[MOVIE] MY THOUGHTS ABOUT SPIDER-MAN: HOMECOMING (2017)

mv5bnwizmwnmzjutodflmc00mmm2ltljmjatmdvjytmyngrhodayxkeyxkfqcgdeqxvynjizmda2nje-_v1_

Cast

Cast overview, first billed only:
Tom Holland Tom Holland
Michael Keaton Michael Keaton
Robert Downey Jr. Robert Downey Jr.
Marisa Tomei Marisa Tomei
Jon Favreau Jon Favreau
Gwyneth Paltrow Gwyneth Paltrow
Zendaya Zendaya
Donald Glover Donald Glover
Jacob Batalon Jacob Batalon
Laura Harrier Laura Harrier
Tony Revolori Tony Revolori
Bokeem Woodbine Bokeem Woodbine
Tyne Daly Tyne Daly
Abraham Attah Abraham Attah
Hannibal Buress Hannibal Buress

Hari ini cerah sekali…

Yap, di hari perdana penayangan film superhero Marvel terbaru, sang manusia laba-laba ini diawali dengan kegemparan luar biasa di dunia per-Kpop-an.

Loh, ini ceritain soal Spiderman atau Kpop?

Ya suka-suka yang nulis dong (kemudian digampar pembaca -___-) kidding, ini baru pemanasan kok.

Okay, kali ini Deena muncul lagi, nulis lagi di blog kesayangannya dengan judul Pemikirannya soal film Spiderman: Homecoming—seperti yang sudah tertulis di judul blog, obviously. Semalam sebelum rencana menonton film ini, Deena sudah girang bukan kepalang. Why? Karena, akhirnya… setelah setahun bekerja (umm, not really a year, but we’re not really discussing about it, rite?) akhirnya Deena kembali bisa menonton film di bioskop di hari pertama. Sebenernya sih rencananya mau nontonnya di jam pertama, tapi sebentar lagi kita akan menuju cerita yang satu itu.

Setelah film Doctor Strange (yang sayangnya tidak dibuat tulisannya di blog, alih-alih di IG, karena alasan kesibukan bekerja *rolling eyes*), bisa dibilang hampir jarang Deena menonton di bioskop di hari pertama penayangan film. Padahal sih ya apa pentingnya juga sih nonton di hari pertama? Masih ada libur akhir pekan, bukan?

Well, buat Deena, at least, menonton di hari pertama adalah salah satu kenikmatan menonton film. Alasannya adalah:

  1. Belum banyak orang yang menonton—kecuali kayak Spiderman ini yang hari pertamanya berbarengan dengan masih liburnya anak sekolah, jadi walau hari pertama, penontonnya termasuk amat sangat banyak. Deena paling enjoy nonton di tempat yang tenang, adem, kalem, dan dingin. Karena dengan begitu, Deena bakal konsen dengan film dan lebih bisa memperhatikan film, jadi bahan nulis di blog lebih variatif (bahasamu, Dee~).
  2. Harga tiket nonton yang termasuk murah. Waktu jaman-jaman kuliah, nonton di XXI yang masuk ke mall kategori ‘biasa’ cukup membayar 15k – 20k. Sekarang sih jelas naik, apalagi mall di Bekasi sekarang hampir semuanya pukul rata, baik itu CGV Blitz dan XXI dimana pada tahun 2017 ini harga tiket bioskop termurah adalah 30k (kecuali di CGV Grand Galaxy Park yang pernah mematok harga termurahnya 25k) dan yang termahalnya, ya variatif, antara 60k di libur akhir pekan. Inilah salah satu alasan Deena nggak suka nonton di akhir pekan. Ramai, karena banyak keluarga yang juga menghabiskan akhir pekan dengan menonton film—dan mostly mengajak balita yang sangat jelas mengganggu ketenangan menonton karena berisik dan bawel. Well, Deena nggak mengeluh mereka berisik dan sebagainya, karena mereka memang belum mengerti dan mungkin orangtuanya ingin mengajari anak-anaknya untuk belajar tenang ketika menonton bioskop. Tapi tetep, kalau nggak terpaksa banget, Deena lebih memilih mengalah dengan nonton di hari biasa.
  3. Biasanya, hari pertama penayangan film baru adalah hari Rabu… atau untuk beberapa film ada yang pertama ditayangkannya hari Jum’at. Pas Deena masih kerja sambilan, sulit banget mengejar nonton film hari pertama yang penayangannya hari Jum’at. Karena kerja sambilannya sangat penuh dari jam 9 sampai maghrib dan nggak bakalan konsen nonton, karena kecapekan. Hari Rabu adalah hari istimewa Deena setiap ada film baru, jadi sekarang kalau cari tambahan uang, selalu menghindari hari Rabu, supaya tetap bisa nonton di hari pertama. LOLOLOL~
  4. Karena di tablet Samsung kesayangan Deena suka dapet Gift tiket nonton CGV Blitz dan dapetnya di tiap hari Rabu setiap minggunya. LOLOLOL~ kalau dapet rejeki tiket gratis dan nonton di hari pertama, dipastikan itu adalah hari bahagia Deena.

Oke, lanjut. Di hari istimewa ini, seharusnya Deena bahagia karena liburannya diisi dengan nonton film baru. Liburan, duit masih banyak, nonton film baru. Uh, dijamin fresh deh begitu kerja lagi nanti. Tapi sayangnya, begitu bangun tidur, kebahagiaan itu langsung runtuh.

Song Joong Ki dan Song Hye Kyo dikonfirmasi akan menikah 31 Oktober 2017.

Oke, Deena nggak selebai di k-drama yang muncul backsound petir menyambar-nyambar atau langsung muncul lagu meyayat hati atau langsung air mata berlinangan bagai air laut. Nggak, nggak selebai itu. Deena cuman menghela napas.

Nope, she’s not dissapointed. Absolutelt no. Cuman semacem nggak nyangka bakal kejadian sih, karena sebelum hari ini, agensi Joong Ki sama Hye Kyo selalu aja denial. Maksudnya, why? gitu loh. Even if they do admit, kayaknya nggak ada fans yang keberatan—oke, jelas ada, tapi paling berapa orang sih. Pasti kebanyakan yang setuju, because everyone knows that they absolutely a freaking awesome perfect couple! Seperti yang pernah saya bahas di pemikiran saya soal drama yang dibintangi keduanya sebelum ini, saya sebenernya bingung! Kenapa mesti ada drama denial dari kedua agensi mereka? Jadi ketika saya denger berita soal rencana nikah Song-Song couple ini, saya nggak marah atau kecewa… but I do feel confused.

Udah, cukup sekian bahasan kisah awal sebelum nonton Spiderman: Homecoming ini. Ngeselin emang muncul topik pengalih ketika akan membahas sesuatu yang menyenangkan. Yap, bagi saya pengalaman nonton Spiderman: Homecoming adalah salah satu pengalaman yang berkesan buat saya. Lupakan soal keteledoran saya karena kurang fokus waktu beli tiket, jadinya bukan beli tiket buat jam 11 malah kebeli di jam 13. Lupakan berita k-pop yang sukses menjadi penyebab anak-anak k-pop mendeklarasikan hari Rabu, 5 Juli 2017 sebagai hari patah hati nasional. Karena saya sangat menyukai film Spiderman: Homecoming.

Film Spiderman adalah salah satu film yang membawa perasaan gado-gado buat saya. Saya menikmati rangkaian film itu ketika masih dibintangi oleh Tobey Maguire. But when he quits and the movie gone reboot and played by Andrew Garfield, I do not really feel as satisfied as when I watch Tobey’s version. Tapi ketika saya menonton Civil War, saya menikmati kameo si kecil imut Tom Holland.

Jadi ketika akhirnya Spiderman diberi porsi film sendiri, I was gone excited dan ke-excited-an itu kebawa hingga saat saya menonton hari ini. Film ini termasuk rapi alurnya. Karena ceritanya nggak lompat begitu saja ke kisah Peter Parker di jaman SMA-nya, tapi diawali dengan melanjutkan kisah Civil War saat Tony Stark merekrut si Peter ke civil war-nya sama Kapten Amerika. Menyenangkan menonton pembukaan filmnya dimana kita diajak nonton vlog si Peter (yup, ini anak gaul Amrik, nge-vlog tapi ga dikirim ke YouTube—oke, ada sih videonya, tapi ceritanya kan Peter ga cerita kalo dia Spiderman dan ikutan gabung timnya Iron Man dan sebagainya. Ngerti kan maksudnya?). Karakter Peter yang lumayan… apa ya, fanboy? itu kegambar banget di filmnya dan ini ga kegambar di film Spiderman versi Tobey maupun versi Andrew.

Ya, emang sih pas jaman dua aktor itu kan lisensi Spiderman masih belum gabung ke Marvel, jadi ga bisa nyebut tim Avengers atau tim Marvel mana pun. Tapi ya, mana seru coba temen satu dunia yang jelas-jelas di komiknya satu tim dan semacemnya itu ga ke-mention, at least nyebut namanya aja. Ya gak? Pengalaman baru ini bikin situasi nonton jadi lebih seru, terutama karena Iron Man ikutan masuk ke ceritanya—meski menyedihkan sih karena si om aktor Robert Downey Jr kemungkinan nggak main Iron Man lagi abis si Spiderman… tapi yah, future still long ahead, jadi nggak usah bahas hal yang belum pasti.

Musuh di film ini punya motivasi yang jelas. Kita bisa diajak bersimpati—dan ini yang Deena suka dari film superhero jaman sekarang. Villain dibuat semanusiawi mungkin, nggak main kucluk-kucluk benci sama si protagonis dan bikin senjata buat melawan. Nggak. Alasan karakter itu jadi antagonis itu semacem wajar dan realistis. Dimana Adrian Toomes, yang diperankan om aktor senior Michael Keaton, mendadak ga bisa kerja lagi karena kerjaannya diambil alih sama pihak pembersih sampah rongsokan alien yang dipekerjakan Tony Stark. Sejak itu Adrian Toomes jadi anti sama Tony Stark dan Avengers-nya (yang jelas sekali doi ga tau kalau tim itu lagi perang dingin) kemudian dia membuat peralatan untuk mencuri rongsokan itu, dirancang menjadi senjata lagi, dan dijual ke penjahat. Kemudian muncullah Peter ketika melihat perampok ATM menggunakan senjata yang nggak pernah dilihatnya. Ketika Peter menceritakan hal itu pada Happy, orangnya si om Tony, dia nggak langsung mendapat jawaban dan doi frustasi dan mencoba mengatasi masalah itu sendiri.

Perbedaan dari film Avengers sebelumnya adalah sejak Civil War, hampir tidak ada perang yang melibatkan warga sipil. Seperti di film ini dimana ketika terjadi kejadian yang tidak diinginkan, warga sipil tidak dikorbankan. Oke, tetap ada efek hancur berantakan, but not as damageable as people died and all. No destroying infrastructures, no smashing buildings, even Peter and Vulture’s epic battle happen in the sky.

Karakter Peter di sini memang termasuk masih labil, yang buat saya sih masih wajar. Karena kan doi diceritain masih 15 tahun (14 tahun kalau kata Tony) dimana dia masih pengin menunjukkan dirinya kalau he’s awesome, he’s great, he could do better, he’s ready to be part of Avengers team. Tapi karena masih imut-imut dan lucu… dimaafkan.

Nggak deng, karena masih muda jadi yaa… lebih gampang baginya buat berjuang jadi lebih baik, bahwa kemampuannya bukan buat ajang dia membuktikan dia lebih baik.

With a great power, comes great (ir)responsibilities… LOLOLOL~

In the end, now I’m feeling super satisfied. Oh ya, film ini ngasih dua post credit scene dimana yang pertama sih adegan si Adrian dipenjara tapi~ yang keduanya… err macem zonk. Yep, macem post credit scene Deadpool karena nggak ngasih clue soal film Marvel berikutnya. Apa kek, soal Infinity War gitu… malah diceramahin sama si Kapten -_-

So, to concluse this long post, I do recommend you guys to watch. It’s kinda worth your rupiahs—or whatever currency you use to buy the ticket—tapi saran aja, kalo ga mau kerasa nge-zonk, lupakan menunggu hingga amat sangat akhir film.

(jahat)

LOL~

Bye… until next post!

2

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s