MY REVIEW ABOUT THE SELECTION SERIES #1 – #3 BY KIERA CASS

Judul Asli: THE SELECTION, THE ELITE, THE ONE

Pengarang: Kiera Cass

Tebal: 336 hal, 336 hal, 323 hal

Diterbitkan pertama kali: 1 Januari 2012, 23 April 2013, 6 Mei 2014

Penerbit: HarperTeen 

Bahasa: English

Seri: The Selection #1 #2 #3

Kepemilikan: E-Book

The Selection | The Elite | The One

Single itu asyik ya. Bebas. Mau swooning sama siapa aja, nggak ada yang ngomelin.

Hahahaha…

Maaf ngelantur. Hari ini aku mau membahas novel yang lagi aku baca. Awalnya sih karena bosen, nggak ada bacaan, padahal currently reading di Goodreads ada lima buku belum kelar-kelar, semenjak selesai baca Hidden Huntress. Nah, pas lagi ngobrak-ngabrik Goodreads, ada rekomen buku-buku YA terbaru gitu. Salah satu cover yang menarik perhatianku adalah buku terbarunya Kiera Cass dari seri The Selection yang judulnya The Heir. Covernya yang eye-catchy, cewek memutar sedikit kepalanya ke belakang dan mengenakan gaun itu terlihat sangat menarik. Aku hanya baca reviewnya sekilas, karena ternyata The Heir adalah serial keempat dari The Selection ini. Nah, yang aku bahas adalah seri pertama hingga ketiga.

Kenapa cuman tiga buku aja?

Ehem. Jadi, seri ini punya dua POV ternyata. Buku satu sampe buku ketiga menggunakan POV America Singer, heroine kita di seri ini. Sementara buku keempat dan buku kelima menggunakan POV anak America, namanya Eadlyn Schreave (really! What a hard spelled name!). judul ketiga buku ini adalah The Selection, The Elite, dan The One. Semuanya sudah diterbitkan di US sana, jadi yang mau cari ebook-nya atau penasaran sama buku fisiknya, silakan~

Lalu mari kita bahas kisah America terlebih dahulu.

Di dunia seri The Selection, kita akan menjumpai latar tempat Illèa, 300 tahun dari sekarang setelah Perang Dunia Keempat. Yup, temanya distopia gitu, dimana ga ada USA dan Tiongkok, adanya American States of China, karena Perang Dunia Ketiga terjadi karena USA punya hutang ke Tiongkok, dan ga bisa bayar. Kemudian di Perang Dunia Keempat, ASC nyerang New Asia, karena nggak terima dong dikuasai sama Tiongkok. Saat perang itu muncul tokoh Gregory Illèa dan memenangkan perang, kemudian ASC berubah nama negara jadi Illèa, dan jadi negara monarki.

Oke, gue bingung sih sama sejarahnya. Tapi ya sudah, mari kita lanjut.

Negara Illèa ini, selain menganut sistem monarki (yang berarti sistem pemerintahannya adalah kerajaan) juga memakai sistem kasta di rakyatnya. Kasta Satu adalah kasta tertinggi dan dimiliki oleh anggota keluarga kerajaan dan figur keagamaan. Kasta Dua adalah selebriti (yang termasuk didalamnya atlet profesional, bintang pop, model, politisi, polisi), anggota militer, petugas pemadam kebakaran, dan penjaga. Kasta Tiga adalah para pemikir; penemu, guru, filosofis, dokter, arsitek, petugas perpustakaan, terapis, direktur film, produser musik, jaksa, dan penulis. Kasta Empat adalah bussinnessmen; kepala chef, agen real estate, pekerja pabrik, dan petani. Kasta Lima adalah seniman juga, hanya saja bayarannya ga sebanding sama yang Kasta Dua. Yang termasuk didalam Kasta Lima adalah artis panggung, musisi klasik, penyanyi, penari, fotografer, dan pemain sirkus. Kasta Enam adalah sekretaris, PRT, dan supir. Kasta Tujuh adalah pekerja kasar; pekebun, pekerja konstruksi, pengumpul sampah, pengemis, dan semacamnya. Dan yang terakhir, Kasta Delapan adalah kasta terendah, seperti pengobat, orang sakit secara mental dan fisik, orang buangan, dan pengkhianat negara.

Tokoh utama kita ini, America Singer (ayo coba tebak pekerjaannya apa?), dia Kasta Lima dan pada suatu hari yang cerah ceria membahana #kunaon di kotak pos rumah keluarganya, datang sepucuk surat dari Istana yang menyatakan bahwa anak-anak yang berusia 16-20 tahun bisa didaftarkan untuk mengikuti pemilihan calon istri Pangeran Mahkota Maxon Calix Schreave yang saat itu menginjak usia 19 tahun. Ibunya America, jelas ngebet banget supaya putrinya ikutan daftar, sementara yang disuruh malah moh. Alasannya adalah America ini punya pacar, namanya Aspen Leger dan dia Kasta Enam. Ya seperti di dunia kita saja, cewek nggak pantes nikah sama cowok yang kastanya lebih rendah. Tapi America ga peduli. She’s deeply madly in love with Aspen.

“Do you think the ability to sleep in counts as a special skill?” I asked Dad, trying to sound torn over the decision.
“Yes, list that. And don’t forget to write that you can eat an entire meal in under five minutes,” he replied. I laughed. It was true; I did tend to inhale my food.
“Oh, the both of you! Why don’t you just write down that you’re an absolute heathen!” My mother went storming from the room.” (The Selection)

Namun dengan dorongan dari Aspen, bahwa paling nggak America harus nyoba ikutan, karena yaa si America kan cantik gitu (katanya) jadi biar ga ada penyesalan di hati Aspen, kalau America ga terpilih.

Dan bisa ketebak kan gimana? America lolos jadi 35 cewek yang berhasil diundang ke Istana Kerajaan dan bisa ketemu langsung dan berinteraksi sama Pangeran Mahkota Maxon. Kehidupannya pun ga sama lagi, karena dengan statusnya sebagai salah satu cewek yang bisa masuk istana, maka kastanya pun meningkat jadi Kasta Tiga dan keluarganya dibiayai negara. Menggiurkan nggak sih girls? Jelas.

Gue suka dengan ide distopia plus romansa YA ini. Penggambaran dunianya lumayan bagus, meski sebenernya sih gue penasaran juga, kayak gimana sih kondisi 300 tahun kedepan ini setelah perang dunia 4? Apa ada negara yang hilang atau gimana… Indonesia jadi apa nih? Ga disebutin nih XD

Terus juga nama-nama karakternya unik-unik, kayak America (duh! Kenapa? Emang sih dijelasin kenapa dikasih nama America, tapi tetep aja loooh~ ga keren! Kenapa ga Destiny atau Diamond?! Kayaknya lebih keren gitu…) meski ada beberapa juga yang namanya biasa, seperti dayangnya America ada yang namanya Lucy dan Anne.

Di awal bukunya, The Selection, sih actually ga begitu menarik. Serius deh, nggak ada konfliknya selain konflik batin America (yang seriously as hell membosankan setengah hidup) dan… yah, disebutkan juga kemunculan pemberontakan yang ga setuju dengan pembagian kasta-kasta ini. Tapi lebih seringnya sih ya konflik batin America yang habis diputusin sama Aspen, terus di-PDKT-in sama Pangeran Maxon.

“I knew that, in my whole life, if I married Aspen or someone else, no one would ever make me feel this way. It wasn’t like I made his world better. It was like I was his world. It wasn’t some explosion; it wasn’t fireworks. It was a fire, burning slowly from the inside out.” (The Elite)

Novella 0.5 POV Pangeran Maxon

Maxon ini demen sama America, karena menurutnya (dari POV dia di novella The Prince) America ini menarik. Dia menganggap istana sebagai sangkar dan menghinanya shallow karena oke-oke aja milih istri dengan cara The Selection, ngumpulin 35 cewek dari beragam provinsi dan beragam kasta (sampe lima doang sih kastanya) dan diperlakukan seperti sebuah acara reality show. Cewek-cewek ini juga bakal diwawancara (kayak di Hunger Games itu) tentang hubungan mereka sama pangeran, pangeran itu gimana orangnya, ya yang begitu deh… dan gue cuman bisa mendesah.

Njir, dimana keadilan?

Masa depan macam apa itu?

Kontes Miss-apalah-itu udah ga ada dan diganti Pangeran Mencari Istri.

*ngakak*

Sama seperti Maxon, gue suka dengan tabiatnya America yang cenderung sassy girl, bukan cewek lemah lembut dan nrimo. Tipikal cewek di novel jenis distopia, America punya sisi pemberontak dan ogah dikekang peraturan yang menurutnya ga masuk akal. Makanya America ini jadi kunci adanya perubahan dalam satu sistem di negara Illèa ini. Yang ga gue suka adalah ya itu, bosenin dengerin narasinya yang ke Maxon iyaa, pas Aspen muncul jadi penjaga Istana juga dia hayoo…

Plin-plan.

“Maxon, some of those marks are on your back so they wouldn’t be on mine, and I love you for them.”
He stopped breathing for a second. “What did you say?”
I smiled. “I love you.”
“One more time, please? I just—”
I took his face in both of my hands. “Maxon Schreave, I love you. I love you.”
“And I love you, America Singer. With all that I am, I love you.” (The One)

Duh, ga suka banget tipe cewek begini. Minta diteriakin banget maunya apa. Kalau ga mau Maxon kan mending buat Kriss beneran deh. Tau sih dia takut jadi putri karena menurutnya dia bukan princess-able gitu *rolling eyes* tapi ya… apa mesti dengan deket-deket Aspen lagi?! Apa mesti dengan ciuman sama Aspen padahal udah ga ada relationship apa-apa lagi selain janji kalau Maxon ngelepas dia, America bakal kawin sama Aspen?! Mesti banget Aspen jadi ban cadangan?

Duh, mas Aspen, dimana harga dirimu?

Karena gue ga suka sama America dan Aspen, jadilah gue team Maxon. Dia ini cowok yang tegas sama pendiriannya dan memegang teguh janjinya. Dari awal dia yakin kalau America the one yang bakal jadi istrinya dan sampai akhir, yang dipilih pun adalah dia. Yah, oke, Maxon tetep kasih perhatian sama cewek-cewek lain yang masih tinggal di istana sampai Hari Pemilihan. Perhatian yang cukup… umm, lebih dan bikin America cemburu abiss. Tapi kan at least dia memegang janjinya.

Sampe dia ngeliat America sama Aspen.

HAHAHAHAHA…

Kalau bukan karena kemunculan para pemberontak menjelang Hari Pemilihan, kayaknya Maxon bakal berakhir sama Kriss. Dan meski agak kecewa, tapi gue lebih suka kalau endingnya seperti itu. Meski Kriss ga se-sassy America dan ga semenarik itu di mata Maxon, at least, Kriss juga membuat Maxon nyaman.

Dan team Merica *ngakak* bentar, nama shippernya apa sih? Maxica? Maxerica? Kayaknya lebih ear-catchy Merica deh…

*kemudian ditabok shipper Maxon-America*

Dan team Merica pun karam.

Setelah Maxon-America nikah, nah mereka punya anak nih~ ada satu epilog lain yang ga ada dibuku The One yang menceritakan tentang pesta hari lahirnya Maxon yang ke-21 dan America ngasih hadiah ke Maxon, kalau mereka punya anak. Turns out di The Heir mereka punya anak kembar, Eadlyn dan Ahren dan beberapa tahun kemudian lahir Kaden dan Osten.

Penasaran sama seri ini? Silakan cari bukunya~ ga begitu tebel sih dan ternyata Bentang Belia juga udah nerbitin The Selection, dengan cover yang menurutku… kekanak-kanakkan.

How childish… I mean, this is YA novel, not teenlit! Please!

Kayak novel Meg Cabot atau Teenlit gitu deh… kerenan versi US deh…

Sampai jumpa di buku berikutnya, The Heir!

@DEENAmond

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s