanya, karena aku kurang suka membaca kalau belum begitu tertarik dan yang membuatku tertarik membaca adalah karena Tristan, jadi aku pun membaca kalau ada nama Tristan aja. HAHAHAHAHA… teknik baca skimming ini akhirnya membuatku terpesona pada Tristan dan nggak sabar mendapatkan bukunya sampai meneror mbak Wardahtuljannah di twitter.

Begitu dapat, nggak pake lama langsung dibaca—karena segelnya juga udah lepas. Nggak apa-apa, yang penting masih bagus.

Dan langsung ngebut baca seharian. Yup. Dapet bukunya jam 12 siang dan tutup bukunya jam 12 malam.

Hebat kan?

*terus aja muji diri sendiri*

Aku bisa suka sama suatu buku, pertama tentunya karena pemeran prianya harus ganteng! Nggak bisa dipungkiri kalau aku gampang jatuh cinta. Gampang banget. Tapi sekalinya jatuh cinta, susah move on. Um, ini buat para pemeran cowok di buku ya. Di kehidupan nyata mah nggak seberuntung ini. Maksudnya, aku tahu aku suka karakter ini adalah karena tindakan karakter dan kata-katanya menggugah hatiku (ceileh…). Kalau aku jatuh cinta sama satu karakter cowok, maka aku bisa merasakannya. Apa ya, misalnya lagi baca satu adegan, aku akan semacem ikut terhanyut dengan perasaan si karakter cewek yang mulai jatuh cinta sama si karakter cowok—oke, gampangnya aku menganggap Cécile itu aku deh. Karena novelnya juga menggunakan sudut pandang orang pertama, Cécile. Ada sudut pandang Tristan juga—tapi nggak banyak. Kemudian kalau Tristan udah mulai menunjukkan ketertarikan dan pas udah mendekati akhir cerita dimana Tristan udah berani deket-deket Cécile, aku juga ikutan nggak karuan, seakan-akan perutku dikerumuni jutaan kupu-kupu. Oke~ deskripsi yang agak aneh, tapi seperti itulah.

Tema yang diangkat oleh novel ini, tentang troll merupakan salah satu hal yang kusukai. Maksudnya, selama ini kan semacem digambarin kalau troll itu jelek—seperti bayangan Cécile pada mulanya. Kalau terlalu banyak nonton The Hobbit, ingatnya troll gunung yang hobi makan manusia, buruk rupa, dan menjadi batu kalau kena matahari. Atau troll yang ada di Harry Potter yang dungunya minta ampun. Di sini nggak—meskipun kata Tristan, troll kan istilahnya manusia dan dibiarkan, biar ada jarak gitu antara kaumnya sama manusia. Ada kemungkinan kalau kaum Tristan ini sebenarnya adalah Fae, bangsa peri. Merujuk dari salah satu kalimat yang tidak terselesaikan dari Anais (titik di atas huruf i ada dua) dan fakta bahwa paman buyut Tristan adalah Raja Musim Panas dan dia yang menyelamatkan Tristan sewaktu disengat sluag adalah Ratu Musim Dingin.

*kemudian pengen cari kisah tentang Raja Musim Panas dan Ratu Musim Dingin ini. Ada dimana sih? Pernah baca lakon di Topeng Kaca, tapi karena hanya satu adegan, jadi masih belum paham*

Oh ya, aku sudah mengungkit soal Anais, tapi belum membahas soal gadis ini. Yup, selain Cécile, aku suka dengan karakter Anais ini. Awalnya dia antagonis, namun seiring berjalannya waktu, kita tahu tentang kesetiaannya berada. Ayah Anais adalah rival keluarga Montigny, namun Anais tidak seperti ayahnya. Anais semacem agen ganda gitu. Lalu aku juga menyukai karakter si troll kembar Vincent dan Victoria. Ah, kalau kalian penasaran dengan review-ku ini, kalian harus meluangkan waktu membaca novel ini.

Tristan. Oke, aku suka dia. Sangat. Dia cerdas, tampan, dan merupakan troll terkuat di Trollus. Tipikal pemeran utama cowok deh. Sikap angkuh nan menyebalkannya di awal cerita adalah akting karena… yah, dia berada di sisi yang berbeda dengan ayahnya dan berencana melakukan sesuatu untuk menggulingkan tiran ayahnya. Yep! Nggak cuman menawarkan romantisme ala Romeo & Juliet atau Twilight, tapi di novel ini juga ada intrik politiknya yang terasa banget dan aku merasa gregetan banget dengan intrik ini. Tapi selain itu, aku merasa kesal karena Tristan ini, gimana ya, nggak mau berjuang demi cinta loh. Maksudnya, dia mau berantem sama Christophe karena dari sudut pandangnya, cowok ini menggoda Cécile-nya. Tapi pas Cécile sekarat, dia membiarkan saja Cécile kembali. Kenapa nggak nyuruh Christophe dan/atau ayahnya, Jerome, buat kembali ke dunia manusia dan membawa nenek Cécile yang punya kekuatan sihir? Kan bisa gitu, Cécile dibawa ke perbatasan, kemudian di perbatasan disembuhin sama neneknya, kalau benar Thibault nggak mengizinkan ada penyihir lain ada di Trollus. WHY, Tristan?! Kamu masokis banget beneran deh. Run for your love!!!

“I wish I was not who I am. I wish I had met you in different circumstances, in a place far away from here, where there was no magic, politics and deception. Somewhere where things could be different between us. I wish I was someone else. But I am what and who I am, and all the wishes in the world will not change that.”

Kalimat diatas diucapkan oleh Tristan dan gue berpikir, duh, abang, kamu kok ga bersyukur gitu sih. Tapi karena kalimat terakhirnya menerima dirinya sendiri, maka kamu kumaafkan.

Oh iya, fakta tentang pikiran Cécile dan Tristan yang terikat ini menarik loh buatku. Asyik aja dibayangkan kalau kalimat together forever bener-bener diaplikasikan. You die I die gitu. Selamanya bersama~ halah. Romeo and Juliet banget! Tapi menarik loh, waktu Tristan ternyata sadar pikiran Cécile ada dikepalanya dan dia jadi ngerasain mood berubah-ubahnya Cécile. Kira-kira kalau Tristan selingkuh beneran, kerasa ga ya pikirannya itu di kepala Cécile?

“Kaleidoskop emosi celakamu itu!” bentaknya. “Satu menit kau bahagia, menit berikutnya kau malah sedih. Kemudian marah. Lalu malu. Setiap jam aku dipaksa mengalami semua emosi yang pernah ada tanpa pernah mengetahui satu pun penyebabnya.”

Tristan, aku mem-puk puk dirimu. Kamu belum pernah nyoba masuk ke kepalaku. Kalau emosiku jaaauuhhh lebih kompleks dari Cécile. Percaya deh.

*mau banget?*

Setelah membaca dan memahami setiap kalimat di novel ini, aku merasa jenis yang diusung novel ini kurang tinggi jika ingin disebut high fantasy. Pertama, tentu saja dari nama. Nama-nama karakternya lebih terasa seperti nama Prancis dan juga cara penyebutan hormat Cécile sebagai mademoissele. Beda sama LOTR yang nama tokohnya bener kebayang kayak oh, ini peri, oh ini kurcaci. Memang sih tempatnya fiktif; seperti Trollus, Trianon, dan Goshawk’s Hollow. Tapi cara interaksi para tokohnya seakan-akan aku sedang menonton film ber-setting abad 18-an. Kuno dan pertunjukan gaun-gaun panjang mewah pake kurungan ayam. Pake korset pula! Subhanallah..

Namun pas baca terjemahannya, perasaan itu hilang digantikan dengan perasaan kayak baca novel Putri Huan Zhu, karena kalimat-kalimat para tokohnya yang sopan dan penuh hormat khas keluarga kerajaan gitu.

HAHAHAHA… iya sih, jenisnya sama-sama putri. Settingnya kan juga kerajaan ya. Terus, terus, dari terjemahannya, entah kenapa beberapa kali kurang sreg dengan kata my lord dan my lady yang nggak diterjemahkan. Kan bisa pakai tuan dan nona gitu diterjemahinnya. Iya sih, untuk beberapa adegan, mungkin agak janggal. Tapi kayaknya bisa dipakai lah itu dua kata.

Trus aku bingung sama letak-letaknya… bener kata mbak @asdewi, butuh peta buat membayangkan kayak gimana sih dunia di Stolen Songbird ini. Karena gue bingung Trianon itu dimananya Trollus, diatas kah? Karena waktu Tristan membawa Cécile ke dunia manusia kok ketemunya ke pantai ya? Jadi ngebayangin kayak dunia atas dan dunia bawah (eh, apa emang iya?) yang dipisah sama laut. Kan Trollus ketimbunnya di bawah gunung.

Terusss~~ oh ya, aku menemukan kejanggalan di halaman 64 dimana tertulis ‘dia memejamkan mata. Bulu matanya menyentuh pipi

Aneh nggak?

Menurut gue aneh waktu baca kalimat tersebut. ‘Dia’ disini kan merujuk ke Tristan, nah pertanyaannya, emang sepanjang apa bulu mata Tristan sampai bisa menyentuh pipi?

Juga di halaman 333 saat Tristan diserang sluag dan Cécile ingin kabur dari labirin, nah kemudian Cécile berpikir ‘Menggendong Tristan keluar dari sini sudah kucoret dalam daftar rencana—tubuhnya dua kali lebih besar dariku‘ dan aku diem. Mengerutkan kening. Dua kali lebih besar dari Cécile? Memang berat Cécile berapa? Kok rasanya aku membayangkan Tristan ini tubuhnya ramping dan—oke, nggak ada penjelasan tentang tinggi Tristan, tapi aku membayangkan mungkin tinggi Tristan sekitar 180 senti, karena kepala Cécile hanya sampai dadanya kalau nggak salah. Berat ideal untuk tinggi tersebut kan sekitar 75 kilo atau 80-85 deh kalau nggak salah. Terus kalau dua kali lipatnya, berat Cecile berapa? 40 kilo? Lah, lebih kurus dari tante YoonA dong…

Oke, ini sih pikiran kritisku aja (hell, yang beginian dikritisi, kalimat dosen nggak pernah diperhatiin), so feel free to correct me. DI balik beberapa pertanyaan kritisku, tersimpan rasa sayang untuk seri ini dan juga rasa nggak sabar buat melanjutkan ke buku kedua yang berjudul Hidden Huntress dan akan terbit pada tanggal 2 Juni! Bulan depan, yeaaayyy…!!! Nggak sabar menantiii~~~

Waktu baca review dari yang udah baca buku kedua ini (entah gimana ya… padahal kan belum terbit. Mungkin mereka proofreader?) banyak yang bilang kalau buku ini nggak lebih bagus dari yang pertama, ekspektasi mereka kurang gitu deh. Dan misteri tentang si penyihir yang menimbun para troll ini sudah dapat ditebak mereka, jadi sama sekali nggak kaget gitu. Tapi aku tidak peduli. Karena yang kupedulikan adalah janji Danielle L. Jensen bahwa Tristan akan leeebih sering muncul di buku kedua ini.

Dan bagiku itu cukup.

@DEENAmond

Advertisements

2 comments

  1. panjang banget @_@

    gapapa ya hadiahnya kolpri, kolpri mulus-lus-lus kok 😀
    seneng deh kalau yang dapat suka (apalagi langsung dibaca dan ga pakai ditimbun hihi)

    • Wah udah dibaca reviewku sama kak Dah 😉😉😉😉
      Penasaran banget sih kak sama Tristan, jadinya nggak kuat buat ditimbun aja 💓💓💓 dan sekarang jadi fans Tristan deh 😄😍😍

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s